Lagi Heboh Soal WC di Objek Wisata, Ini Kata Epidemiolog!

Foto: ngovee.com

Tentu kita sepakat jika urusan buang air dalam perjalanan wisata tidak bisa kita lupakan, karena perut mulas maupun kebelet kencing tidak bisa kita prediksi, dan jika kita tahan tentu akan menyebabkan penyakit yang bakal membuat liburan kita bakal berantakan.

Baru-baru ini Menteri Luhut Binsar Panjaitan menyarankan program untuk memperbaiki WC Umum di setiap objek wisata. Tentu ini mendapat tanggapan oleh epidemiolog Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Melansir dari Kompas, menurut Hermawan Saputra kepentingan kualitas WC di tempat wisata seharusnya sudah diperhatikan dari sebelum pandemi Covid-19 melanda.

“Dalam keadaan biasa pun WC haru higienis dan steril dari kemungkinan banyaknya bakteri penyebab penyakit,” tuturnya.

Dia tidak menampik bahwa di sejumlah tempat wisata ada fasilitas publik, termasuk WC, yang terbengkalai dan kurang terawat, sehingga memberikan kesan jorok. Menurut Hermawan, hal tersebut dapat terjadi karena terbatasnya tata kelola dalam hal pengawasan oleh pemerintah atau instansi non-pemerintahan yang mengelola tempat wisata tersebut.

Foto mediaindonesia.com

Hermawan menjelaskan bahwa tingkat pembersihan area WC tergantung dengan seberapa sering wisatawan keluar-masuk area.

“Oleh karena itu, penting (dibenahi) saat sekarang karena berkaitan dengan pandemi. Orang yang menggunakan WC di area-area umum, intensitas orang gantian keluar-masuk itu tinggi,” jelasnya. Sebagai contoh, jika tempat wisata buka selama delapan jam, maka petugas kebersihan harus ada yang siap membersihkan area WC secara rutin.

“WC komunal lebih berisiko. Maka ini memang perlu perhatian lebih dari segi kebersihan. Kemudian, boleh jadi (diperhatikan kebersihannya) karena berkaitan dengan keindahan tempat wisata,” lanjutnya.

Secara psikis, setiap orang yang berkunjung terutama menginap di suatu tempat, tentu akan memperhatikan kualitas WC-nya, sebab ruangan yang satu ini sangat mewakili kualitas kebersihan tuan rumah. Bayangkan saja dalam masa pandemi, yang mana kualitas kebersihan dan kesehatan seharusnya diperketat justru tidak diperhatikan dan terbengkalai begitu saja.