Pengamat: Pemerintah Ingin Jelaskan tentang Indonesia ke Luar dari Versi Subjektivitas Pemerintah via Sea Today

Pengamat: Pemerintah Ingin Jelaskan tentang Indonesia ke Luar dari Versi Subjektivitas Pemerintah via Sea Today
Nurzaman Mochtar Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat Periode 2018-2023

PariwisataIndonesia.id – Segenap Pimpinan Redaksi PariwisataIndonesia.id menyambut positif dan memberi apresiasi kepada Sea Today (Southeast Asia Today) yang kini, sudah sukses mengudara.

Mencermati Hari Televisi Sedunia yang diperingati setiap tanggal 21 November. World Television Day ditetapkan berdasarkan Resolusi PBB Nomor 51/205 pada 17 Desember 1996.

Baca Juga:  Satu Lagi Saluran TV Digital Hadir Warnai Jagat Pertelevisian Indonesia, Welcome Sea Today

Dikutip dari un.org, pada tanggal 21 dan 22 November 1996, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadakan Forum Televisi Dunia pertama. Dalam forum tersebut, terdapat tokoh-tokoh media terkemuka bertemu untuk membahas pentingnya televisi. Sehingga, Majelis Umum memutuskan tanggal 21 November sebagai Hari Televisi Sedunia.

Melalui televisi juga, masyarakat dapat memperoleh informasi hingga mempengaruhi opini publik, dan televisi sebagai media massa tak bisa menampik, dapat pula dijadikan sebagai simbol komunikasi dunia.

Terlebih di era digitalisasi yang kian hari semakin berkembang pesat, tak pelak lagi usaha TV kabel atau siaran TV Digital terus tumbuh dan berkembang bak jamur di musim penghujan.

Sementara, jauh ke belakang menyoroti Hari Televisi Sedunia merupakan hari untuk memperbarui komitmen pemerintah, organisasi, dan individu untuk mendukung pengembangan media televisi dalam memberikan informasi. Dengan harapan, informasi yang diberikan tidak memihak.

Di Indonesia sendiri, televisi pertama kali masuk pada tahun 1955 yang dibawa dari Uni Soviet saat Pameran Perayaan 200 tahun Kota Yogyakarta. Kemudian pada 25 Juli 1961, Menteri Penerangan Republik Indonesia, R. Maladi menandatangani perjanjian (SK Menpen) guna membuat sebuah komite untuk persiapan pembentukan stasiun televisi di Indonesia.

Selanjutnya, tak butuh berapa lama atau setahun dari itu, berhasil membuat studio, menara siaran, dan peralatan teknis lainnya di lokasi bekas Akademi Informasi di Senayan.

Adapun siaran pertama ialah liputan langsung dari perayaan HUT ke-17 Kemerdekaan Indonesia. Tanggal 17 Agustus pun dikenal sebagai kelahiran Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Berpijak dari hal tersebut, dan mencermati bisnis Telkom Group itu, redaksi PariwisataIndonesia,id mewawancarai pengamat media pertelevisian yang profilnya, selain merupakan wartawan kondang. Di sisi lain, kiprahnya di dunia televisi, juga bukan kaleng-kaleng.

Sosoknya merupakan mantan Pemimpin Redaksi TV SCTV, Indosiar, Liputan6.com dan sempat berduet bersama Karni Ilyas saat di TvOne, kala itu ia diminta untuk duduk sebagai Wakil Pemimpin Redaksi.

Pariwisata Indonesia, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Wishnutama Kusubandio, Presiden Direktur Telkom Ririek Adriansyah, Presiden Joko Widodo, Ayo Nonton Sea Today, Sea Today Anak Perusahaan Telkom, Kanal Berita SEA Today Berita Sea Today, Telkom Luncurkan Saluran Berita Sea Today, Sea Today News, Sea Today Kepanjangan Dari Southeast Asia Today, Welcome Sea Today News, Sea Today News Tayang Perdana 28 Oktober 2020, Nurzaman Mochtar, PWI Pusat, Ketua Bidang Pendidikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Berita Pariwisata Indonesia, Media PVK, kanal pariwisata indonesia favorit, situs pariwisata favorit, situs online pariwisata indonesia, pariwisata di Indonesia, situs online pariwisata indonesia terfavorit, Umi Kalsum Founder PVK dan CEO & Founder Mediak PVK, Foto: Nurzaman Mochtar Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat Periode 2018-2023, Foto Umi Kalsum Founder dan CEO PVK Group; Foto Pemilik Media PVK Group
Bincang Santai bersama Nurzaman Mochtar selaku Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat Periode 2018-2023 (Kiri), Tim Redaksi PariwisataIndonesia.id, dihadiri Founder dan CEO PVK & Founder Media PVK Group, Umi Kalsum (Kanan)

Siapa dia? Nurjaman Mochtar, ia praktisi yang dipercaya untuk menjabat sebagai Ketua Bidang Pendidikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Periode 2018-2023, dan namanya sudah tak asing lagi di kalangan wartawan.

Wartawan senior ini, juga dinobatkan sebagai Ketua Forum Pemimpin Redaksi (Forum Pemred).

Didampingi Founder dan CEO PVK Group, Umi Kalsum, PariwisataIndonesia.id diterima baik dan disambut hangat di tengah kesibukan dan padatnya jadwal Nurzaman yang sudah malang melintang di dunia pertelevisian.

Penampilan Nurzaman tak pernah berubah sedikitpun, meski rekam jejaknya sudah segudang pengalaman tetap masih rendah hati dan sikapnya selalu bersahaja.

Secara terpisah, Ketua Umum PWI, Atal Sembiring Depari menyampaikan, Nurzaman jauh lebih berkompeten dalam menjawab semua hal tersebut. Sebab, ia dari orang TV.

Hal itu disampaikan melalui Sekretaris PWI, Wina yang memastikan kepada PariwisataIndonesia.id, bahwa pihak PWI akan menyiapkan juru bicaranya secara khusus yang figurnya sangat kompeten menanggapi sikap PWI atas mengudaranya saluran tv digital baru “Sea Today”, yang digadang-gadang merupakan hasil karya anak bangsa.

Dalam mewawancarainya, mirip seperti bincang-bincang santai. Pria berzodiak Aries ini sangat mengapresiasi dan mendukung langkah Telkom Group yang berfokus pada core bisnis.

Menurutnya, strategi bisnis PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk., cermat dan cerdas dalam menangkap peluang.

Mengawali wawancaranya, Nurzaman mengaku, belum mengenal banyak kehadiran TV ini. Namun, menduga-duga “Sea Today” sepertinya akan menyasar serupa dengan platform digital berbayar mirip First Media yang ditayangkan melalui saluran Berita Satu.

Ditambahkannya, TV digital bernama “Sea Today”, jika di Amerika itu menyerupai “VOA” dan di negara Inggris “BBC”.

“Sebenarnya saya belum tahu persis sejenis apa TV ini, media apa dan seperti apa Sea Today? Konsep dari program TV digital Sea Today besar kemungkinan akan serupa VOA dan BBC,” ungkapnya kepada PariwisataIndonesia.id, di Jakarta, pada Kamis (5/11) kemarin.

Lebih lanjut, katanya, saat sekarang, pemerintah belum memiliki platform atau tidak memiliki saluran informasi dalam menyuarakan potensi-potensi yang ada di republik ini, menayangkan kesuksesan Kepala Negara selama menjabat. Mengabarkan hal-hal baik tentang Indonesia yang beritanya disiarkan ke mancanegara.

Padahal, kata Nurzaman, Pemerintah bisa saja mendorong RRI, Antara dan TVRI. Dia beranggapan, mereka sudah cukup lama di bidang tersebut, sambungnya, juga memiliki pengalaman.

“Ketiga entitas itu yang didorong. TVRI sendiri memiliki siaran digital lewat program TVRI World secara bilingual. Begitu juga RRI yang jika siaran, penyiar mereka bisa ditonton secara visual, apalagi Antara,” ujarnya.

Wawancara ini semakin mendalam, berlanjut untuk menyoroti peran ketiga lembaga tersebut yang disampaikannya, belum bersinergi.

Sambungnya, akan tiba pada waktunya nanti, semua platform digital akan mendekatkan diri dan melakukan konvergensi.

Tak cuma itu saja, Nurzaman malah menyebutkan, seandainya mereka dibiarkan untuk terus berjalan pada platform yang terpisah masing-masing, “jelas itu tidak efisien,” terangnya.

Pemerintah memiliki political will, “dengan membangun semacam holding mensinergikan tiga entitas tersebut, sayangnya momentum itu tidak digunakan,” ujarnya.

Secara umum, ia merasa, bahwa pemerintah butuh sebuah kanal untuk menjelaskan ke luar bahwa ini loh Indonesia.

“Terutama, menyiarkan hal-hal berkaitan potensi Indonesia dengan tidak membutuhkan platform pihak lain. Problemnya, platform yang khusus menjelaskan tentang Indonesia, sikap Indonesia dalam arti Indonesia subjektif versi pemerintah tidak ada,” pungkasnya.

“Sekali lagi ini hanya pengamatan saya sebagai praktisi, dan masih menduga-duga, sepertinya pemerintah tengah membutuhkan penyiaran yang menyasar untuk kalangan di luar Indonesia. Misalkan, memberitakan prestasi pemerintah yang sekarang sudah melakukan ini dan itu,” paparnya.

“Apa yang disampaikan itu, untuk menyiarkan keberhasilan yang telah dicapai Kepala Negara tentang B, C, D, dstnya. Saluran khusus menayangkan hal tersebut, itu tidak ada,” tambahnya.

Di sisi lain, tujuan peluncuran Sea Today seperti mengutip dari laman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, pada Rabu (28/10) lalu, tidak serinci dari yang disampaikan Nurzaman.

“SEA Today bisa menjadi sarana mempromosikan Indonesia (terutama) pariwisata dan ekonomi kreatifnya dengan cara yang kekinian,” jelas Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio, dikutip dari acara soft launching SEA Today di Gedung STO Telkom, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2020).

Wishnutama mengatakan, saluran televisi berita SEA Today diharapkan mampu memberitakan dan mempromosikan sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Indonesia dengan format kekinian ke masyarakat di kawasan asia tenggara dan juga dunia internasional.

“Diharapkan kanal ini dapat menjadi perpanjangan informasi mengenai potensi alam, budaya, dan ekonomi kreatif yang dapat menarik minat wisatawan hingga investor asing. Tantangannya ke depan adalah bagaimana kita mengemas materi tersebut menjadi konten menarik untuk disampaikan,” kata Wishnutama.

Merespons pernyataan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif beberapa waktu lalu, Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat memberikan tanggapan dari pertanyaan PariwisataIndonesia.id yang ditujukan kepadanya.

Apakah saluran tv digital ini sudah tepat? Nurzaman menghela nafas sejenak dan begini pandangannya…

“Bukan soal tepat atau tidak pas, juga bukan soal dibutuhkan atau tidak. Jawaban ini kembali kepada stakeholder. Siapa stakeholder Sea Today? Kementerian BUMN, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Telkom Group atau Kepala Negara? Negara terkesan membiarkan potensi “sleeping giant” bahkan oleh pemerintah malah membangun kanal sendiri,” jawabnya.

Suaranya terlihat meninggi, duduknya mulai berubah tegak, wajahnya pun tampak makin kian serius, kata Nurzaman, eranya sekarang serba digital, kuncinya bukan lagi pada konten. Sebab konten bisa belanja di mana-mana tapi bagaimana mengumpulkan crowd-nya.

Selepas mengatakan hal tersebut, Nurzaman juga beranggapan, “sekarang ini, content is the king is the past. Mengatakan konten adalah raja, itu masa lalu. Saat sekarang dan ke depan, bukan soal konten lagi tapi aggregator is king kong,” terangnya.

Wawancara yang semula dijadwalkan hanya setengah jam, saking seru dan yang dibahas makin meluas, tak terasa diskusi menjadi lebih dari satu jam.

Berlanjut pada topik selanjutnya, PariwisataIndonesia.id menanyakan, apa harapannya terhadap peluncuran ‘Sea Today’?

“Harapan? Perlukah, tetapi begini saja, saat era digital hadir dan keran tersebut dibuka luas. Maka, akan semakin banyak pemain baru hadir dan membanjiri. Berikutnya, media digital menghadapi ‘the equilibrium curve’. Lalu, apakah barang ini akan masuk ke persaingan itu? Kita belum tahu dan tak bisa menebak-nebak,” imbuhnya.

Pembicaraan tetap masih bergulat pada topik ‘peran Sea Today ke depan’, kembali diulangnya, yaitu pemerintah ingin menjelaskan tentang Indonesia ke luar dari versi subjektivitas pemerintah.

Ia mengusulkan, ketiga entitas pelat merah tadi itu saja yang seharusnya dioptimalkan.

“Kita tahu bersama, hubungan dan komunikasi ‘Lembaga Kantor Berita Nasional Antara (Antara)’ dengan dunia internasional sudah terjalin sangat bagus,” ujarnya.

“ANTARA adalah sarana yang paling tepat, didukung lagi dengan fungsi atase luar negeri yang semakin digencarkan. Diperkuat dengan peran Kedutaan besar Republik Indonesia. Semestinya, merekalah yang berperan aktif dan harus pandai menjalin diplomasi. Diminta atau tidak, seharusnya itu sudah bagian dari tugas dan tanggung jawabnya untuk menyebarkan konten-konten pemerintah ke luar,” bebernya.

Di akhir wawancara, Nurzaman menutup dengan menekankan tiga hal.

Pertama, kehadiran “Sea Today”, memberi sudut pandang tersendiri.

Kedua, tetap menyarankan agar dilakukan penggabungan pada ketiga entitas tersebut, ia juga menilai, diskusi-diskusi seperti ini sudah sempat ramai dibincangkan dan pernah mengemuka. 

Untuk yang ketiga, “langkah yang diambil pemerintah syah-syah saja, dan saya mengancungi jempol langkah strategi bisnis Telkom Group khususnya untuk menggenjot profit,” tutupnya.

× Hubungi kami