HIPMI: Paska Corona Semua Pingin Holiday, Histeris!

Pariwisata Indonesia

Ketua Bidang Ekonomi Kreatif, Pariwisata, Koperasi dan UMKM Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha muda Indonesia (BPP HIPMI), Rano Wiharta dalam rilis di Jakarta (29/04) menuturkan, masyarakat gemes menanti liburan.

Rano Wiharta
Ketua Bidang Ekonomi Kreatif, Pariwisata, Koperasi dan UMKM Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha muda Indonesia (BPP HIPMI), Rano Wiharta, tampak dalam foto baju hitam no 2 dari kiri posisi duduk bersama Ketua HIPMI, Mardani H. Maming (Tengah, Berbaju Biru).

Semua orang saat ini butuh refreshing yang menyenangkan karena lama ada di rumah dampak pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Aktivitas work from home dan social distancing maupun mengatur jarak sesama saat urgensi harus berada di dalam keramaian. Tentu membosankan. Kejadian ini luar biasa.

Kebijakan Pemerintah memang pahit tetapi untuk melindungi dan selamatkan warganya. Cara terbaik menekan penyebaran virus covid-19 diwajibkan bagi masyarakat Indonesia untuk disiplin dan melaksanakan imbauan Pemerintah.

“Ini tepat dilakukan disaat semua orang jenuh di rumah dan mengidam-idamkan untuk jalan-jalan,” sebut Rano seperti disampaikan dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (29/4/2020).

Lepas pandemi berlalu, seperti kerinduan yang luar biasa. Dan memuncak histeria ini yang jadi momentum buat dimaksimalkan pelaku industri pariwisata indonesia.

Rano mengingatkan, “Golden moment atau peluang emas ini tentunya dapat dimaksimalkan oleh pelaku industri pariwisata.”

Ia pun mengutip ucapan Presiden RI Joko Widodo, “Presiden Joko Widodo mengatakan semua pihak terutama Kemenparekraf dan jajaran dibawahnya agar bersiap diri hadapi lonjakan yang diprediksi terjadi awal 2021,” kutip Rano.

bersama menkop ukm teten masduki
Foto: Audiensi BPP HIPMI Bidang Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Koperasi dan UMKM. Tampak posisi Rano Wiharta samping kiri Menkop UKM Teten Masduki

Lebih lanjut Rano menerangkan, peran serta Kemenparekraf selaku stakeholder harus di depan dan konsistensi untuk melakukan promosi.

Rano berpendapat, “Promosi merupakan langkah tepat dan harus dilakukan cepat oleh Pemerintah Pusat mewakili dalam hal ini cq Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bekerjasama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) yang memiliki tempat-tempat wisata. Lakukan sinergi dan berdiskusi mengusung tema apa yang ditonjolkon.”

Lebih paham situasi lapangan, sudah tentu penduduk lokalnya, pasti CEO Pemerintah Daerah itu, bisa Gubernur, bisa Walikota atau Bupati dan Kepala Desa serta Tokoh adat setempat.

“Lalu bagaimana dengan pelaku industri pariwisata dalam skala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terdampak covid-19 seperti penginapan, restoran, rental mobil,” ujarnya.

Menurut Rano, pelaku industri pariwisata yang tidak lagi memiliki biaya untuk berpromosi disarankan untuk maksimalkan kekuatan media sosial.

“Untuk skala yang lebih besar, Kemenparekraf harus menggunakan peluang ini dengan baik, banyak tempat indah dan cantik di Indonesia yang belum diketahui oleh masyarakat Indonesia sendiri.” Imbau Rano.

Rano Wiharta bersama tokoh NU Almarhum KH Maimun Zubair
Rano Wiharta bersama Tokoh Besar NU Almarhum KH Maimun Zubair / Foto: Istimewa

Rano menambahkan, “Saatnya berpromosi secara masif agar Pesona alam Indonesia yang indah dan cantik dikenal luas, supaya nanti setelah wabah Covid-19, masyarakat memiliki banyak pilihan tempat tujuan di negaranya sendiri, ketimbang mereka holiday ke luar negeri, akhirnya negara lain mengambil momentum.”

Dalam konteks konten promosi, Rano mengusulkan harus juga dibuat visual yang mantap dan daya pikatnya kuat.

Lakukan promosinya secara meluas, bukan hanya dalam negeri tapi juga keluar.

Rano mengimbau Kemenparekraf dalam membuat tag line promosi Pariwisata Indonesia terlalu banyak, seperti yang Ia tahu ada ‘Wonderful Indonesia’ untuk audience luar negeri dan ‘Pesona Indonesia’ untuk publik dalam negeri.

“Belum lagi tiap daerah memiliki tag line masing-masing. Ini sangat ambigu, seperti kita bingung menentukan identitas pariwisata kita sendiri, jadi jangan heran juga jika orang luar bingung dengan identitas kita,” katanya.

Rano memberikan contoh, “Contohlah Malaysia, mereka berani buat slogan mendukung pariwisatanya, yaitu ‘Malaysia, The Trully Asia’ dengan aktris Michelle Yeoh sebagai Ambassador. Cukup satu slogan, dari dulu Malaysia selalu di atas Indonesia untuk kunjungan wisatawan mancanegara, padahal bisa dibilang bahwa kita memiliki keindahan alam jauh di atas Malaysia,” Tutup tulisnya.

Sebelumnya dalam dialog live streaming yang di unggah inspiratvID (31/03) dalam channel Youtube, Rano sempat mengusulkan di akhir jelang sesi talk show bertema  ‘Talkshow Pariwisata #DiRumahAja | NGOPREK VOL : 1″ yang ditengahi Maulidan Isbar selaku moderator.

Rano berbicara, “Apakah pihak Kemenparekraf dapat membuat kebijakan menjamin agar wisatawan lokal tidak berlibur ke luar negeri,” usul Rano.

Pastikan mereka memilih destinasi wisatanya hanya di Indonesia. Menurut sumber data yang Ia dapatkan, jumlah pengunjung pariwisata dari luar negeri dan lokal terpaut hanya 4jutaan.

Jumlah kunjungan wisatawan luar  berjumlah 14jutaan dan wisatawan lokal sebanyak 10jutaan. Pemerintah harus hadang dan buat kebijakan meneyeluruh agar masyarakat lebih memlih berlibur di negaranya sendiri.

Sektor Pariwisata Indonesia dijamin pulih lebih cepat. Tanamkan untuk lebih mencintai tanah airnya sendiri.