3 Tradisi Unik dan Menarik Umat Islam di Pekanbaru

Pariwisata Indonesia, Berinai Curi
Ilustrasi: Berinai Curi, tradisi dari Provinsi Riau satu ini terbilang cukup unik, yang dilakukan sehari atau dua hari menjelang hari pernikahan sepasang calon penganti. (Foto: Media PI/Sumber: Pixabay)

Sebagai ibu kota sekaligus kota terbesar di Provinsi Riau, Pekanbaru tetap menjaga adat istiadat asli dari masyarakat Riau.

Lantaran mayoritas warganya memeluk agama Islam dan terdapat akulturasi dengan budaya Melayu, sehingga banyak tradisi yang identik dengan kedua faktor tersebut, berikut urainnya:

1. Petang Megang

Masyarakat Pekanbaru memiliki tradisi Petang Megang untuk memanjatkan rasa syukur dan kebahagian mereka karena bertemu dengan bulan puasa tahun itu. Petang Megang memiliki istilah lain yaitu “Petang Belimau” yang artinya mandi air jeruk limau di sore hari.

Tradisi Petang Megang atau Petang Belimau ini biasanya dilakukan dalam sebuah arak-arakan warga sekitar, tokoh agama, pemimpin adat, dan pejabat daerah. Dengan iringan kesenian Kompang atau alat musik tradisional khas Melayu Riau, arak-arakan pun berjalan menuju lokasi upacara Petang Megang dilangsungkan.

Di tepi Sungai Siak, prosesi mandi “belimau” dilakukan pada 10 anak kecil dan remaja. Para tokoh agama dan pejabat daerahlah yang diberi kehormatan untuk memandikan kesepuluh anak tersebut. Campuran air dalam bak air mandi tidak hanya perasan jeruk limau, tetapi juga harum-haruman dari bunga dan daun 7 rupa.

2. Berinai Curi

Tradisi Riau yang satu ini sangat unik. Dilakukan sehari atau dua hari menjelang hari pernikahan sepasang calon pengantin, peralatan berinai (bahan pacar Cina atau Henna yang digunakan untuk melukis kuku dan punggung tangan calon mempelai wanita) harus “dicuri” (diambil secara diam-diam) dari rumah calon mempelai wanita.

Makna dari ritual ini adalah menolak bala atau malapetakan bagi sang mempelai wanita dan membuat wajahnya kian bercahaya saat hari pernikahan tiba. Pemakaian bahan inai pada punggung tangan dan kaki calon mempelai wanita sendiri tidak hanya untuk mempercantik riasan pengantin, namun juga dipercaya dapat menjauhkan pengantin dari kemalangan dan gangguan jin jahat.

3. Tepuk Tepung Tawar

Tepuk Tepung Tawar merupakan akulturasi budaya antara orang Melayu dengan agama Hindu. Pada umumnya tradisi ini diadakan pada hari istimewa, seperti pernikahan, khitanan, dan kelahiran. Prosesinya sendiri melibatkan kegiatan menaburkan beras tabur.

Isinya berupa beras kunyit dicampur beras putih basuh dan bunga tujuh rupa, seperti melati, mawar, dan bunga rampai. Maknanya adalah pemberian doa restu dan berkah untuk kelancara acara utama.

× Hubungi kami