Cagar Budaya di Kampung Wisata Tenun Samarinda (Seri-2)

Yuk berlibur dengan mengunjungi kampung wisata sambil pelestarian budaya. Berharap, tak lekang di makan zaman. Sensasinya beda banget, Sob!
pariwisata indonesia,umi kalsum founder dan CEO PVK Group,CAGAR BUDAYA DI KAMPUNG WISATA TENUN SAMARINDA,INDONESIA'S OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIAN TOURISM WEBSITE,MEDIA ONLINE PARIWISATA INDONESIA TERFAVORIT 2020,MEDIA PARIWISATA INDONESIA OFFICIAL,MEDIA PVK GROUP,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA INDONESIA,RUMAH CAGAR BUDAYA KAMPUNG TENUN SAMARINDA,SARUNG SAMARINDA,WEBSITE RESMI PARIWISATA INDONESIA
Sarung Samarinda / Dok.Disperin Kota Samarinda

PariwisataIndonesia.id – Saat sekarang, “Sarung Hatta” atau disebut sarung Balo’ Hatta, motifnya sudah semakin berkembang dan menjadi salah satu produk kriya yang populer.

Melekatnya nama Bung Hatta menarik minat banyak wisatawan untuk membeli.

Sarung Samarinda bermotif Balo’ Hatta memiliki pola garis-garis, dipadukan dengan warna merah-hitam sebagai ciri khas di sarung tersebut.

Cagar Budaya di Kampung Wisata Tenun Samarinda (Seri-1)  <<< Sebelumnya

Namun, pengrajin juga menawarkan pilihan alternatif yang tidak kalah menarik, seperti motif Ayam Pelopo, Burica dan  jenis Sarung Sutera Kembang dengan motif Balo’ Negara, Balo’ Siparape, Balo’ Sipukebalong, Balo’ Ta’bagolo, Sa’bi Pucuk, Balo’ Ma’bunga, Balo’ Bontang, Balo’ Suharto dan Balo’ Garanso.

Cagar budaya di Kampung Wisata Tenun Samarinda berjarak 8 km dari pusat kota; dan lokasi sentra produsen tenun juga masih dalam satu area yang sama, yaitu di Jalan Panglima Bendahara Samarinda.

Kemudian, baik rumah cagar budaya kampung tenun maupun sentra industri tenun, sudah difasilitasi sarana dan prasarana sebagai pendukung berwisata, salah satunya terdapat gapura di kawasan itu.

Selanjutnya, untuk menuju kawasan tersebut, ada bagusnya menggunakan kendaraan pribadi. Seandainya pergi bersama rombongan memakai bus, hanya diperbolehkan sampai di muka gapura. Lalu, harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sepanjang 500 meter.

Redaksi berhasil mewawancarai salah satu penerus yang enggan meneruskan usaha tenun khas Samarinda dari generasi sebelumnya melalui sambungan telepon, pada Selasa (8/6).

Dalam wawancaranya, identitas diri dan sejumlah nama vendor ternama di kawasan tersebut, pintanya, mohon dirahasiakan.

Untuk menayangkan artikel ini diakui redaksi memang tidak mudah, dia sangat mencemaskan identitas dirinya mudah dikenali.

Setelah diberikan penjelasan dan meyakinkannya, bahwa kisahnya menjadi hal positif yang patut dicontoh dan menginspirasi banyak orang.

Akhirnya, semua itu dapat dilewati dengan baik. Hasil wawancara pun, dibolehkan tayang dan memperoleh persetujuannya. Sebut saja namanya, Robiatul.

Robiatul adalah nama yang disamarkan untuk menjaga kode etik jurnalistik, dia menjadi salah satu potret orang tua tunggal berusia 51 tahun yang memiliki 5 orang anak dan terlihat berbeda dari pengrajin lainnya.

Banyak hal yang diceritakannya, semua itu hanya ia ungkapkan ke redaksi Pariwisata Indonesia dan belum banyak di wilayahnya memahami model usaha ini.

Terungkap dalam wawancara, apa yang ditekuni sekarang berangkat dari: kesulitan ekonomi; persoalan rumah tangga; dan menjadi penopang ekonomi keluarga. Sebagian anaknya telah berkeluarga dan sudah besar-besar.

Dari ceritanya itu, dia banting setir sejak dua tahun sebelum pandemi COVID-19. Kenang Robiatul, zaman itu, terlalu susah dan butuh waktu yang tak sebentar untuk menghasilkan sehelai sarung Samarinda.

Kini, ia lebih serius melanjutkan bisnisnya melalui online di sejumlah marketplace sebagai reseller dan dropshipper; beranggapan waktunya lebih bebas dan semakin dekat dengan keluarga.

Lewat percakapan telepon, profilnya memberikan kesan sebagai sosok wanita tangguh dan sangat penuh percaya diri, dia meyakini usahanya tak butuh banyak biaya, juga praktis serta mendatangkan uang cepat.

Bahkan sebutnya, merasa nyaman sekarang ketimbang harus meneruskan usaha keluarga yang sudah turun temurun, tradisi.

Menurutnya lagi, beberapa produk kriya yang dipasarkan banyak diminati pembeli, seperti: manik-manik, beragam bentuk tas jinjing, kalung, gelang, dompet, kopiah, Sarung Samarinda dan pakaian wanita maupun kemeja anak laki-laki dan dewasa khas Samarinda.

Produk kriya yang dijual bukan miliknya. Melainkan diperoleh dari sejumlah toko yang mempercayakan kepadanya.

Sambungnya, tidak menampik jika ada wisatawan yang berkunjung ke rumahnya tetap menyambut secara hangat dengan tangan terbuka, meskipun usaha Sarung Samarinda warisan keluarga sudah lama berhenti, katanya, itu bisa ia sulap.

Menjawab tantangan tersebut, situs PariwisataIndonesia.id sangat mendukung terciptanya Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (GERNAS BBI).

Program ini mengajak masyarakat Indonesia untuk bangga menggunakan produk lokal. Melalui kampanye GERNAS BBI, diharapkan perekonomian domestik dapat meningkat, terutama tenun khas Samarinda.

Berwisata sambil mengenal lebih dekat Sarung Samarinda, sekaligus belajar bagaimana proses menenun menjadi salah satu langkah awal untuk mengakrabkan lagi budaya tenun di Indonesia.

Mari lestarikan keberadaan Sarung Samarinda yang sudah eksis melewati berbagai zaman dan tak elok rasanya jika berkunjung ke suatu tempat kemudian tidak membawa pulang cendera mata khas dari daerah tersebut. Sebagaimana halnya berada di Samarinda.

Di akhir tulisan, redaksi mengimbau kepada semua pihak dan secara khusus Pemerintah Daerah (Pemda), untuk juga mendapat monitor dari Pemerintah Pusat agar hadir dalam mendorong salah satu cagar budaya di negeri ini, baik melalui program bantuan sosial maupun jaringan pemasaran di luar negeri.

Termasuk mengundang mereka pameran atau mendatangkan tamu secara berkala dan mewajibkan Pemda setempat untuk pakaian dinas maupun sejenisnya bisa memakai produk khas sentra industri tenun asal Samarinda.

Permintaan ini, tak terkecuali untuk semua produk kriya Indonesia apalagi bila pemerintah telah menetapkan sebagai cagar budaya, dan tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Mari kita bergandengan tangan untuk memberikan support secara bersama-sama di tengah pandemi COVID-19, diharapkan dapat mengungkit pemulihan ekonomi Indonesia.

Yuk berlibur dengan mengunjungi kampung wisata sambil pelestarian budaya dan berdoa semoga, tak lekang di makan zaman. Sensasinya beda banget, Sob! (Ims/Eh)