Menengok Sejarah Kampung Pecinan di Solo Jelang Perayaan Imlek

Pariwisata Indonesia, Perayaan Imlek
Atraksi Barongsai / Ilustrasi foto: shutterstock

“Ini mendekati Tahun Baru Imlek, penasaran dengan Kampung Pecinan yang ada di Kota Solo. Sejarahnya yang belum tahu, meskipun sudah menjadi warga Solo belasan tahun belum tahu seluk beluknya Solo sampai dalam dalam,” tuturnya.

Menurut Belva, dari kegiatan ini dia menjadi paham ada banyak andil toko-toko besar di Kampung Pecinan dalam pembangunan saat masa Raja Paku Buwono ke X dan Pura Mangkunegaran hingga menjadi Solo saat ini.

“Pengetahuan seperti ini penting untuk diketahui anak muda seperti saya untuk meneruskan pembangunan Kota Solo ke depan,” kata Ketua Forum Anak Kota Solo itu.

Kegiatan Jelajah Kampung Pecinan ini menjadi agenda tahunan komunitas, karena pada dua tahun belakang disetop karena pandemi. Baru dua bulan belakang kegiatan Soerakarta Walking Tour kembali digiatkan.

Selepas mengeksplore Pasar Gede, para peserta diajak menelusuri gang-gang sempit Kampung Sudiroprajan yang pada tahun ini tidak banyak terpasang lampion karena Imlek tahun ini di peringati secara sederhana.

Dalam catatan Solo Societeit, sejarah tentang Sudiroprajan kampung ini awalnya merupakan wilayah pasar Keraton Solo. Pada abad-18, awal masuknya etnis Tionghoa ke Solo, Pemerintah Hindia Belanda menempatkan orang Cina di kawasan belakang Pasar Gede. Lambat laun kawasan tersebut menjadi pusat perdagangan yang masih terlihat jejaknya hingga sekarang.

Sebagai kampung etnis Tionghoa, pluralitas di wilayah itu berkembang cukup baik. Pribumi dan etnis Tionghoa hidup saling berdampingan, Sudiroprajan adalah contoh nyata dalam merawat kebhinnekaan. Toleransi warga Sudiroprajan terlihat dari kehidupan sehari-hari. Dalam hal organisasi perkotaan misalnya, tak ada pembeda antara Jawa dan Tionghoa, semua memiliki kewajiban dan hak yang sama.

Kerukunan antaretnis yang ada di Sudiroprajan pada akhirnya melahirkan event budaya bernama Grebeg Sudiro. Grebeg Sudiro kini menjadi agenda tahunan wisata di Solo jelang datangnya Imlek.

Sejak tahun 2007 Grebeg Sudiro pertama kalinya digelar. Namun, saat tahun 2020, 2021, termasuk 2022 ini, Grebeg Sudiro kembali ditiadakan. Hal tersebut, untuk mengurangi kerumunan dan penularan virus Corona.

Suasana menjelang Imlek sudah sangat terasa dengan dipasangnya lampion di sekitar Pasar Gede Solo, dan ornamen tersebut cukup mengobati kerinduan warga di tempat itu.

Artikel ini telah tayang di www.detik.com dengan judul “Selami Kisah Masa Lalu Solo Lewat Jelajah Kampung Pecinan” yang ditulis oleh Kartika Bagus. (Rizky)

× Hubungi kami