Silek Tigo Bulan

Seni Bela Diri Khas Riau
Foto: riaudailyphoto.com

PariwisataIndonesia.id – Ingin mahir silat dalam tiga bulan? Bisa banget!

Sobat Pariwisata bisa mahir silat dalam kurun waktu singkat dengan Silek Tigo Bulan. Penasaran dengan seni bela diri ini? Simak ulasannya berikut, ya.

Silek Tigo Bulan adalah seni bela diri atau silat yang berasal dari Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Selain silat ini, masih terdapat beberapa jenis silat lain yang berasal dari Rokan Hulu, seperti Silek Rimau (Silat Harimau), Silek Boruk (Silat Beruk), Silek Ula (Silat Ular), dan sebagainya.

Pariwisata Indonesia
Foto: youtube.com

Namun, Silek Tigo Bulan adalah jenis silat tradisional yang paling banyak dipelajari oleh penduduk lokal. 

Oh ya, secara umum, Silek Tigo Bulan ini terbagi menjadi dua jenis latihan, yaitu tondan dan sendeng. Tondan adalah jenis latihan yang berfokus pada ketangkasan gerak. Tahapan ini mengutamakan keahlian, kecepatan, dan ketepatan gerak silat sehingga butuh kecerdasan dalam memahami berbagai gerakan. Biasanya, tondan dilakukan pada tahap pertama dalam mempelajari Silek Tigo Bulan dengan kurun waktu 70 hari latihan. 

Adapun untuk sendeng adalah jenis latihan yang berfokus pada ketahanan fisik. Murid yang berhasil melalui latihan ini akan memiliki ciri-ciri kuat dan tahan terhadap berbagai macam serangan. 

Inti latihan Silet Tiga Bulan adalah memahirkan penggunaan cahaya atau nur. Terdapat tiga jenis cahaya yang warnanya dapat berubah-ubah di mana dua di antaranya memiliki warna yang khas. Seorang murid akan melatih penggunaan cahaya ini dalam gerak silat yang dipelajari selama tiga bulan.

Seperti namanya, Silek Tigo Bulan memang dapat dikuasai dengan latihan selama 3 bulan atau tepatnya 100 hari. Latihan ini mencakup fokus pada gerak silat di tanah selama 3 bulan, ditambah kaji batin selama 10 hari. Kaji batin terdiri dari 7 hari belajar kaji batin, sehari kaji togak (silat dalam posisi berdiri), sehari kaji duduk, dan sehari kaji guliang (silat dalam posisi guling).

Kemahiran pesilat dapat terlihat saat melakukan kaji guliang. Latihan ini diawali dengan mandi balimau. Selanjutnya, sang guru akan menggulingkan muridnya dan menyerangnya dengan tikaman pisau. Sang murid yang telah mahir akan mampu menghindari serangan benda tajam itu.

Ujian Silek Tigo Bulan yang terakhir cukup memacu adrenalin. Dua orang murid yang masing-masing dibekali sebilah pisau dimasukkan ke dalam satu kain sarung bersama. Mereka akan saling adu gerakan silat dan ketahanan fisik di dalam kain sarung tersebut. 

Silek Tigo Bulan memiliki beragam gerakan, di antaranya tikam buang liar, tikam kungkong batak, tikam buang luar, tikam buang dalam, tikam kungkong bawah, dan tikam sepetak. 

Silek Tigo Bulan bukan hanya sekedar keterampilan untuk mempertahankan diri. Seni bela diri ini juga kerap dipertunjukan dalam berbagai acara, seperti pernikahan, khitanan, pengangkatan ninik mamak, penyambutan tamu kehormatan, hingga festival budaya. Biasanya, pertunjukan akan dilangsungkan di tempat terbuka seperti jalanan, halaman, dan lapangan, untuk mempermudah pergerakan para pemain. Biasanya, pertunjukan ini akan diiringi dengan alat musik tradisional seperti calempong, gong, dan gendang.

Pada tanggal 10 Oktober 2018, Silek Tigo Bulan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Riau dengan Nomor Registrasi 201800633. 

Sobat Pariwisata berminat untuk mempelajarinya?(Nita)