Aksara Incung dan ‘Kerinci’ Jejak Peradaban Dunia di Suku Kerinci Kuno

Bukti Peradaban Dunia Jejaknya Ada di Suku Kerinci Kuno. Benarkah Nabi Adam Turun dari Surga dan Kapal Nabi Nuh Dibuatnya, Semua di Nusantara? Ini fakta atau mitos!
Aksara Incung, Kerinci, Jejak Peradaban Dunia di Suku Kerinci Kuno, pariwisata indonesia, media pvk
Foto: @lacultureindo

Wahai Sobat Pariwisata Indonesia, Kerinci salah satu peradaban terbesar di dunia.

Sobat Pariwisata, Negara Indonesia jauh lebih besar dari bangsa lain.

Dimulai dari kerajaan-kerajaan besar ada di Nusantara. Dan ditemukan fakta arkeologi manusia purba, jejaknya juga ada di Indonesia. Hingga keindahan alam Indonesia, cantik dan memesona.

Ditambah kekayaan alam, menjanjikan dan luar biasa. Indonesia terkenal sebagai “tanah surga” bahkan vokalis Koes Plus Yon Koeswoyo menciptakan lagu pada tahun 1973, “Kolam Susu” dan cerita dibalik pembuatan lagu terinspirasi kekayaan alam Indonesia.

Nikmat Tuhan berlimpah.

Indonesia kaya dan dahsyat. Semua ini aset terbesar tanah air.

Ungkapan ini disematkan bukan tanpa alasan.

Mengapa?

Indonesia memiliki kekayaan alam terkandung di dalamnya seperti padi, hasil perkebunan, pertanian, kayu, dan rempah-rempah. Belum lagi kekayaan hutan. Emas, timah, perak, batu bara, bijih besi, gas alam hingga lautan menambah deretan potensi dan persebaran Sumber Daya Alam di Indonesia.

Namun, berlimpah ruah kekayaan alam di tanah air pekerjaan rumah tersendiri bagi stakeholder dan Bangsa ini untuk memanfaatkan secara baik, guna menjaga keberlanjutan sumber daya alam (SDA) Indonesia ke generasi berikutnya.

Lalu Sobat Pariwisata Indonesia, masih berani mengatakan Indonesia dibawah kualitas negara lain?

Penemuan fosil Pithecanthropus Erectus, ditemukan di desa Sangiran, Jawa Tengah. Didaulat sebagai fosil manusia purba tertua di dunia, dari temuan fosil manusia bisa ditarik kesimpulan bisa saja wilayah setengah surga di muka bumi terletak di wilayah nusantara.

Fakta atau mitos, wilayah setengah surga di muka bumi terletak di wilayah nusantara?

Bersumber dari temuan fosil Pithecanthropus Erectus, menjelaskan bermukim manusia purba di wilayah nusantara dengan kondisi geografis beriklim teropis hujan dan panas. Cocok bagi kehidupan manusia di masa lampau untuk beradaptasi menjalani hidup. Pengerucutan diperkuat, fakta!

Berupa gigi dan fosil berukuran raksasa diduga milik manusia atau mahluk purba “Homo Kerinciensis” ditemukan warga di desa Kumun Hilir kecamatan Kumun Debai, 3km dari Pusat Kota Sungaipenuh, Provinsi Jambi, Indonesia.

Jambi adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki nama ibukota sama dengan nama provinsinya. Jambi terkenal dengan Gunung Kerinci serta Candi Muaro Jambi yang konon merupakan pusat pendidikan agama Buddha terbesar se-Asia Tenggara pada masa lalu. Selain itu, provinsi ini juga memiliki kekayaan lain, yaitu Aksara Incung.

Aksara menjadi salah satu peninggalan manusia zaman dahulu yang menandakan bahwa mereka telah memiliki peradaban yang lebih maju.

Di Indonesia sendiri terdapat banyak aksara yang tersebar di berbagai wilayah, seperti Aksara Hanacaraka atau Jawa Kuno, Aksara Abugida atau Aksara Batak, Aksara Bugis, Aksara Rejeng dari Bengkulu, Aksara Kaganga dari Sunda, Aksara Bali, serta Aksara Incung dari Jambi.

Aksara Incung yang juga sering disebut Aksara Rencong, merupakan satu-satunya aksara yang berasal dari Sumatera bagian tengah. Aksara ini digunakan oleh Suku Kerinci yang tinggal di sekitar kaldera Gunung Kerinci, Jambi. Leluhur Kerinci Kuno menggunakan Aksara Incung untuk mendokumentasikan berbagai peristiwa yang terjadi, seperti sejarah, hukum adat, karya sastra, hingga mantra-mantra.

Aksara Incung berasal dari kata incung (Bahasa Kerinci) yang berarti miring atau terpancung, memiliki garis lurus, patah terpancung atau lancip, dan melengkung. Aksara ini memiliki sekitar 27 huruf, meskipun ada peneliti lain yang memiliki versi berbeda. Bahasa yang digunakan dalam menuliskan Aksara Incung adalah Bahasa Lingua Franca Suku Kerinci Zaman Dahulu.

Kapan Aksara Incung pertama kali digunakan?

View this post on Instagram

Sebelum ditemukannya kertas berbagai suku di Indonesia menggunakan media seperti daun lontar, batu, kayu, bambu, tanduk kerbau, kulit binatang dll untuk menulis berbagai macam perintah Raja maupun karya sastra lainnya. Suku Kerinci di provinsi Jambi biasanya menggunakan buluh (bambu) dan tanduk kerbau sebagai media untuk menulis berbagai macam peristiwa di masa lampau. Wonderful Indonesia 🇮🇩🇮🇩🇮🇩 . #Nusantara #Indonesia #Aksara #Tulisan #AksaraKuno #TulisanKuno #AksaraIncung #SuratIncung #TulisanIncung #Kerinci #NaskahKuno #KitabKuno #ManuskripKuno #AncientHeritage #SejarahIndonesia #BudayaIndonesia #WarisanIndonesia #Jambi #SepucukJambiSembilanLurah #AngsoDuo #KabupatenKerinci #KotaSungaiPenuh #WonderfulIndonesia

A post shared by Galeri Indonesia (@lacultureindo) on

Aksara Incung terlihat pada masa pemerintahan Negara Segindo. Terungkap dalam temuan Prasasti Karang Berahi yang dibuat tahun 686 masehi. Prasasti ini memuat tulisan mirip huruf-huruf pada Aksara Incung.

Jika pada zaman sekarang kita menggunakan media kertas untuk menuliskan semua hal, tidak begitu dengan Suku Kerinci Kuno. Mereka menggunakan media yang berbeda, sesuai dengan apa yang ingin dituliskan. Misalnya, tanduk kerbau digunakan untuk menulis silsilah nenek moyang, sedangkan batang bambu lebih sering digunakan untuk menulis kisah cinta, curahan hati seorang pemuda, atau mantra-mantra. Selain dua media tadi, kulit kayu juga kerap dijadikan media untuk menulis.


Walaupun merupakan aksara asli yang berasal dari wilayah Sumatera bagian tengah, tapi tidak semua masyarakat sekitar mengerti dan menggunakan Aksara Incung sebagai media komunikasi.

Hal ini dikarenakan pada zaman penjajahan Hindia Belanda, aksara dilarang dipergunakan karena orang-orang Belanda tidak mengerti arti Aksara Incung. Sekian lama tidak digunakan membuat aksara hilang dan mulai terlupakan.

Sobat Pariwisata Indonesia, teruskan membacanya. Redaksi suguhkan lebih hot lagi, yuk!

Warisan Dunia Jejaknya Ada di Situs Kerinci

Jauh sebelum Indonesia merdeka, Kerinci kawasan yang telah memiliki kekuasaan politik tersendiri.

Dan sebelum Belanda masuk Kerinci mencatatkan tiga fase sejarah yaitu: Periode Kerajaan Manjuto atau Kerajaan Pamuncak Nan Tigo Kaum, Periode Depati dan Periode Depati IV Alam Kerinci. Kerajaan Manjuto adalah kerajaan yang berada di antara Kerajaaan Minangkabau dan Kerajaan Jambi, beribukotakan di Pulau Sangkar.

Berikutnya, dua periode Depati, Pulau Sangkar dan Kayu Aro. Dan dua peristiwa ini memainkan peran sentral.

Masuklah Belanda. Belanda menduduki Kerinci tahun 1914, peran sentral Kayu Aro secara politik pemerintahan mengalami penyusutan. Saat Belanda menetapkan Kerinci sebagai sebuah afdelling dalam kekuasaaan Karesidenan Jambi (1904) maupun di bawah Karesidenan Sumatera Barat (1921) dan ketika Kerinci menjadi sebuah kabupaten sendiri dalam wilayah Propinsi Jambi (pada 1958), Pulau Sangkar hanyalah sebuah ibukota kemendapoan (sebuah unit pemerintahan setingkat di bawah kecamatan dan setingkat di atas desa).

View this post on Instagram

Naskah Tanjung Tanah adalah kitab undang-undang yang dikeluarkan oleh kerajaan Melayu pada abad ke-14. Naskah ini merupakan naskah Melayu yang tertua, dan juga satu-satunya yang tertulis dalam aksara pasca-Palawa yang juga disebut sebagai aksara Malayu, dan naskah pada kitab ini masih menggunakan bahasa Sanskerta. . Naskah ini ditemukan di Tanjung Tanah di Mendapo Seleman (terletak sekitar 15 kilometer dari Sungai Penuh, Kerinci) dan masih disimpan sampai sekarang oleh pemiliknya. Naskah Tanjung Tanah sebetulnya ditemukan dua kali, pertama pada tahun 1941oleh Petrus Voorhoeve' yang pada saat itu menjabat sebagai taalambtenar (pegawai bahasa pada zaman kolonial) untuk wilayah Sumatera dan kemudian didaftarkan oleh sekretarisnya dengan nomor 252 dan tebal 181 halaman yang diberi judul Tambo Kerinci. Penemuan kedua oleh Uli Kozokpada tahun 2002, Kozok lalu membawa sampel naskah ini ke Wellington, Selandia Baru untuk diperiksa di laboratorium agar dilakukan penanggalan radiokarbon; hasil pengujian ini memperkuat dugaan Kozok bahwa naskah Tanjung Tanah adalah naskah Melayu yang tertua. Naskah ini ditentukan tarikh penangggalan secara radiokarbon yaitu antara tahun 1304dan 1436 dan berdasarkan data sejarah kemungkinan ditulis sebelum tahun 1397. Karena mengingat pada periode tersebut yaitu antara 1377 dan 1397 ditandai oleh ketidakpastian dan diwarnai peperangan, maka dapat disimpulkan bahwa naskah ini malahan ditulis sebelum tahun 1377, yaitu selama masa kejayaan Adityawarman. Wonderful Indonesia 🇮🇩🇮🇩🇮🇩 . #Indonesia #Nusantara #NaskahTanjungTanah #NaskahKuno #NaskahKerinci #NaskahMelayu #NaskahMelayuJambi #MelayuJambi #SejarahJambi #SejarahIndonesia #BudayaIndonesia #WarisanIndonesia #SepucukJambiSembilanLurah #KotaSungaipenuh #Kerinci #AksaraKerinci #AksaraIncung #AksaraIndonesia #ExploreKerinci #WonderfulIndonesia

A post shared by Galeri Indonesia (@lacultureindo) on

Walaupun merupakan aksara asli yang berasal dari wilayah Sumatera bagian tengah, tapi tidak semua masyarakat sekitar mengerti dan menggunakan Aksara Incung sebagai media komunikasi.

Hal ini dikarenakan pada zaman penjajahan Hindia Belanda, aksara ini dilarang untuk dipergunakan karena orang-orang Belanda tidak paham Aksara Incung. Sekian lama tidak digunakan membuat aksara ini kian hilang dan terlupakan.

Agar Aksara Incung terus lestari, pemerintah daerah telah melakukan banyak usaha, diantaranya memasukkan Aksara Incung dalam mata pelajaran muatan lokal. Dan menyematkan nama Aksara Incung untuk penamaan nama jalan dan kantor.

Bukti Peradaban Dunia Jejaknya Ada di Suku Kerinci Kuno

Kata Kerinci mulai dikenal di awal tahun Masehi. Sebutan “Kerinci” diinterpretasikan pada banyak teori, baik itu dihasilkan lewat proses riset dengan pengumpulan data dan penelitian. Sampai ke cerita yang berkembang di masyarakat yang tidak berdasar atau mitos.

Ulasan yang dapat mengantarkan pada teori “Suku Kerinci Kuno bukti awal peradaban dunia” dapat dijelaskan kata “Kerinci” itu sendiri dari pendekatan kondisi alam.

Kondisi alam di wilayah Kerinci membentang luas Bukit Barisan, hutan besar dan lebat, medan disini teramat berat terlebih binatang buasnya, orang beranggapan wilayah Kerinci daerah tertutup, sehingga Kerinci dikiaskan dengan kata ‘Kunci.’

Makna dari kata Kerinci, bisa saja diartikan tertutup atau terbatas jika maksudnya ‘Kunci.’

Jika ditinjau dari pendekaran bahasa, Kerinci berasal dari kata “kerin” dan “ci”. Asal katanya dari Bahasa Austronesia yang merupakan Bangsa India (Sanskerta) kata “krin/kerin” atau “khin” berarti hulu, sedang kata “ci” atau “cai” artinya sungai.

Dengan demikian Krinci atau Kerinci mengandung makna hulu sungai.

Jika dilihat dari letak geografis Kerinci memang berada di daerah pegunungan. Hamparan hutan liar mengerikan. Memiliki hulu-hulu sungai mencakup Sungai Batang Merangin, Sungai Batang Asai, dan banyak lagi sungai yang lain.

Bukti peradaban Suku Kerinci Kuno:

1. Sumber Mc Kinnon (1992) menyebutkan, kata Kerinci diduga berasal dari kata “Kurinci” (bahasa Tamil). Maknanya adalah sebuah daerah pegunungan. Diceritakan dalam pendapat Mc. Kinnon, orang India dari suku bangsa Tamil (Hindu) pada awal abad pertama Masehi telah berhubungan dengan penduduk yang berdiam di pedalaman dan disepanjang Pantai Barat dan Timur Sumatera, saat itu tidak jauh dari Kerinci. Dalam perniagaan, bangsa Tamil menyebut orang-orang dari dataran tinggi pegunungan dengan sapaan Kurinci.

Menurut Mc Kinnon, Masyarakat Kerinci yang bermukim di Kabupaten Kerinci saat ini, adalah keturunan suku bangsa Melayu Tua telah menetap sejak zaman Neolitikum (8.000-7.000 tahun silam).

Kerinci pernah di bawah kekuasaan Kerajaan Dharmasraya dan Pagaruyung (Sumatera Barat), juga di bawah Kerajaan Inderapura (pantai barat, kini Pesisir Selatan, Sumatera Barat), dan Kesultanan Jambi. Penguasaan kewilayahan Kerinci lebih untuk perlindungan dan bayar upeti.

2. Sumber lain, Uli Kozok, ia ahli filologi dari Hawaii University Amerika Serikat, dalam risetnya menyebutkan naskah melayu tertua di dunia ada di Kerinci. “Demikian kesimpulan riset yang dilakukan di tiga negara yakni Indonesia, Malaysia dan Belanda, filolog Dr Uli Kozok menyimpulkan naskah Melayu tertua ada di Kerinci, tepatnya di Desa Tanjung Tanah,” sebut Budayawan Jambi, Nukman SS di Jambi(30/4/2013).

Kerinci memiliki kebudayaan, termasuk bahasa dan Aksara Kerinci. Uli Kozok, ahli aksara kuno Sumatera asal Jerman, pernah menemukan di Kerinci naskah Melayu tertua abad ke-14 berasal dari Kerajaan Dharmasraya, zaman Adityawarman.

Menurut riset Uli Kozok “Aksara Kerinci” naskah yang ternyata jauh lebih tua 200 tahun dibanding dengan naskah surat raja Ternate yang sebelumnya dinyatakan sebagai naskah melayu tertua di dunia.

Naskah kitab undang-undang Tanjung Tanah diperkirakan dikeluarkan pada abad 14.

Sebut Nukman, kesimpulan Uli Kozok didasarkan uji radio karbon yang dilakukan di Wellington, di Selandia Baru. Uji ini diambil dari sampel bahan kertas Daluang (mirip kulit kayu). Dari uji radio karbon diprediksi media penulisan dalam naskah Aksara Kerinci ditebang pada rentang waktu antara abad 12 hingga 13,

Dari usia itulah, penulisan naskah diperkirakan tidak jauh dari abad itu, maksimal pada abad ke 14 naskah itu dibuat. Sesuai catatan sejarah pula pada masa itu Kerajaan Melayu yang beribukota di Darmasyaraya (sebuah kabupaten pemekaran Sumbar, tetangga dekat kabupaten Kerinci) diperintah oleh Raja Adityawarman, sedang masa puncak kejayaan.

Diketahui Kerinci sudah dari masa sebelumnya telah memiliki aksara sendiri, yakni Aksara Incung, tapi Raja Adityawarman ingin menuliskan kitab menggunakan aksara pasca-Pallawa, bukan aksara Pallawa dan bukan pula aksara Jawa kuno.

Saat itu, pihak kerajaan yakni raja Adityawarman, tengah gencar membangun imej pemerintahan sendiri. Pasalnya pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu-Budha besar di pulau Jawa mulai melemah. Aksara Incung, telah menjadi aksara asli yang digunakan secara umum oleh masyarakat Kerinci masa itu, namun bagi pihak kerajaan aksara itu dianggap aksaranya kaum Sudra atau rakyat jelata. Orang luar Kerinci menyebut aksara itu sebagai Surat Ulu, yang artinya aksara dari pedalaman sebagaimana posisi Kerinci sendiri yang memang berada di pedalaman Bukit Barisan.

“Oleh karena itu, menurut Uli Kozok penggunaan aksara itu tidak terlepas dari politik Adityawarman sendiri yang sangat terobsesi untuk membangun kerajaannya sendiri yang mandiri hingga mampu melepaskan diri dari pengaruh kerajaan besar di Jawa, maka dia menggunakan aksara sendiri yang berakar dari aksara Pallawa dan Jawa, daerah yang sebelumnya menjadi tempat tinggalnya dan menimba ilmu,” sebut Nukman.

3. Pendapat dari Prof. Arysio Nunes Dos Santos, menerbitkan buku menggemparkan: “Atlantis The Lost Continents Finally Found”. Dimana ditemukannya? Penulis tegas menyatakan bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia.

4. Bersumber dari Profesor Stephen Oppenheimer. Peradaban yang dikemukakan Prof. Arysip tadi dibenarkan oleh Profesor Stephen Oppenheimer. Dalam bukunya, Eden in The East: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara, ia berpendapat, satu-satunya kisah yang menyebar luas di dunia secara merata adalah kisah banjir Nabi Nuh dengan beragam versi.

Umat Islam, Kristen dan Yahudi tentu mendapatkan kisah banjir Nuh dari kitab suci masing-masing. Namun, bagaimana dengan masyarakat pra Islam, Kristen dan Yahudi? Misalnya saja bangsa Sumeria, Babilonia, India, Yunani. Mereka pun ternyata punya kisah banjir bandang yang menenggelamkan seluruh daratan.

Buku Eden in The East setebal 814 halaman, separuhnya dihabiskan Oppenheimer untuk membedah kisah Nabi Nuh. Oppenheimer mencatat ada sekitar 500 kisah soal banjir di seluruh dunia. Dari India sampai Amerika, dari Australia sampai Eropa. Tokoh utamanya pun berubah-ubah. Agama samawi menyebut Nuh, atau Noah. Bangsa Mesopotamia menyebut sang jagoan adalah Utanapishtim, di Babilonia kuno disebut Athrasis, orang India kuno menyebutnya Manu.

Lalu Oppenheimer berteori, kalau bangsa yang terpaksa berimigrasi akibat banjir besar, tinggal di Indonesia dan sekitarnya. Semua kisah banjir ini menurut Oppenheimer adalah bukti kalau banjir besar di penghujung Zaman Es ini adalah benar adanya. Suku Kerinci Pada saat terjadinya bencana yang menenggelamkan Atlantis berhasil selamat dikarenakan mereka berada di daratan tinggi yaitu puncak gunung kerinci sehingga terhindar dari bencana tersebut.

5. Bersumber dari hasil riset Dr Bennet Bronson. Kesimpulan riset Dr Bennet Bronson peneliti asal AS bersama Tim Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Jakarta pada 1973, menyebut suku Kerinci jauh lebih tua dari suku Inka (Indian) di Amerika.

Suku Kerinci tidak hanya lebih tua dari proto-melayu, ini tentang manusia Kecik Wok Gedang Wok. Mereka suku pertama yang mendiami dataran tinggi Kerinci dan hidup lebih dari 10.000 tahun lalu. Suku ini belum mempunyai nama panggilan secara individu sampai masuknya suku Proto-Melayu.

Sedangkan suku Indian Inka di Amerika yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu suku dan ras tertua di dunia diketahui pada zaman yang sama sudah memiliki nama, seperti Big Buffalo (Kerbau Besar), Little Fire (Api Kecil).

6. Peneliti kelahiran Sumatera Barat  (Almarhum) Iskandar Zakaria. menurutnya, keberadaan suku Kerinci provinsi Jambi yang menghuni di dataran tinggi puncak Andalas pebukitan barisan jauh lebih tua dari Proto-Melayu yang dianggap sebagai suku Melayu tertua.

Ia berpendapat, bukti temuan artefak purbakala yang berhasil ditemukan selama 40 tahun meneliti sesungguhnya suku Kerinci jauh lebih tua dari Proto-Melayu itu sendiri. Dan manusia purba di Kerinci itupun memiliki pengetahuan dan peradaban lebih tinggi. Mereka telah mengenal api dan mampu mengolah dan memanfaatkan besi atau logam.

Menurut peneliti nomor 6, orang pertama atau penduduk pribumi itu menggunakan kayu Siegie (Pinus Merkusi, Strain Kerinci) yang mengandung getah minyak yang bisa terbakar sebagai obor. Begitu juga mata tombak yang terbuat dari batu dan logam. Mereka ini membangun artefak batu untuk sarana berbagai keperluan, seperti altar persembahan, peristirahatan dan lainnya. Salah satu bentuk artefak peninggalan zaman Megalitikum tersebut adalah batu-batu berupa dudukan kursi, bangku, batu pintu atau menyerupai gapura, Tungku atau altar dan sarkofagus yang kesemua diperkirakan hanya melalui proses pemahatan sangat sederhana dan kasar.

Batu-batu tersebut dapat ditemukan dan tersebar di daerah perbukitan atau dataran tinggi di berbagai kecamatan dalam kabupaten Kerinci maupun kota Sungaipenuh seperti di kecamatan Gunung Raya, Keliling Danau, Batang Merangin, Sitinjau Laut, Danau Kerinci, Kumun-Debai. Dan meliputi desa-desa lain, berserakan ada di Muak, Benik, Jujun, Pulau Sangkar di Gunung Raya, Hiang Tinggi, di Kumun.

Peneliti meyakini,  dulunya mereka adalah keturunan ummat nabi Nuh AS, yang ditenggelamkan sebelum kapal berlabuh. Bahtera Nuh As pun diyakini dibuat di dataran tinggi Kerinci.

Faktanya terungkap dalam temuan gigi dan fosil berukuran raksasa diduga milik manusia atau makluk purba “Homo Kerinciensis” yang ditemukan warga di desa Kumun Hilir kecamatan Kumun-Debai tiga kilometer dari pusat kota Sungaipenuh. Peristiwa ini dijadikan alibi oleh peneliti untuk memperkuat asumsi dan dugaan perkiraan Perahu Nabi Nuh dibuat di Nusantara.

Jika temuan fosil Pithecanthropus Erectus dan gigi besar tersebut berhasil disimpulkan oleh laboratorium kepurbakalaan Jakarta, sudah dapat dipastikan itu adalah salah satu bukti dan fakta kuat bagi mata rantai peradaban tua suku Kerinci yang diyakini jauh lebih tua dari Proto Melayu. Kebenarannya Fakta atau Mitos?, Asal muasal Nabi Adam ke muka bumi atau dibuatnya Kapal Nabi Nuh ada di Indonesia, mitos atau fakta?

Peneliti memperkirakan terjadi pada rentang waktu beberapa abad sebelum Masehi, sedangkan suku purba Kerinci sudah mendiami daratan tersebut ribuan tahun sebelumnya. Untuk telaah kisah ini habiskan waktu 40 tahunan, belasan buku disusun sebagai literatur. Tapi hingga kini, ia mengakui belum mampu membuat kesimpulan akhir, karena berbagai keterbatasan perangkat riset yang peneliti miliki.

Kini maestro budayawan Jambi, dan dikenal juga sebagai sejarawan legendaris Kerinci, Iskandar Zakaria, tutup usia pada Jumat sore(10/08/2018) pukul 16.00 WIB di Sungai Penuh. Tokoh yang akrab dipanggil Pak Is diketahui tutup usia dari salah satu akun Facebook milik Risnal Mawardi yang menuliskan “Pak Is, bapak Iskandar Zakaria, sang maestro budaya Kerinci itu telah tiada” Selamat Jalan Pak Is”. Salah satu pemilik akun Facebook lainnya yakni Mairizal juga mengucapkan turut berduka cita. Dia mengatakan bahwa Iskandar Zakaria ini salah seorang aset kesenian Kerinci.

Besar harapan Redaksi turunkan artikel tentang “Warisan Dunia Jejaknya Ada di Situs Kerinci” para pihak khususnya pejabat dan pemangku kepentingan dapat melanjutkan perjuangan Almarhum. 

Pesan khusus ditujukan, kepada:
Yth. Badan Penelitian dan Pengembangan,
Yth. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Yth. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Silakan diteruskan agar perjuangan Almarhum disempurnakan penelitian ini, ya! (Nita/Erwin)