Baju Adat Tradisional Bali

Baju Adat Bali, Baju Tradisional Adat Bali, Busana Bali, Baju Kebaya Bali, Busana Adat Gadis Bali, Pakaian Adat Bali, Pakain Adat Wanita Khas Bali, Gadis Bali, Baju Tradisional Bali, Baju Bali, Tradisional Kebudayaan Bali, Pariwisata Indonesia, Media PVK, Umi Kalsum
Foto: @mahardikamakeupstudio

 

Baju Adat Tradisional Bali

 

1. Payas Agung

Apa artinya Payas Agung? Pakaian Adat Tradisional Bali yang menampilkan kesan mewah pada posisi derajat tertinggi. Dipakai acara sangat khusus dan dianggap spesial. Gak bisa sembarangan dan asalan. Payas Agung biasanya dipakai untuk resepsi pernikahan. Memberi kesan untuk pengantin mirip Raja dan Ratu. Penggunaan Payas Agung bahkan bisa lebih besar lagi dari tingkatan itu.

Dahulu kala, Payas Agung khusus kalangan istana dan kerajaan. Zaman modern seperti sekarang, semua orang bisa pakai. Asal punya uang, tak terkecuali kalangan kelas bawah. Bisa kok disewa. Momen istimewa seperti pernikahan diharapkan sekali seumur hidup. Apapun caranya untuk beri kesan paling mewah. Dan berdampak pada nama besar keluarga juga si mempelai. Payas Agung harus benar-benar ‘wah’ dan mengagungkan.

2. Payas Madya

Pemakaian busana untuk Payas Madya terdiri dari tingkatan kebutuhan. Tetapi lebih luwes, gak seperti Payas Agung. Pakaian Adat satu ini, dipakai untuk aktivitas keseharian.

Pakaian tradisional adat Bali khusus ‘Payas Madya’ adalah busana untuk menghadiri pertemuan adat di balai pertemuan (banjar). Dapat juga dipakai untuk melayat kematian. Juga acara undangan pernikahan dari hajatan keluarga maupun kerabat serta masyarakat luas. Kehadiran busana memberi kesan untuk menghormati dan sopan santun.

Dibolehkan dalam acara formal berbaju jas buat pria. Dan wanitanya mengenakan gaun pesta. Namun dalam masyarakat Bali, memakai Baju Adat Tradisional sebuah kebanggaan dan cara untuk melestarikan budaya Bali turun temurun. Jangan salah kostum!

3. Payas Alit

Berikutnya adalah Payas Alit. Khusus dipakai saat melangsungkan ibadah ke Pura. Mudah dicirikan, khasnya kain warna putih. Dari semua Pakaian Adat Bali, paling mudah bedakan adalah Payas Alit, bercorak putih.

Mayoritas penduduk Bali bergama Hindu, dan Pakaian Tradisional keperluan untuk ke pura atau bersembahyang berbeda untuk laki-laki dengan wanita. Busana khas untuk pria ke pura ciri utama warna udeng (ikat kepala) dan baju berwarna putih, kemudian bawahan memakai kamben (kain) dan kampuh.

Pada busana wanitanya lebih sederhana, rambut diikat atau dipusung, dan memakai kebaya berwarna putih ataupun kuning. Bawahannya kamben (bisa kain batik) dengan selendang yang diikat ke pinggang.

Pesan khusus untuk busana wanita saat beribadah. Hindarkan busana pada tampak depan dan bagian belakang berbahan tipis. Penampilan seronok kurang bijaksana untuk persembahyangan.

View this post on Instagram

TerluvπŸ’— @cantikayukebaya

A post shared by A A ista Kusuma (@agiistaa) on

View this post on Instagram

Kebaya cantik from @gexoya πŸ’š

A post shared by Bintang Indah Rumaladewi, S.E (@indahrumaladewi) on

View this post on Instagram

Rahajeng rahina galungan πŸ™πŸ»

A post shared by NinaπŸ¦‹ (@krisninapd) on

 

Aksesoris dalam berbusana pada Pakaian Tradisional Adat Bali

 

Perlengkapan ataupun aksesoris pakaian tradisional adat Bali untuk pria dan wanita tentu berbeda, dari sejumlah aksesoris yang digunakan selain menampilkan keindahan tentu memiliki nilai filosofi yang terkandung di dalamnya.

Pakaian adat atau busana tradisional untuk pria:

Udeng (ikat kepala): Aksesoris yang dikenakan atau diikatkan pada bagian kepala ini hanya untuk pria, digunakan saat ibadah atau keperluan adat sesuai kebutuhan. Bagian depan berbentuk lancip ke atas dan disimpulkan ke bagian tengah, ini memberi simbol pengendalian diri dan pemusatan pikiran saat ibadah

Baju: Berbagai bentuk baju tersedia untuk pakaian adat, sebuah baju tertutup berbentuk safari dan kemeja lebih direkomendasikan, malah ada memakai baju kaos yang penting berkerah, tidak ada aturan khusus yang penting rapi, bersih dan juga sopan.

Kamben (kain): Digunakan dalam pakaian adat Bali pengganti celana, kain dengan panjang 2 meter dan lebar 1 meter. Dipakai melingkar dari kiri ke kanan, dan diikatkan ke pinggang. Pada bagian depan dibuat lancip menghadap ke bawah. Filosofi melambangkan penghormatan untuk ibu pertiwi.

Kampuh (kain saput): Setelah memakai kamben (kain), bagian luarnya masih ditambahkan kain penutup, bentuknya lebih kecil. Bentuknya berbeda dengan kamben, caranya melingkar pada pinggang dari kiri ke kanan ujung bawahnya lebih pendek dari kamben, bertujuan untuk menutupi lekuk tubuh.

Umpal (selendang): Selendang tersebut digunakan untuk mengikat kamben dan kampuh di pinggang agar lebih kuat, umpal tersebut berupa selendang kecil, diikatkan dengan simpul hidup dibagian kanan. Dan ujungnya harus terlihat, dibawah ujung baju. Filosofinya agar para pria bisa mengendalikan sifat-sifat yang buruk.

Pakaian adat atau busana tradisional untuk wanita;

Sanggul:Β Penataan rambut sangat penting. Bagian rambut adalah salah satu dari kesempurnaan dalam Busana Wanita Adat Bali. Ada 3 bentuk sanggul yang biasa digunakan. Diantaranya sanggul atau pusung Gonjer dirias untuk wanita yang masih lajang dan belum menikah. Pusung Tagel untuk wanita yang sudah menikah. Dan Pusung Kekupu untuk wanita berstatus janda.

Bunga:Β Untuk mempercantik penampilan, tambahkan aksen riasan diselipkan di telinga. Biasanya melekat setangkai bunga di telinga untuk memantaskan dan bikin cantik. Bunga yang dipilih adalah bunga Cempaka atau kamboja.

Kebaya (atasan):Β Kebaya yang digunakan adalah dari kain bermotif sederhana dan juga cerah. Berlengan panjang. Pilihan model sesuai motif favorit yang disuka, biasanya busana ke Pura di pilih warna dominan. Bisa warna putih ataupun warna kuning. Sedangkan untuk keperluan melayat warna hitam.

Kamben (kain bawahan):Β Kain dililitkan di pinggang ke bawah. Dari arah kiri ke kanan. Kamben atau kain ini digunakan untuk menutupi tubuh bagian bawah, minimal sebatas 1 telapak tangan di bawah lutut. Batasan pemakaian kamben tetap memperhatikan kerapihan, kesopanan dan keleluasaan bergerak saat berjalan.

Bulang pasang (senteng):Β Sebuah selendang dan diikatkan di pinggang, warnanya bisa beragam sesuai selera. Biasanya warna kuning. Filosofinya agar wanita Bali dapat menjaga rahim dengan baik dan bisa kendalikan tingkah laku.

Wishnutama Bali

 

 


 

Penutup

 

Pakaian tradisional ini adalah tradisi lokal kebudayaan masyarakat Bali dari leluhur yang telah mengakar. Diharapkan bisa melestarikan tatanan sosial, dan budaya yang terbentuk sudah sejak lama. Untuk itulah, sangat penting menempatkan busana secara baik dan benar. Era modern sekarang, Pakain Adat Bali yang paling beradaptasi cuma busana wanita. Modernisasi bikin wanita-wanita Bali makin fashionable. Baju yang dikenakan simbol keanggunan, kecantikan dan fashion.

Acap kali dikaitkan dengan dunia model. Motif dan warna kebaya banyak menampilkan sisi feminim dan keanggunan agar tampak elegan. Bagi sebagian lagi ingin tampil seksi, bahkan cenderung berpakaian memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh. Tidak ada yang melarang. Sah-sah saja. Mengikuti mode berpakaian dan kekinian dibolehkan. Tapi sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Kedepankan nilai-nilai dan jaga sopan santun.

Baju Adat Bali sangat memperhatikan aspek estetika, dan etika dalam berpakaian. Keindahan makin tampak elok dan sempurna jika dibarengi etika sopan santun dalam berpakaian. Berbusana dan tata cara berpakaian dalam segala tingkatan keseharian jelas menunjukkan jati diri seseorang. Pakaian Adat Bali memiliki nilai filosofi dan simbolik yang kental dengan masa lalu, khususnya karena mayoritas penduduk Bali bergama Hindu.

Mengenal kebudayaan di setiap daerah di Indonesia harus kita lakukan, cara tersebut perwujudan dari sikap nasionalisme dan rasa cinta tanah air. Dan keberagaman baju adat nusantara simbol Indonesia penuh kebhinnekaan. Hingga memikat wisatawan mancanegara berdatangan, salah satunya dari Pakaian Adat Bali.