Angkul-angkul Pulau Dewata

Gerbang Rumah Adat Bali nan Eksotis

Bali menjadi salah satu pulau Indonesia yang populer di dunia internasional. Keindahan alamnya begitu memikat para wisatawan baik domestik maupun manca negara. Tidak heran jika pariwisata menjadi pendapatan utama provinsi dengan julukan Pulau Dewata ini.

Meskipun banyak dikunjungi oleh wisatawan, masyarakat Bali tetap menjaga kebudayaan mereka, loh! Jika pernah berkunjung ke Bali, Sobat Pariwisata akan mendapati provinsi ini masih kental dengan kebudayaan dan adat istiadat. Bentuk rumah, cara berpakaian, hingga ritual-ritual keagamaan yang dilakukan setiap hari oleh para penduduknya. Kali ini, redaksi akan mengulas keunikan rumah tradisional Bali yang sering disebut Rumah Gapura Candi Bentar.

Pariwisata Indonesia

Gapura Candi Bentar sebenarnya merujuk pada gapura yang ada di rumah tradisional Bali. Pada zaman dulu, Gapura Candi Bentar hanya dibangun di depan pura atau rumah peribadatan agama Hindu. Bentuk dan ukurannya pun berbeda-beda, sesuai dengan jenis pura yang ada di dalamnya.

Gapura ini dibuat dengan sisi yang terpisah kanan dan kiri. Hal yang menyatukan kedua sisi ini adalah anak-anak tangga yang menuju ke pekarangan. Bagian depan dan belakang gapura ini dibuat dengan bentuk yang sama dengan bagian puncak yang meninggi.

Seiring perkembangan zaman, gapura ini mulai dipakai di depan rumah tradisional Bali dan disebut angkul-angkul. Namun, angkul-angkul ini memiliki bentuk yang berbeda dari Gapura Candi Bentar. Perbedaan paling mencolok terlihat pada atap yang menaungi. Umumnya, angkul-angkul dilengkapi dengan daun pintu, meskipun ada juga yang tidak menggunakannya. Fungsidari angkul-angkul ini seperti pintu gerbang.

Ukuran angkul-angkul berbeda satu dengan yang lain. Hal itu disesuaikan dengan kebutuhan para pemilik rumah. Ada yang membuatnya hanya cukup untuk dilalui manusia. Namun, ada juga yang membuatnya dengan ukuran besar agar bisa dilalui oleh kendaraan (delman, sepeda motor, atau mobil). Tidak ada desain khusus untuk angkul-angkul. Setiap rumah boleh membuatnya dengan desain sesuai selera. Biasanya, rumah dari masyarakat berkasta tinggi memiliki angkul-angkul yang mewah dan megah.

Pariwisata Indonesia

Bagi masyarakat Bali, angkul-angkul memiliki nilai filosofis tersendiri. Angkul-angkul ibarat mulut rumah. Jika mulut dalam keadaan tertutup, maka benda-benda dari luar termasuk benda-benda jahat, tidak akan bisa masuk ke rumah. Di bagian depan angkul-angkul juga terdapat apit lawing yang biasanya berupa patung druapala, raksasa yang membawa gada. Hal ini dipercaya untuk menjaga keamanan.

Pembangunan angkul-angkul tidak boleh dilakukan sembarangan. Ada perhitungan asta bumi dan asta kosala kosili, serta pertimbangan arah mata angin. Hal ini juga berlaku untuk seluruh bangunan yang ada di rumah adat Bali. Masyarakat Bali percaya bahwa arah utara dan timur adalah lokasi-lokasi suci. Sehingga, bangunan-bangunan yang berhubungan dengan peribatan, harus berada di area utara atau timur.

Melewati angkul-angkul, Sobat Pariwisata akan menemukan beberapa bangunan yang biasanya terdapat di rumah adat Bali. Bangunan itu antara lain:

Pariwisata Indonesia

1. Aling-aling, bagian ini merupakan penghalang atau pembatas antara angkul-angkul dan pekarangan rumah atau angkul-angkul dengan tempat suci dalam pekarangan rumah. Pembangunan aling-aling bukanlah sesuatu yang wajib, hanya dilakukan jika pintu masuk pekarangan sejajar dengan pintu kamar rumah.

Pariwisata Indonesia

2.Bale Dauh, Bangunan ini digunakan untuk menerima tamu. Terkadang, bangunan ini juga digunakan untuk tempat tidur keluarga laki-laki.

3.Bale Manten, bangunan persegi yang biasanya didirikan di sebelah timur. Bangunan ini didirikan sebagai salah satu tanda penghormatan kepada anak perempuan dalam keluarga. Bale manten digunakan sebagai tempat beristirahat kepala keluarga dan anak perempuan. Saat telah menikah, bangunan ini juga difungsikan untuk kamar pengantin baru.

Pariwisata Indonesia

4.Bale Gede, merupakan bangunan yang digunakan untuk berbagai upacara adat atau berkumpul. Biasanya, bangunan ini dibuat lebih tinggi dari bangunan lainnya.

Pariwisata Indonesia

5.Pura Keluarga atau Pamerajan atau Sanggah, merupakan tempat untuk beribadah. Menurut hokum adat, setiap rumah Bali wajib memiliki bangunan ini, baik dalam ukuran besar maupun kecil.

Pariwisata Indonesia

6.Pawaregen atau paon, adalah dapur yang biasanya dibangun di sebelah selatan atau barat laut rumah atau di bagian belakang rumah. Bagian ini digunakan untuk memasak dan menyimpan peralatan memasak. Biasanya, kompor yang digunakan pun masih berupa tungku dengan bahan bakar kayu.

Hal unik lain yang bisa Sobat Pariwisata temukan di rumah adat Bali adalah ukiran atau hiasan yang bertebaran di bangunan-bangunan rumah. Tidak heran, karena masyarakat Bali memiliki nilai seni yang tinggi. Umumnya, ukiran-ukiran tersebut terdiri dari tiga jenis, yaitu keketusan (motif tumbuhan dengan lengkungan-lengkungan bunga besar dan daun lebar), kekarangan (motif tumbuhan lebat dan daun terurai seperti perdu), serta pepetran (motif bunga-bungaan).

Sobat Pariwisata, berkunjung ke Bali memang terasa seperti mengunjungi kota kerajaan masa lalu. Tidak heran jika banyak orang yang ingin kembali dan kembali lagi berkunjung ke kota itu.(Nita/RPI)