Bakar Batu

Barapen, Tradisi Memasak untuk Memupuk Persatuan
foto: goodnewsfromindonesia,cok

Menggoreng, merebus, atau mengukus merupakan beberapa teknik memasak yang umumnya dilakukan oleh masyarakat. Namun, masyarakat Papua, punya satu cara memasak yang sangat unik, yaitu Barappen.

Barappen atau bakar batu merupakan cara memasak yang unik dari masyarakat lokal di Papua dan Papua Barat, yang dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur dan menjalin tali silaturahim. Cara memasak ini tidak menggunakan peralatan memasak seperti wajan atau panci. Memasak makanan dengan teknik Barappen hanya memerlukan perlengkapan yang seluruhnya berasal dari alam.

Pariwisata Indonesia

Menurut cerita, Barappen pertama kali dilakukan oleh sepasang suami istri yang ingin memasak makan untuk anak-anak mereka. Karena tidak memiliki perlengkapan memasak, mereka pun mencari ide agar makanan tersebut tetap dapat dimasak. Kemudian tercetuslah cara memasak dengan teknik Barappen. Hingga kini, tradisi itu pun diwariskan secara turun temurun.

Persiapan untuk melakukan Barappen bisa berlangsung selama dua hari. Dimulai dengan mengumpulkan batu kali, kayu, dedaunan, serta bahan makanan yang akan dimasak. Tahapan selanjutnya yaitu menyusun batu-batu kali di tumpukan kayu dan dedaunan yang kemudian dibakar selama dua hingga empat jam, atau hingga kayu dan dedaunan habis. Pembakaran tersebut akan menghasilkan batu yang panas membara.

Setelah selesai dibakar, batu-batu tersebut lalu diletakkan dalam lubang besar dengan kedalaman 50 cm yang sebelumnya telah dipersiapkan. Dasar lubang tersebut dialasi dengan daun-daun pisang, rerumputan, atau daun talas. Kemudian di atas tumpukan batu diletakkan berbagai bahan makanan seperti ubi, jagung, pisang, sayuran, serta daging. Pada zaman dahulu, Barappen identik dengan daging babi. Namun, daging tersebut bisa diganti dengan ayam atau ikan, tergantung dari kondisi masyarakat.

Pariwisata Indonesia

Bahan makanan yang telah disusun kemudian ditutup dengan dedaunan dan diikat. Untuk menjaga ikatan tidak terlepas, di tumpukan paling atas diletakkan batu dan kayu-kayu sebagai pemberat. Meskipun terbilang rumit, makanan yang dihasilkan dengan teknik Barappen memiliki cita rasa yang lezat dan berbeda, seperti daging yang gurih dan masak sempurna hingga bagian dalam, tapi tidak mengeluarkan air.

Proses memasak dengan teknik Barappen bisa berlangsung selama 2-4 jam, tergantung dari jumlah bahan makanan. Prosesnya yang lama membuat Barappen dilakukan untuk memasak dengan jumlah yang besar dan dinikmati oleh masyarakat banyak.

Masyarakat lokal mengadakan Barappen dalam acara-acara yang mengumpulkan banyak orang, seperti kelahiran, perkawinan adat, pembukaan ladang, pengumpulan pasukan, penyambutan tamu penting, hingga menyambut Bulan Ramadhan. Barappen juga dilakukan sebagai salah satu cara untuk mendamaikan dua suku yang berselisih.

Sobat Pariwisata! Teknik yang telah berusia ratusan tahun ini terus diwariskan dan dilakukan oleh masyarakat Papua. Barappen memiliki banyak nilai moral, seperti gotong royong, kekeluargaan, persatuan, persamaan hak, keadilan, kekompakan, dan keikhlasan.

Pada tahun 2013, Barappen ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda Bersama.(Nita)