Bangsal Kencono Keraton

Berkunjung ke Rumah Sang Sultan

Yogjakarta merupakan salah satu daerah yang istimewa di Indonesia. Di sana, Sobat Pariwisata bisa menemukan nuansa keraton yang masih kental. Adat istiadat serta budaya Keraton Ngayogyakarta menjadi bagian dari nafas kehidupan masyarakat Jogja.

Salah satu warisan budaya Jogjakarta yang masih bisa kita temukan adalah Bangsal Kencono Keraton yang sampai saat ini masih dipergunakan oleh keluarga keraton. Rumah tradisional khas Yogyakarta yang telah menjadi cagar budaya ini menjadi salah satu kebanggaan masyarakatnya. Penasaran dengan rumah adat ini, yuk kita simak ulasannya.

Pariwisata Indonesia

Bangsal Kencono Keraton merupakan rumah adat Jogja yang bentuknya mirip dengan Rumah Joglo. Seperti Sobat Pariwisata ketahui, Rumah Joglo adalah rumah adat dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang umumnya dimiliki oleh kaum bangsawan. Perbedaan utama Bangsal Kencono dan Rumah Joglo terletak pada halaman dan teras rumah yang lebih luas.

Bangsal Kencono Keraton merupakan kediaman keluarga Keraton Yogyakarta beserta para abdi dalemnya. Selain itu, kompleks Bangsal Kencono juga digunakan sebagai pusat upacara adat dan ritual keagamaan. Bangunan ini didirikan pertama kali oleh Sultan Hamengkubuwono pada tahun 1756.

Pariwisata Indonesia

Seperti Rumah Joglo, Bangsal Kencono ditopang oleh banyak tiang di sudut-sudutnya. Di bagian tengah, terdapat empat tiang utama yang dinamakan sokoguru. Tiang-tiang ini dibangun dengan menggunakan material kayu nangka dan kayu jati yang dikenal kuat dan tahan lama. Atap Bangsal Kencono dibuat dengan model bumbungan tinggi dan memiliki genteng yang terbuat dari bahan tanah liat.

Bangsal Kencono dibangun dengan tema alam. Di halaman terdapat beberapa sarang burung dan berbagai tumbuhan. Bagi masyarakat Jogja sendiri, burung memiliki makna khusus. Burung yang dipelihara dalam lingkungan keraton bisa menjadi teman sekaligus hiburan bagi para sultan. Selain itu, burung juga dipercaya bisa memberikan tanda-tanda khusus berkaitan dengan alam.

Pariwisata Indonesia

Lantai Bangsal Kencono dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah yang ada di halaman. Untuk masuk ke sini, Sobat Pariwisata harus melewati beberapa anak tangga. Bahan yang digunakan untuk membuat lantai ini yaitu granit dan marmer.

Meskipun kental dengan nuansa kejawen, Bangsal Kencono juga mendapat sedikit pengaruh Belanda, Portugis, Cina, dan Hindu. Sobat Pariwisata dapat menemukan banyak ukiran unik dan indah di kediaman keluarga keraton ini.

Bangsal Kencono memiliki tiga bagian utama, yaitu bagian depan, bagian inti, dan bagian belakang. Pada bagian depan terdapat gladhag pangurakan (gerbang utama), alun-alun lor (lapangan untuk upacara, grebeg, sekaten, dan sebagainya), serta Masjid Gedhe.

Pariwisata Indonesia

Di bagian inti terdapat bangsal pagelaran (bangunan tempat punggawa bertemu sultan saat upacara resmi), Siti Hinggil Ler (tempat upacara resmi), Kamadhungan Ler (sidang untuk perkara yang mendapat ancaman hukuman mati), Sri Manganti (tempat menerima tamu kerajaan), Kedhaton (tempat tinggal sultan dan keluarganya), Kemagangan (tempat penerimaan abdi dalem, tempat berlatih, dan apel), serta Siti Hinggil Kidul (tempat gladi resik upacara, dan latihan prajurit). Sedangkan di bagian belakang terdapat alun-alun kidul dan plengkung nirbaya.

Saat berlibur ke Yogyakarta, jangan lupa mampir ke Bangsal Kencono ini ya, Sobat Pariwisata.(Nita)