Daya Tarik Maudu Lompoa

Tradisi yang Menjadi Magnet Wisatawan
Pariwisata Indonesia

Islam menjadi salah satu agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Agama ini dibawa oleh para pedagang yang umumnya berasal dari Jazirah Arab. Penyebaran agama ini dilakukan dengan berbagai pendekatan lokal yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Selain menyebarkan ajaran Islam, para dai juga membawa tradisi dan perayaan terkait agama tersebut. Salah satunya perayaan Maulid (hari lahir) Nabi Muhammad saw.

Pariwisata Indonesia

Di Sulawesi Selatan, tepatnya di Desa Cikoang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, perayaan Maulid Nabi atau disebut Maudu Lompoa, diadakan sesusai sejarah datangnya agama Islam ke daerah tersebut. Perayaan unik yang telah berlangsung ratusan tahun ini bahkan mampu mengundang minat wisatawan lokal hingga manca negara.

Menurut Bahasa Makassar, maudu berarti Maulid sedangkan lompoa berarti besar. Maudu Lompoa dapat diartikan sebagai peringatan Maulid Nabi yang terbesar atau Maulid Akbar. Maudu Lompoa merupakan puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang biasanya dilakukan di akhir bulan Rabi’ul Awal (sekitar tanggal 29 atau 30). Setelah pelaksanaan Maudu Lompoa, tidak diperbolehkan lagi ada perayaan Maulid Nabi di tahun Hijriah tersebut.

View this post on Instagram

Maudu Lompoa adalah prosesi peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan dan budaya suku Makassar. Secara etimologi Maudu Lompoa berasal dari bahasa Makassar, terdiri dari dua kata yaitu maudu dan lompoa. Maudu berarti maulid dan lompoa berarti besar, jadi Maudu Lompoa berarti Maulid Besar.Maudu Lompoa merupakan peringatan tahunan khas suku Makassar di Kabupaten Takalar yang berpusat di Sungai Cikoang. Tradisi Maudu Lompoa ini dahulu dipelihara oleh keluarga Sayyid Al'-Aidid. Diperingati setiap tahun di desa Cikoang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar dengan luas wilayah 566,51 km² dan penduduk ± 250.000 jiwa, berada provinsi Sulawesi Selatan. Rangkaian kegiatan peringatan kelahiran Nabi Muhammad ini sudah berlangsung satu minggu sebelumnya. Masyarakat mempersiapakan segala kebutuhan mulai dari kapal kayu, kain sarung, aneka telur, kertas warna warni serta berbagai bahan makanan yang nanti akan disusun dan ditata dalam sebuah kapal kayu. Puncak acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad inilah yang disebut Maudu Lompoa. Puncak acara berpusat di sekitar sungai Cikoang. Aneka kapal berhias warna warni serta alunan gendang tradisional saling bertabuh di sepanjang jalan desa Cikoang. Maudu Lompoa menjadi salah satu bukti meleburnya dua unsur yang berbeda, yaitu agama dan kebudayaan lokal Makassar yang membentuk sebuah tradisi budaya yang dipelihara dengan baik. Semua jenis lapisan masyarakat turut serta dengan suka cita dan antusias ikut bergabung bekerja dan bergotong-royong dalam merayakan tradisi Maudu Lompoa. Tradisi yang telah turun temurun berlangsung adalah sebagai bentuk ekspresi nyata masyarakat Kabupaten Takalar terhadap Nabi Muhammad SAW berserta keluarga Nabi. Banyak hal menarik yang bisa kita saksikan pada tradisi Maudu Lompoa yaitu kapal kayu yang disebut julung-julung oleh masyarakat takalar akan dihias semenarik mungkin. Di dalam kapal yang dihias tersebut akan diisi dengan berbagai macam bahan pokok antara lain yang paling banyak ditemukan adalah telur yang diwarnai aneka warna hingga tampil mencolok dan meriah, dihias juga dengan hasil bumi berupa padi, ubi, sayur dan buah-buahan. #maudulompoa

A post shared by Fàtîmâ (@_03ftmsym) on

Persiapan untuk melakukan Maudu Lompoa dilakukan selama 40 hari. Persiapan acara dimulai dengan je’ne-je’ne sappara (mandi pada bulan Safar) yang dilakukan oleh masyarakat Cikoang dan dipimpin oleh pemuka agama. Persiapan lain yang juga dilakukan adalah menyediakan ayam, beras, minyak kelapa, telur, perahu, kertas warna-warni, pakaian, dan sebagainya. Ayam-ayam yang akan dijadikan jamuan dalam puncak perayaan harus dikurung selama 40 hari agar sehat dan hanya mendapat makanan yang bersih dan bagus.

Puncak acara Maudu Lompoa dilakukan di sekitar Sungai Cikoang. Acara ini ditandai dengan berlayarnya perahu yang dinamakan julung-julung. Julung-julung dihias sedemikian rupa menggunakan kain, beragam pakaian, dan kertaws warna-warni. Tradisi ini menjadi tanda bahwa Islam masuk ke daerah Cikoang melalui jalur perdagangan. Perahu juga erat kaitannya dengan kisah Sayyid Jalaluddin bin Muhammad Wahid Al’Adid.

Pariwisata Indonesia

Pada abad ke-16, Sayyid Jalaluddin yang merupakan keturunan ke-27 Nabi Muhammad datang dari  Hadramaut (Arab Selatan) ke Kerajaan Gowa, Sulawesi Selatan. Sayyid Jalaluddin kemudian menikah dengan putri bangsawan Gowa bernama I Acara’ Daeng Tamami binti Sultan Abdul Kadir Alauddin. Pada satu ketika, Sayyid Jalaluddin menitipkan istrinya di istana Balla Lompoa, Gowa, kemudian pamit untuk pergi dengan berbekal sajadah sebagai kendaraan dan ceret kecil untuk tempat berwudhu (menyucikan diri sebelum beribadah).

Setelah beberapa waktu perjalanan, Sayyid Jalaludin pun tiba di hulu Sungai Cikoang. Pada saat itu dua orang Ksatria Cikoang bernama I Bunrang dan I Danda melihat arah datangnya Sayyid Jalaluddin yang terlihat seolah-olah siluet perahu besar yang sedang berlayar. Ketika siluet perahu makin mendekat, ternyata didapati Sayyid Jalaluddin datang dengan menaiki sajadah yang terapung di air. Sayyid Jalaluddin pun menjadikan kedua ksatria itu sebagai murid dan mulai menyebarkan Islam di Desa Cikoang.

View this post on Instagram

#Repost @fajarr109 with @repostapp ・・・ – karna hidup penuh warna – . MAUDU LOMPOA DI CIKOANG. Part 2/3 . Dengan prinsip itu diyakini bahwa pemahaman ruhaniah secara hakekat terhadap Allah terlebih dahulu harus didahului dengan pemahaman mendalam atas kejadian dan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Masyarakat Cikoang mengenal dua proses kelahiran beliau, yaitu kelahiran di alam ghaib (arwah) dan kelahiran di alam syahadah (dunia). Kejadian di alam ghaib berwujud “Nur Muhammad” yang diciptakan Allah sebagai sumber segala makhluk yang daripada-Nyalah tercipta alam semesta ini. Masyarakat di Cikoang, khususnya para Sayyid, percaya bahwa Allah menyinari dan memberi cahaya langit dan bumi (bertajalli) melalui “Nur Muhammad” yang diciptakan Allah sebagai pokok kejadian segala makhluk dan rahmat bagi seluruh Alam. Sedangkan kelahiran beliau di alam syahadah ini diyakini merupakan kelahiran dengan membawa kebenaran yang mutlak untuk dipegangi. Sebagai upaya untuk menyinambungkan ikatan pada dua konsepsi dasar kelahiran Nabi, prosesi peringatan maulid menjadi sesuatu yang amat sakral. Masyarakat Takalar, khususnya keturunan Sayyid, meyakini sepenuhnya kelahiran Rasulullah SAW merupakan isyarat kemenangan, dan harus diwujudkan dalam penguatan ikatan cinta melalui maudu’ lompoa, kepada hazrat suci Nabi Pendaratan Sayyid Djalaluddin Di Cikoang. Dikisahkan, Sayyid Djalaluddin menikah dengan I Acara’ Daeng Tamami Binti Sultan Abdul Kadir Alauddin, seorang putri bangsawan kerajaan Gowa. Beliau tidak mendapatkan respon yang layak dari Sombaya di Gowa, karena ketidakjelasan identitas keturunan Sayyid. Beliau pamit pada Sombaya di Gowa dan kemudian menitipkan istrinya di Balla Lompoa, Gowa. Atas izin Allah SWT, Sayyid meninggalkan Balla Lompoa dengan menggunakan sehelai sajadah (tikar sembahyang) sebagai kendaraan pribadinya dan sebuah tempat air wudhu (cerek) menemaninya. Dalam waktu sekejab, Sayyid sudah sampai di sebelah utara pulau Tanakeke, kemudian sebelah utara Sungai Bontolanra, Parappa, Sanrobone, dan Sungai Maccinibaji. . #warnawarninusantara2 #anakhuntingseru #budayaindonesia #indonesiaculture #kampanyebudaya #Ayoketakalar #budaya #tradisi #visitsouthsulawesi #maudulompoa

A post shared by #KampanyeBudaya (@kampanyebudaya) on

Selain dihias, perahu juga diisi dengan berbagai jenis barang dan hasil bumi, seperti pakaian, perlengkkapan mandi, telur warna-warni, padi, ubi, sayur, buah-buahan, serta baku maudu. Baku maudu adalah bakul besar yang terbuat dari anyaman lontar dan berisi nasi pamatara (setengah matang) dan ayam panggang yang sebelumnya telah dikurung.

Acara ini juga diisi ceramah dari pemuka agama, pembacaan zikkiri’ (sholawat pada Nabi), Sura’ Rate (riwayat sejak Nabi Muhammad dilahirkan hingga saat Islam dibawa oleh Sayyid Jalaluddin), atraksi mappenca’ (pencak silat), serta diiringi oleh tabuhan gendang yang membuat suasana makin meriah.

Akhir Maudu Lompoa ditandai dengan acara pambageang kanre maudu’ atau pembagian makanan Maulid. Seluruh isi perahu termasuk pakaian dan makanan akan dibagikan kepada masyarakat sekitar yang ikut menyaksikan perayaan tersebut. Kemeriahan semakin bertambah-tambah saat masyarakat saling berebut telur warna-warni di tepi Sungai Cikoang sebagai wujud syukur dan rezeki yang melimpah.

Meriahnya perayaan Maudu Lompoa menjadikan Desa Cikoang dikenal dengan sebutan Kampung Maulid. Acara ini bukan hanya sekedar perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tapi juga ajang silaturrahim warga dan daya tarik para wisatawan dalam maupun luar negeri loh, Sobat Pariwisata!(Nita/RPI)