Dulohupa

Rumah Tradisional Gorontalo
Pariwisata Indonesia

Nenek moyang telah meninggalkan banyak warisan untuk kita, berupa benda, kebudayaan, hingga adat istiadat. Sayangnya, beberapa peninggalan tersebut harus kalah dimakan usia dan zaman. Seperti rumah-rumah adat yang ada di Provinsi Gorontalo.

Pariwisata Indonesia

Provinsi ini sebenarnya memiliki beberapa rumah adat, tapi keberadaannya sudah hilang karena perubahan zaman. Namun, beberapak pihak mencoba membangun replikanya agar masyarakat mengenal rumah adat tersebut. Meskipun replika tersebut tidak benar-benar sama dengan aslinya, tapi pembangunannya sesuai dengan nilai-nilai filosofis yang terkandung.

Salah satu replika rumah adat tersebut terletak di Kelurahan Limba, Kecamatan Kota Selatan, Gorontalo. Rumah yang dibangun oleh Rachmad Gobel pada tahun 2000 ini bernama Rumah Adat Dulohupa . Namun, penduduk Gorontalo menyebutnya dengan nama Yiladia Dulohapu Lo Ulipu Hulondhalo.

Dalam bahasa lokal, Dulohupa berarti mufakat. Penamaan ini disesuaikan dengan fungsi rumah tersebut di masa lalu, yaitu sebagai tempat untuk melakukan musyawarah. Di masa raja-raja, rumah ini juga digunakan untuk mengadili para penjahat. Di zaman sekarang, fungsi Rumah Adat Dulohupa pun bergeser menjadi tempat untuk melaksanakan pernikahan, penerimaan tamu kenegaraan, dan berbagai upacara-upacara adat.

Karena merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat musyawarah, Rumah Adat Dulohupa tidak memiliki banyak sekat di bagian dalamnya. Bagian dalamnya berupa ruangan yang lowong. Sementara di bagian depan terdapat Di bagian depan Rumah Adat Doluhapa terdapat anjungan yang digunakan sebagai tempat istirahat raja dan kerabat istana.

View this post on Instagram

#RumahAdatDulohupa. #RumahAdat #Dulohupa adalah Rumah adat di daerah #Gorontalo. Gorontalo dalam bahasa masyarakat setempat adalah #Hulondhalo. Rumah adat Dulohupa sebagai representasi kebudayaan masyarakat Gorontalo memiliki fungsi yang penting dalam kehidupan masyarakat Gorontalo. Rumah adat Dulohupa yang memiliki bentuk fisik panggung serta memiliki pilar kayu sebagai bagian dari hiasan merupakan rumah adat yang memiliki fungsi sebagai balai musyawarah, pengadilan kerajaan bagi pengkhianat kerajaan dengan sidang tiga tahap pemerintahan yaitu #BuwatuloBala (#TahapKeamanan), #BuwatuloSyara (#TahapHukumAgamaIslam) dan #BawatuloAdati (#TahapHukuAdat) dan merencanakan kegiatan pembangunan daerah serta menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat setempat. Nama Dulohupa memiliki arti mufakat untuk merencanakan sebuah kegiatan pembangunan serta menyelesaikan persoalan masyarakat setempat maka rumah Dulohupa adalah tempat untuk bermusyawarah. Saat ini, rumah adat Dulohupa dipakai juga untuk upacara adat pernikahan. Saat ini rumah adat Dulohupa berada di kelurahan Limba, kecamatan kota Selatan, Kota Gorontalo. Tepatnya di seputaran jalan #PulauKalengkoan, jalan Agus Salim serta jalan Trans limboto-Isimu. Rumah (Panggung) Dulohupa yang biasa disebut masyarakat Gorontalo #YiladiaDulohupaLoUlipuHulondhalo terbuat dari kayu sebagai simbol dari rumah adat Gorontalo yang memiliki kekhasan yang lain yaitu di depan rumah kedua belah sisinya terdapat anak tangga yang disebut #Tolitihu

A post shared by Chubby Chan_Susianty A Enrang (@susiantyaenrang) on

Rumah adat ini dibangun dengan nilai filosofis yang dimiliki masing-masing bagiannya. Rumah Adat ini dibangun dengan bentuk rumah panggung. Selain untuk menghindari banjir yang kerap melanda pada saat itu, desain rumah panggung juga menggambarkan rumah sebagai tubuh manusia. Bagian atap menyimbolkan kepala, badan rumah menggambarkan badan, serta penyangga rumah menggambarkan kaki.

Salah satu ciri khas Rumah Adat Dulohupa terlihat dari pilar-pilar penyangga rumah. Di bagian depan terdapat dua buah pilar utama yang disebut wolihi, yang merupakan simbol persatuan dan kesatuan yang kekal abadi antara dua bersaudara, Gorontalo dan Limboto, pada tahun 1664.

Selain pilar utama, terdapat enam pilar depan yang menempel dari tanah langsung ke atap. Jumlah pilar ini menggambarkan enam sifat utama atau ciri penduduk lou dulowo limo lo pahalaa, yaitu tombulao (hormat), tinepo (tenggang rasa), tombulu (bakti pada penguasa), wuudu (sesuai kewajaran), dan butoo (taat pada keputusan hakim). Pilar lain yang terdapat dalam rumah adat ini adalah potu atau pilar dasar yang berjumlah 32 buah. Ketiga puluh dua pilar ini menggambarkan 32 penjuru mata angin.

Pariwisata Indonesia

Material yang digunakan untuk pembangunan rumah adat ini berasal dari kayu cokelat dan kayu hitam. Kayu cokelat biasanya digunakan untuk bagian pintu, jendela, lantai, dan dinding. Sementara kayu hitam digunakan untuk bagian kusen, pagar balkon, pegangan tangga, hingga ukiran.

Atap Rumah Adat Dulohupa berbentuk pelana yang disusun dua dan terbuat dari bahan jerami terbaik. atap bagian atas menggambarkan kepercayaan masyarakat Gorontalo terhadap kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa, yang harus menduduki posisi teratas dibanding kepentingan yang lain. Sedangkan atap di bawahnya menggambarkan kepercayaan masyarakat Gorontalo terhadap adat istiadat.

Pada zaman dahulu, di bagian atap terdapat talapua, yaitu sepasang kayu yang dibentuk bersilang. Talapua dipercaya mampu menangkal roh jahat yang hendak memasuki rumah. Seiring dengan masuknya agama Islam di Gorontalo, talapua pun tidak lagi dipasang.

Rumah Adat Dulohupa memiliki dua buah anak tangga yang disebut tolitihu, yang berada di masing-masing sisi. Tangga ini terdiri dari 5 atau 7 anak tangga. Angka lima merupakan simbol rukun Islam dan filosofi hidup masyarakat Gorontalo, yaitu bangusa talalo (menjaga keturunan), lipu poduluwalo (mengabdikan diri untuk bela negara), dan batanga pomaya, upango potombulu, nyawa podungalo (mempertaruhkan nyawa untuk mewakafkan dan mengorbankan harta). Sedangkan angka tujuh menyimbolkan tingkat nafsu manusia yaitu amarah, lauwamah, mulhimah, muthmainnah, rathiah, mardhiah, dan kamilan.

Sobat Pariwisata, Kehadiran replika Rumah Adat Dulohupa diharapakan bisa menjadi bahan pembelajaran bagi generasi muda Gorontalo maupun yang lain. Nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya menyiratkan bahwa nenek moyang Gorontalo menjunjung tinggi kepercayaan, prinsip, serta adat istiadat. Nilai-nilai baik yang selayaknya juga dijunjung tinggi oleh para generasi muda.(Nita)