Gong Perdamaian Nusantara

Merajut Persatuan dalam Keberagaman
Pariwisata Indonesia

Indonesia adalah negara besar dengan beragam suku bangsa, agama, dan ras. Perbedaan ini seperti dua mata pisau. Di satu sisi dapat menjadi kekuatan yang akan membesarkan Indonesia, tapi bisa juga menjadi pemicu konflik yang mengancam keutuhan bangsa dan negara jika tidak dijaga dengan baik.

Keberagaman menjadi salah satu pembahasan yang dilakukan pada tahun 1928 silam. Pada saat itu, para pemuda dari berbagai wilayah Indonesia bersepakat untuk menyatukan keberagaman tersebut dalam sebuah keputusan kongres yang akhirnya dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Hal ini menjadi tonggak awal pejuangan meraih kemerdekaan Indonesia.

Pariwisata Indonesia

Meskipun telah merdeka, konflik yang melibatkan bentrokan suku maupun agama masih terjadi di Indonesia yang menyebabkan banyak kerugian materi hingga korban jiwa. Konflik-konflik ini menjadi ujian dalam kehidupan bernegara sekaligus ancaman bagi keutuhan bangsa. Meskipun begitu, sebagian besar rakyat Indonesia tetap teguh untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengingatkan rakyat Indonesia bahwa perbedaan tidak boleh menjadikan bangsa ini terpecah belah. Salah satunya dengan membangun Gong Perdamaian Nusantara di berbagai wilayah yang ada di Indonesia.

Pariwisata Indonesia

Pembuatan Gong Perdamaian Nusantara berawal dari ide Djuyoto Suntani, pada awal tahun 2000. Presiden Komite Perdamaian Dunia ini merasa prihatin dengan konflik horizontal yang kerap terjadi di Indonesia dan mengancam keutuhan bangsa.

Seperti namanya, Gong Perdamaian Nusantara berbentuk bulat seperti alat musik gong dengan diameter sekitar 2 meter. Cara membunyikannya pun sama, yaitu dengan dipukul bagian tengahnya. Gong yang terbuat dari campuran logam ini memiliki warna kuning keemasan.

Pariwisata Indonesia

Gong Perdamaian Nusantara terbagi menjadi empat lingkaran yang masing-masing memiliki nilai filosofis. Di lingkaran terluar, terdapat 444 logo dan nama kabupaten serta kota dari seluruh Indonesia, sebagai lambang bahwa seluruh rakyat Indonesia mendukung upaya perdamaian dan persatuan ini.

Di bagian kedua terdapat 33 lambang dan provinsi di Indonesia (pada saat Gong Perdamaian Nusantara dibuat, Kalimantan Utara belum berdiri menjadi provinsi sendiri). Di lingkaran selanjutnya terdapat 5 agama besar resmi di Indonesia, yaitu Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghuchu. Sedangkan di bagian inti terdapat gambar pulau Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Gong Perdamaian Nusantara awalnya dibuat sebanyak 5 buah sesuai banyaknya sila dalam Pancasila. Dalam perkembangannya, jumlah gong pun bertambah dan tersebar di beberapa wilayah Indonesia, seperti Yogyakarta, Palu (Sulawesi Tengah), Singkawang (Kalimantan Barat), Kupang (Nusa Tenggara Timur), Purworejo (Jawa Tengah), serta Mamuju (Sulawesi Barat).

Pariwisata Indonesia

Pembangunan Gong Perdamaian di berbagai wilayah diharapkan menjadi pengingat bahwa meskipun memiliki keberagaman Suku, Agama, bahasa daerah, dan Ras, rakyat Indonesia tetap disatukan dalam Tanah, Bangsa, dan Bahasa Indonesia.

Sobat Pariwisata! Selain sebagai pengingat makna Bhineka Tunggal Ika, Gong Persaudaraan Nusantara juga menjadi spot pariwisata yang kerap dikunjungi para wisatawan. Semoga apapun usaha yang dilakukan semakin membuat bangsa ini utuh dalam persatuan, meskipun memiliki banyak keanekaragaman. Seperti semangat awal para pemuda yang menghasilkan Sumpah Pemuda.(Nita)