Gordang Sambilan

Gendang Khas Mandailing Natal
foto: apakabarsidimpuan.com

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, Sumatera Utara adalah provinsi yang kaya akan kesenian, termasuk alat musik tradisional. Dari alat musik tiup, pukul, hingga gesek. Kali ini, redaksi akan mengulas salah satu alat musik dari provinsi yang beribukota di Medan ini.

Baca juga :  Siwaluh Jabu

Gordang Sambilan, adalah alat musik pukul yang berasal dari Mandailing Natal, Sumatera Utara. Sesuai namanya, alat musik ini terdiri dari Sembilan buah gordang atau gendang. Kesembilan gendang yang besar dan panjang ini memiliki ukuran diameter yang tidak sama sehingga menghasilkan nada yang berbeda-beda.

Baca juga :  Serampang Dua Belas

Asal muasal angka sembilan dalam alat musik ini masih merupakan misteri. Ada yang berpendapat bahwa jumlah sembilan gendang disesuaikan dengan jumlah raja yang berkuasa di Mandailing Natal pada masa itu, yaitu Nasution, Pulungan, Rangkuti, Hasibuan, Lubis, Matondang, Parinduri, Daulay, dan Batubara.

Sementara pendapat lain mengatakan bahwa gendang berjumlah sembilan tersebut disesuaikan dengan jumlah pemainnya pada masa itu, yang terdiri dari raja, naposo bulung (kaum muda), anak boru, dan kahanggi.

Menurut cerita turun-temurun, Gordang Sambilan telah diperkenalkan sejak zaman Kerajaan Nasution, tepatnya sejak tahun 1575 oleh Raja Sibaroar. Bagi masyarakat Mandailing Natal, Gordang Sambilan merupakan alat musik yang sakral. Saat agama samawi belum tiba di daerah ini, alat musik ini kerap digunakan sebagai alat untuk memanggil arwah nenek moyang dalam ritual yang bernama Paturuan. Arwah nenek moyang yang masuk ke dalam medium bernama Sibaso itu lalu diminta untuk membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi, misalnya wabah penyakit.

Baca juga :  Ni’owuru

Alat musik ini juga kerap dimainkan sebagai sarana untuk meminta hujan saat kekeringan melanda. Sebaliknya meminta dihentikan hujan saat hujan berlangsung terus menerus dan telah menimbulkan kerusakan atau bencana.

Gordang Sambilan biasanya dimainkan dalam Horja Godang Markaroan Boru (upacara perkawinan) dan Horja Mambulungi (upacara kematian). Jika menggunakan alat musik ini untuk kepentingan pribadi, maka dibutuhkan ijin dari raja sebagai kepala pemerintahan dan dari Namora Natoras sebagai pemimpin tradisional melalui musyawarah adat yang disebut markobar adat.

Selain itu, pihak yang bersangkutan juga harus menyembelih minimal satu ekor kerbau jantan dewasa yang sehat. Jika syarat tersebut tidak mampu dipenuhi, maka ia tidak boleh menggunakan Gordang Sambilan.

Pada masa penjajahan Kolonial Belanda, Gordang Sambilan ditabuh sebagai bentuk perlawanan terhadap para penjajah. Gendang ini dipukul untuk menandakan kedatangan tentara Belanda sekaligus sebagai perintah pada para penduduk untuk segera mengungsi.

Seiring perkembangan zaman, alat musik ini juga ditampilkan di berbagai acara, seperti penyambutan tamu-tamu agung, festival budaya, hari raya, hingga dalam gelaran acara internasional seperti acara pembukaan Asian Games 2018 di Palembang.

Alat musik Gordang Sambilan dibuat dari material kayu, yang bagian dalamnya dikosongkan. Salah satu ujung kayu tersebut ditutupi dengan membran yang berasal dari kulit lembu. Bagian inilah yang dipukul dengan menggunakan tongkat kayu dan menghasilkan nada merdu yang menggetarkan.

Untuk memainkan Gordang Sembilan dibutuhkan penabuh yang jumlahnya tidak baku, bisa lima atau enam orang. Kesembilan gendang tersebut disusun berjajar dari yang terkecil hingga terbesar. Agar menghasilkan irama yang indah.

Gordang Sambilan juga dilengkapi dengan beberapa alat musik lain, seperti ogung boru atau ogung betina (gong berukuran paling besar), ogung jantan (gong yang berukuran lebih kecil), doal (gong yang lebih kecil lagi), salempong (gong berukuran paling kecil), sarune, dan tali sasayat.

Pada tahun 2013, Gordang Sambilan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Sumatera Utara.(Nita)