Gurindam Dua Belas

Mahakarya Sastra dari Kepulauan Riau
Foto: yopiefranz.com

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, masyarakat Indonesia telah mengetahui bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa besar ini. Hal ini telah dikukuhkan dalam Kongres Pemuda kedua pada tanggal 28 Oktober 1928, yang lebih dikenal dengan Sumpah Pemuda.

Bahasa Indonesia pada dasarnya berpijak pada Bahasa Melayu yang pada masa itu banyak dituturkan oleh masyarakat Indonesia. Salah satu orang yang berperan dalam perkembangan bahasa ini adalah Raja Ali Haji (1808-1873) yang menulis kamus ekabahasa pertama di Nusantara.

Pariwisata Indonesia
Foto: tajdid.id

Raja Ali Haji adalah tokoh berdarah Melayu dan Bugis yang lahir di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Selain sebagai ulama, sejarawan, dan pujangga tokoh ini juga mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional. Beliau juga memiliki beragam maha karya, salah satunya Gurindam Dua Belas.

Gurindam Dua Belas yang selesai ditulis pada tahun 1847 adalah pembaru arus sastra pada masa itu. Dinamakan Gurindam Dua Belas karena karya ini terdiri dari 12 pasal yang berisi nasehat dan petunjuk untuk mendapatkan ridha dari Allah. Dalam gurindam dua belas terdapat nasehat tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, budi pekerti, hingga tata cara hidup bermasyarakat.

Pariwisata Indonesia
Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Gurindam Dua Belas dikategorikan sebagai syi’r al-irsyadi (puisi didaktik). Adapun isi Gurindam Dua Belas, antara lain yaitu:

Ini Gurindam pasal yang pertama:

Barang siapa tiada memegang agama,

Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Barang siapa mengenal yang empat,

Maka ia itulah orang yang ma’rifat

Barang siapa mengenal Allah,

Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

Barang siapa mengenal diri,

Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.

Barang siapa mengenal dunia,

Tahulah ia barang yang teperdaya.

Barang siapa mengenal akhirat,

Tahulah ia dunia mudarat.

Ini Gurindam pasal yang kedua belas:

Raja mufakat dengan menteri,

Seperti kebun berpagarkan duri.

Betul hati kepada raja,

Tanda jadi sebarang kerja.

Hukum ‘adil atas rakyat,

Tanda raja beroleh ‘inayat.

Kasihkan orang yang berilmu,

Tanda rahmat atas dirimu.

Hormat akan orang yang pandai,

Tanda mengenal kasa dan cindai.

Ingatkan dirinya mati,

Itulah asal berbuat bakti.

Akhirat itu terlalu nyata,

Kepada hati yang tidak buta.

Sobat Pariwisata, pada tahun 2013, Gurindam Dua Belas ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Kepulauan Riau.(Nita)