Jatung Utang

Melodi Lembut Khas Suku Dayak Kenyah

Meskipun menjadi provinsi termuda di Indonesia, Kalimantan Utara terus meraih berbagai prestasi terutama di bidang kebudayaan. Per tahun 2019 saja, provinsi yang resmi berdiri pada tanggal 25 Oktober 2012 ini, telah memiliki 19 warisan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Salah satunya adalah alat musik tradisional Jatung Utang.

Pariwisata Indonesia

Jatung Utang adalah alat musik pukul Suku Dayak Kenyah di Kalimantan Utara. Alat musik ini memiliki bentuk seperti gambang. Cara memainkannya pun hampir sama, yaitu dipukul dengan menggunakan dua buah kayu yang terpisah.

Jatung Utang terbuat dari material bilah kayu Lempung dan kayu Meranti yang telah dikeringkan. Kayu dengan diameter sekitar 5-10 cm ini kemudian dibelah dua dan dipotong dengan panjang yang berbeda-beda, antara 20-50 cm.

Bilah kayu sebanyak 9-13 buah ini lalu diserut dan dikikis bagian dalamnya, untuk mendapatkan nada yang diinginkan. Proses ini sangat membutuhkan ketajaman pendengaran dari sang pengrajin. Kemudian, bilah-bilah tersebut disusun di rangka segi empat yang bagian tengahnya terbuka. Rangka ini dihiasi dengan ukiran-ukiran khas Suku Dayak.

Penyusunan bilah-bilah harus dilakukan berurutan, dari ukuran paling pendek hingga paling panjang. Bilah pendek untuk menghasilkan nada tinggi, sementara bilah panjang untuk menghasilkan nada rendah. Agar tidak lepas, bilah-bilah ini pun diikat dengan seutas tali di kedua ujungnya.

Pariwisata Indonesia

Untuk memukul Jatung Utang, diperlukan alat yang disebut dengan Tit atau Petit. Alat ini terbuat dari kayu berdiameter 3 cm dengan panjang sekitar 20 cm. Petit dibuat dua buah yang akan dimainkan oleh masing-masing tangan, yang bertugas sebagai melodi juga pengiring.

Jatung Utang juga dikenal dengan nama Geng Galeng (Kenyah Lepo Maut) dan Tokendung Telung (Ngaju). Alat musik tradisional ini bisa dimainkan dengan dua cara. Yang pertama dimainkan dengan posisi horizontal dimana pemain harus berdiri untuk membawakannya. Sedangkan yang kedua dimainkan dengan posisi vertikal dimana pemain menyelonjorkan kedua kaki dan meletakkan alat musik ini di atasnya. Pemain kemudian membawakan Jatung Utang dengan posisi duduk.

Penemuan Jatung Utang terjadi dengan tidak sengaja. Pada zaman dahulu, petani yang sedang beristirahat di sawah mencari kegiatan untuk mengisi waktu luang. Mereka pun mengumpulkan batang-batang kayu bekas pembukaan ladang, membariskannya dengan bantuan tali, kemudian memukulnya sembari mencocokkan dengan nada-nada yang dikeluarkan oleh Sampek (gitar berdawai tiga).

Selain sebagai hiburan dan mengisi waktu luang para petani, Jatung Utang juga dimainkan sejak musim tanam hinga panen, untuk mengusir hewan yang kerap merusak tanaman, seperti monyet, babi, rusa, dan burung.

Pada zaman sekarang, Jatung Utang biasanya dimainkan sebagai musik pengiring dalam upacara adat, seperti pernikahan dan pesta panen adat. Alat musik ini juga kerap dimainkan untuk mengiringi lagu dan tarian Suku Dayak Kenyah. Biasanya, Jatung Utang dibawakan bersamaan dengan alat musik Sampek. Alunan lembut Jatung Utang membuat para pendengarnya terhanyut dalam buaian melodi khas pedalaman Pulau Borneo.(Nita)