Kain Tenun Ikat khas NTT

Kain Kuno Bernilai Tinggi
umi kalsum founder dan ceo media pvk grup,INDONESIA TOURISM INVESTMENT,INDONESIA'S OFFICIAL TOURISM WEBSITE,KAIN TENUN KHAS NTT,KAIN TENUN NUSA TENGGARA TIMUR,KETUA DEWAN KERAJINAN NASIONAL DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR JULIE LAISKODAT,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA PVK GRUP,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA INDONESIA,WEBSITE RESMI PARIWISATA INDONESIA,WISATA BUDAYA NTT,Berita pariwisata
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Julie Laiskodat berkomitmen mengembangkan kerajinan tenun ikat buatan masyarakat lokal

PariwisataIndonesia.ID – Jika Pulau Jawa terkenal dengan Batik, Nusa Tenggara Timur terkenal dengan kain tenunnya. Selain terkenal di Indonesia, kain tenun ini juga terkenal hingga manca negara. Bahkan, kain ini pernah tampil di acara Culture New York Fashion Week pada tahun 2017, dan Paris Fashion Week pada tahun 2018. Penasaran dengan kain khas Nusa Tenggara Timur ini?

Kain tenun ikat adalah kain yang dibuat dengan cara memasukan benang pakan secara horizontal pada benang-benang lungsin yang biasanya telah diwarnai dan diikat terlebih dahulu. Kain tenun ikat termasuk kekayaan NTT yang teknik pembuatannya telah diwariskan turun-temurun. Kain ini diduga telah ada sejak abad ke-3 Masehi, saat kerajaan hadir di NTT.

Kehadiran kain ini, dipercaya beriringan dengan perkembangan seni dan budaya. Menurut penelitian, nenek moyang Nusa Tenggara Timur yang berasal dari ras Astromelanesoid, Mongoloid, Negroid, dan Eropoid, telah mendiami pulau tersebut sejak 3.500 tahun yang lalu.

Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur, bisa menenun menjadi salah satu pertanda bahwa seorang perempuan telah siap untuk menikah. Maka tidak heran, jika banyak perempuan di provinsi ini yang memiliki keterampilan menenun. Kain tenun ikat NTT memiliki banyak fungsi, seperti sebagai busana, mahar, penunjuk status sosial, alat transaksi, bentuk penghargaan pada tamu, serta penghormatan pada acara kematian.

Meskipun kain tenun ikat bisa ditemukan hampir di seluruh provinsi Nusa Tenggara Timur, tapi masing-masing daerah memiliki motif yang berbeda. Misalnya, di Sumba Timur terdapat motif tengkorak, dan Maumere terdapat motif hujan, pohon, dan ranting. Ada pula motif-motif lain yang menampilkan keberagaman flora, fauna, hingga legenda.

umi kalsum founder dan ceo media pvk grup,INDONESIA TOURISM INVESTMENT,INDONESIA'S OFFICIAL TOURISM WEBSITE,KAIN TENUN KHAS NTT,KAIN TENUN NUSA TENGGARA TIMUR,KETUA DEWAN KERAJINAN NASIONAL DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR JULIE LAISKODAT,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA PVK GRUP,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA INDONESIA,WEBSITE RESMI PARIWISATA INDONESIA,WISATA BUDAYA NTT,Berita pariwisata
Mottif Kain Tenun Ikat khas NTT

Jika pada masa lalu penggunaan kain tenun ikat hanya sebatas selendang, selimut, dan busana, di masa kini penggunaan itu makin bervariasi. Selain dijadikan busana, seperti kemeja, jaket, gaun, atau baju, kain tenun ikat juga dijadikan beragam aksesoris seperti dompet, sepatu, gelang, cincin, tempat pensil, dan sebagainya. Harganya pun cukup tinggi. Selembar kain tenun ikat dibandrol dari harga ratusan ribu hingga ratusan juta.

Harga yang tinggi sebanding dengan kualitas kain, motif, serta pembuatannya yang rumit. Proses pembuatan selembar kain bahkan bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan, karena beberapa tahap yang harus dilalui. Pada tahap pertama, penenun harus memintal kapas yang langsung diambil dari pohon kapas. Pemintalan ini menggunakan alat tradisional dan nantinya dihasilkan benang-benang yang tidak terlalu halus, dan menimbulkan corak asimetris pada kain tenun ikat. Hal ini menjadi salah satu keunikan kain tenun khas NTT.

Setelah proses pemintalan, benang-benang pun dicelupkan dalam larutan warna-warni. Pewarnaan tradisional biasanya menggunakan daun ru dao (warna nila), akar pohon ka’bo (warna merah), kunyit (warna kuning), dan sebagainya. Proses pewarnaan secara tradisional bisa dilakukan berkali-kali dan memakan waktu berminggu-minggu untuk mendapatkan warna yang bagus.

Seiring perkembangan zaman, beberapa pengrajin mulai menggunakan pewarna kimia yang dianggap memiliki ragam warna yang lebih variatif, lebih praktis, dan tidak mudah luntur.

Setelah warna meresap dan benang mengering, benang-benang tersebut lalu diikat di mesin tenun tradisional yang disebut Lana Her’ru. Proses pengikatan dan pembentukan pola membutuhkan ketelitian dan kreatifitas penenun. Yang membedakan proses pembuatan kain tenun NTT dengan daerah lain yaitu benang lungsin menjadi benang yang diikat secara vertikal di mesin.

Sementara benang pakan akan dimasukan secara horizontal. Hal penting yang tidak boleh terlewatkan yaitu sebelum pembuatan kain tenun ikat, pengrajin akan bertapa dan berdoa agar mendapatkan ide gambaran motif yang akan dibuat, diberi kelancaran dalam menenun, serta dijauhkan dari bala selama proses penenunan.

Sobat Pariwisata! Harga yang tinggi memang sebanding dengan kualitas dan kerumitan proses pembuatan. Meskipun begitu, kain tenun ikat cukup digemari baik bagi kalangan dalam negeri maupun luar negeri. Yuk, jaga dan lestarikan kekayaan ini. (Nita)

Foto headline, sumber: geonusantara,org