Kalabubu

Pelindung Leher dari Nias Selatan
Pariwisata Indonesia
foto: pinterest.com

Sobat Pariwisata, jauh sebelum agama samawi masuk ke Pulau Nias, suku lokal kerap melakukan ritual mangai binu atau perburuan kepala. Untuk melindungi anggota suku dari perburuan tersebut, suku di Nias Selatan menggunakan aksesoris pelindung diri. Salah satunya kalabubu.

Kalabubu merupakan kalung yang bagian tengahnya tebal dan semakin menipis diujungnya. Kalabubu berasal dari bahasa lokal, yaitu kala yang berarti kalung dan bubu yang berarti leher. Aksesoris ini memang digunakan di bagian leher untuk melindungi pemakainya dari sabetan pedang para pemburu kepala.

Pariwisata Indonesia
foto: galerie-boho-boheme,com

Menurut Johannes Maria Hammerle (budayawan), sekitar abad ke-9 Masehi, perburuan kepala merupakan salah satu ritual suku di Nias Selatan. Ritual ini dilakukan sebagai pembuktian kedewasaan seorang pria. Pria yang berhasil membawa kepala musuh pada penghulu adat, maka diperbolehkan menikah. Status sosialnya dalam masyarakat pun naik, sehingga boleh mengikuti berbagai rapat adat. Jumlah kepala buruan pun menjadi syarat berapa jumlah wanita yang bisa dinikahi.

Selain sebagai syarat pernikahan, perburuan kepala juga dilakukan saat seorang penghulu adat meninggal. Jenazah harus disemayamkan bersama sekurang-kurangnya satu kepala musuh. Maka untuk memenuhinya, prajurit dari suku tersebut harus memburu kepala dari suku lain.

Untuk melindungi anggota suku dari perburuan kepala tersebut, maka dibuatlah kalabubu. Pelindung leher ini diyakini merupakan hasil pengaruh dari bangsa pendatang yang masuk ke Nias pada sekitar abad ke-15 Masehi.

Pada masa lalu, kalabubu dibuat dari bahan tanduk kerbau atau rusa. Namun, karena keberadaan hewan-hewan tersebut kian langka, dengan persetujuan pengulu adat, bahan untuk membuat kalabubu pun diganti dengan tempurung kelapa.

Bagian tempurung kelapa yang digunakan adalah sialawenia (bagian terkeras yang ada matanya). Tempurung ini kemudian dipotong berbentuk segiempat dengan berbagai ukuran dari terbesar hingga terkecil. Bagian tengah tempurung-tempurung tersebut lalu diberi lubang.

Tempurung-tempurung itu lalu disusun dengan memasukan sebilah besi sepanjang 70-80 cm ke dalam lubangnya. Agar posisi tempurung tidak goyah, maka disisipkan kayu keras di lubang tersebut. Bagian ujung kalabubu kemudian disatukan dengan kuningan. Setelah selesai, kalabubu pun dikikir hingga halus dan berbentuk seperti kalung.

Selain dari bahan tempurung kelapa, terdapat kalabubu yang terbuat dari emas yang khusus digunakan oleh kalangan bangsawan. Alih-alih pergi sendiri untuk memburu kepala musuh, kalangan bangsawan memilih memerintahkan orang lain untuk menjalankan tugas itu untuknya.

Pariwisata Indonesia

Saat agama samawi masuk ke Pulau Nias, perburuan kepala tidak lagi dilakukan karena tidak sesuai dengan ajaran agama. Namun, keberadaan kalabubu tetap dipertahankan. Kalung tersebut kemudian menjadi aksesoris dalam upacara adat atau pertunjukan tari tradisional. Selain itu, setiap rumah adat yang ada di Nias juga harus memiliki minimal sebuah kalabubu sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang.

Saat ini beberapa pengrajin kalabubu masih bisa ditemukan di Desa Lahusa Fau, Nias Selatan, meskipun jumlahnya tinggal sedikit. Mereka mendapat pengetahuan pembuatan kalabubu secara turun-temurun. Warisan kerajinan ini pun terus dilestarikan untuk menjaga keberadaan kalabubu.

Pada tahun 2017, kalabubu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Sumatera Utara. Sobat Pariwisata juga bisa memiliki kalabubu untuk koleksi dengan harga mulai dari 200.000 rupiah.(Nita)