Makan-makan di Upacara Robo-robo

Eratkan Silaturahmi lewat Tradisi
Pariwisata Indonesia

Robo-robo adalah tradisi turun temurun yang masih dilakukan oleh masyarakat, khususnya keturunan Keraton Mempawah. Nama Robo-robo diambil dari hari pelaksanaan tradisi ini yaitu rabu terakhir di bulan Safar tahun Hijriah. Meskipun dilakukan oleh keturunan keraton, tapi keunikan tradisi ini mampu menarik minat para wisatawan.

Pariwisata Indonesia

Tradisi ini dilakukan dengan tujuan memanjatkan doa untuk tolak bala dan mengindar dari petaka, serta memperingati tapak tilas kedatangan Opu Daeng Manambon (Pangeran Mas Surya Negara) ke Kabupaten Mempawah pada tahun 1737. Opu Daeng Manambon merupakan putra dari Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan yang menikah dengan Putri Kesamba, kemudian menjadi raja pertama Keraton Mempawah.

Pariwisata Indonesia

Sobat Pariwisata! Keturunan Opu Daeng Manambon dan Puri Kesamba inilah yang menurunkan raja-raja di Keraton Mempawah. Selain itu, Opu Daeng Manambon juga berjasa dalam penyebaran agama Islam juga peletak dasar keberagaman etnis di Mempawah. Makanya, keturunan dan masyarakat menggelar upacara ini sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya.

Tradisi Robo-robo berlangsung beberapa hari dengan beberapa rangkaian acara. Acara pertama diadakan di hari Senin dengan melakukan ritual buang-buang atau pelepasan puaka (satwa liar), seperti anak buaya. Acara yang dilakukan di hutan sekitar Istana Amantubillah ini sebagai bentuk kepedulian pihak keraton terhadap keberlangsungan mahluk hidup.

Pariwisata Indonesia

Acara pun dilanjutkan dengan kirab keraton, yaitu pawai berkeliling lingkungan keraton untuk memperlihatkan benda pusaka yang terdapat di dalam istana. Jika Sobat Pariwisata ingin melihat pusaka milik keraton, inilah saatnya.

Benda-benda pusaka ini kemudian di cuci sebagai usaha untuk merawat dan menjaganya. Pada malam harinya, di Masjid Jami Kerajaan dilakukan tahlilan, pembacaan Al-Qur’an, dan berdoa untuk keselamatan para keturunan Opu Daeng Manambo. Keesokan harinya, pihak keraton akan melakukan ziarah akbar ke makam Opu Daeng Manambon dan Raja-raja Mempawah lainnya.

Pariwisata Indonesia

Sebelum pelaksanaan puncak acara Robo-robo di hari Rabu, akan diadakan makan saprahan atau makan di luar rumah. Selain oleh lingkungan keraton, acara ini juga dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Mempawah di lingkungannya masing-masing. Dalam acara ini, semua pihak baik penduduk asli maupun pendatang tanpa mengenal jabatan dan status sosial, diperbolehkan untuk duduk berhadap-hadapan menikmati hidangan yang telah disiapkan.

Acara Robo-robo seolah-olah menjadi salah satu hari raya di Mempawah. Masyarakat sangat antusias dalam pelaksanaan, hingga tidak segan menyiapkan berbagai hidangan untuk dimakan bersama. Untuk bisa menampung banyak orang, makan saprahan biasa digelar di lapangan, gang-gang, halaman masjid, tepi jalan bahkan jembatan.

Pariwisata Indonesia

Upacara inti Robo-robo dilakukan oleh raja dan para laskar, dimulai dari Muara Sungai Kuala Secapah Mempawah. Dari atas perahu, rombongan akan menyusuri sungai dan mengenang kedatangan Opu Daeng Manambo ke Mempawah.

Tradisi Robo-robo ini sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak tanggal 27 Oktober 2016. Jika Sobat Pariwisata ingin mengikuti tradisi ini, jangan lupa menjadwalkan kedatangan ke Mempawah di minggu terakhir bulan Safar, ya!(RPI/Nita)