Mengintip Pasangan

Tari Saronde, Tari Kebahagiaan Calon Pengantin
pariwisata indonesia

Indonesia merupakan negeri yang kaya akan adat istiadat. Setiap wilayah di nusantara memiliki adat istiadat berbeda-beda, yang merupakan warisan nenek moyang dan masih dilestarikan secara turun-temurun. Adat istiadat itu banyak dipengaruhi oleh kepercayaan (agama) yang dianut hingga budaya yang dianut baik oleh penduduk lokal maupun pendatang.

Beberapa adat istiadat juga berkembang menjadi kesenian tradisional. Seperti yang ada di Provinsi Gorontalo. Di Kota Hulontalo ini terdapat salah satu adat istiadat yang kemudian berkembang menjadi kesenian yaitu Molapi Saronde atau Tari Saronde.

pariwisata indonesia

Tari Saronde atau Molapi Saronde berasal dari Bahasa Gorontalo, yaitu molapi yang berarti melempar atau menjatuhkan dan Saronde yang berarti selendang yang harum semerbak. Pada pelaksanaannya, tari ini memang menggunakan selendang sebagai properti utama.

Molapi Saronde pertama kali diadakan pada masa pemerintahan Raja Amai, tepatnya sekitar tahun 1525. Sang raja menjadikan Islam sebagai agama kerajaan dan membuat aturan yang menggabungkan adat dan syari’at. Aturan itu juga membatasi pergaulan antara perempuan dan laki-laki muda. Sehingga ketika hendak menikah, calon pengantin hanya bisa menerima calon pasangan yang telah dipilihkan kedua orang tua mereka.

pariwisata indonesia

Seperti yang tertuang dalam aturan adat, sebelum melakukan acara moponika (pernikahan), kedua pasangan harus menjalankan acara mopotilantahu (mempertunangkan) atau molihe huali (menengok/ mengintip calon istri). Tradisi ini dilakukan sebelum pelaksanaan akad nikah. Dalam tradisi ini terdapat rangkaian acara yang disebut molapi saronde.

Setelah berbagai rangkaian acara, calon pengantin laki-laki bersama orang tua atau walinya akan menarikan Tari Saronde atau molapi saronde dengan properti selendang berwarna hijau, kuning, atau kuning telur. Tarian yang diiringi tabuhan rebana serta nyanyian vokal ini dibawakan di sepanjang ruang tamu dengan gerakan penuh keceriaan dan kebahagiaan.

Sementara di kamar yang dekat dengan ruang tamu, calon pengantin perempuan akan duduk sambil memperhatikan. Momen tarian tersebut dijadikan kesempatan untuk saling mengintip wajah calon pasangan.

Pada tahun 2013, molapi saronde ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Provinsi Gorontalo. Meskipun telah berlalu beratus-ratus tahun, tradisi dan tari ini tetap dipertahankan dalam rangkaian pernikahan adat Gorontalo. Hal ini sekaligus menjadi salah satu identitas masyarakat Gorontalo.

Seiring perkembangan zaman, Tari Saronde mengalami banyak pengembangan. Saat ini, Tari Saronde tidak hanya dimainkan dalam tradisi molihe huali. Tari yang menjadi tari pergaulan ini pun kerap dimainkan dalam acara penyambutan tamu, pertunjukan seni, hingga festival budaya.

Biasanya, para penari terdiri dari 3 hingga 6 pasang perempuan dan laki-laki. Selain pengembangan gerakan, busana dan musik pengiring juga mengalami modifikasi sehingga lebih menarik. Tarian ini masih bertumpu pada tangan dan kaki, tapi dengan kreasi gerakan yang lebih bervariasi. Meskipun telah mengalami banyak modifikasi, Tari Saronde tetap tidak menghilangkan ciri khasnya, yaitu keceriaan dan kebahagiaan calon pengantin.(Nita/RPI)