Menunggangi Kuda Menari

Sayyang Pattudduq, Tradisi Khatam Qur’an Suku Mandar
Pariwisata Indonesia

Siapa bilang hanya manusia yang bisa menari? Di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, kuda pun bisa menari. Nama tariannya adalah Sayyang Patuddu. Penasaran dengan tarian hewan berkaki empat ini? Simak ulasannya berikut.

Pariwisata Indonesia

Sayyang Pattudduq berasal dari Bahasa Mandar yaitu kata sayyang yang berarti kuda dan pattundduq yang berarti menari. Tidak hanya manusia, Suku Mandar juga melatih kuda-kuda mereka untuk bisa menyajikan gerakan-gerakan tubuh yang sesuai irama dalam Sayyang Pattudduq. Sayyang Pattudduq sebenarnya merupakan salah satu tradisi dari Suku Mandar di Sulawesi Barat. Tradisi ini erat kaitannya dengan agama mayoritas yang ada di daerah tersebut, yaitu agama Islam.

Pariwisata Indonesia

Pada masa lalu, kuda menjadi salah satu kendaraan istimewa. Hanya keluarga raja dan para bangsawan  yang boleh menaikinya. Pada abad ke-16, agama Islam masuk ke Desa Lapeo dan menjadi agama resmi di Kerajaan Balanipa. Dikisahkan bahwa keterampilan berkuda tidak hanya menjadi salah satu keharusan para putera bangsawan, tapi juga para santri. Oleh karena itu, para santri dituntut untuk dapat melatih kuda bergerak mengikuti irama. Inilah awal mula Sayyang Pattudduq.

Pada perkembangannya, Raja Kerajaan Balanipa menjadikan Sayyang Pattudduq sebagai bentuk penghargaan pada anak yang telah menamatkan bacaan Al-Qur’an (khatam Qur’an). Barang siapa yang telah khatam Qur’an dijanjikan diarak keliling kampung menaiki kuda. Hal tersebut pun menjadi motivasi, sehingga anak-anak berlomba-lomba untuk segera menamatkan bacaan Al-Qur’annya. Awalnya, hadiah itu hanya berlaku di kalangan kerajaan dan bangsawan. Seiring berjalannya waktu, menaiki kuda terlatih menjadi hadiah bagi seluruh rakyat.

Pariwisata Indonesia

Bagi masyarakat Suku Mandar, Sayyang Pattudduq bukan sekedar ritual biasa. Namun, menjadi salah satu hal wajib. Setidaknya, sepanjang hidup setiap masyarakat Suku Mandar harus naik kuda menari, yang artinya minimal ia harus menamatkan bacaan Al-Qur’annya. Bahkan, mereka tidak boleh menikah jika belum melakukan Sayyang Pattudduq.

Saat pelaksanaan Sayyang Pattudduq terdiri dari beberapa peserta. Pertama adalah pesaweang, yaitu gadis penunggang yang mengenakan Baju Pokko, baju adat Suku Mandar. Pesaweang duduk di depan dengan cara duduk yang tidak biasa. Satu kaki agak ditegakkan dengan tangan menopang di atasnya sambil memegang kipas. Sedangkan kaki yang lain ditekuk ke belakang dengan lutut menghadap ke arah depan.

 

Di belakang pesaweang, duduk mapatamma yaitu anak yang telah menamatkan bacaan Al-Qur’annya. Mapatamma mengenakan pakaian haji, yaitu pakaian yang khusus dikenakan oleh mereka yang telah bergelar haji (menunaikan ibadah haji). Bagi anak laki-laki mengenakan sorban, sedangkan anak perempuan mengenakan selendang sebagai penutup kepala.

Tidak hanya penunggangnya yang dirias. Kuda yang mengikuti Sayyang Pattudduq pun dihias sedemikian rupa. Kuda tersebut diberi aksesoris berupa kalung perak, penutup muka yang melingkkar, serta kacamata kuda. Di bagian punggung diletakkan kasur kecil sebagai tempat duduk pesaweang dan mapatamma.

View this post on Instagram

– Saiyyang Pattuqduq – Kuda Menari di Tanah Mandar Saiyyang artinya Kuda dan Pattuqdud artinya Penari sehingga bila digabungkan menjadi Kuda yang Menari, ahli memainkan gerakan kaki dan kepala. Tarian ini biasanya dimainkan pada acara syukuran dan selamatan anak yang telah khatam (tamat membaca) Al Qur’an. Si anak menunggang kuda dan diarak keliling kampung. Dalam pagelaran budaya ini, seekor kuda akan di hias sedemikian rupa layaknya kuda tunggangan seorang raja. Sementara untuk penunggangnya adalah warga suku Mandar yang sudah tamat dalam membaca Alquran, dihiasi memakai baju adat (baju 'bodo') lengkap dengan aksesorisnya serta dipayungi payung kehormatan kerajaan yang disebut 'Lallang Totamma'. Pada prosesnya, kuda yang telah di hiasi dan ditunggangi warga suku yang telah Khatam (tamat membaca) Al-qur'an akan menari seiring suara rebana yang di tabuh penggiring acara. Keunikan acara ini, apabila suara rebana berhenti mengalun, maka secara otomatis sang kuda akan berhenti menari. Kuda ini seakan-akan tunduk dan patuh pada alunan suara rebana penggiringnya. Kuda yang menjadi pengisi acara budaya adat ini tidak diambil dari kuda sembarangan. kuda ini merupakan kuda pilihan (khusus) yang telah dilatih sejak berusia muda. Untuk mulai menari, kuda merujuk pada pawang yang telah memberi kode tangan pada tali kekang yang berada di mulut kuda. Ketika sang pawang menarik tali tersebut kemudian melakukan pukulan-pukulan kecil pada badan kuda, maka kuda pun telah terlatik sehingga mengingat gerakan saat latihan. #khatamquran #tradisimandar #sayyangpattuqduq #kudamenari #tanahmandar #budayamandar #budayasulbar

A post shared by Irawati_Oesmand (@irawati_oesmand) on

Kuda pun dituntun dan diberikan instruksi oleh sawi, untuk bergerak sesuai dengan irama yang didendangkan. Sawi dibantu oleh empat orang laki-laki yang bertugas sebagai pendamping, yang disebut passarung. Dua orang passarung berjalan di masing-masing sisi kanan dan kiri kuda. Untuk melindungi pesaweang dan mapatamma dari terik matahari, ada pembawa payung yang disebut palla’lang.

Musik pengiring Sayyang Pattudduq adalah instrumen dari alat musik tradisional rebana. Kelompok pengiring musik ini disebut parrawana. Selain iringan musik, Sayyang Pattudduq juga diiringi pembacaan syair yang disebut kalindaqdaq yang berupa pantun, puisi, rayuan, sindiran, motivasi, hingga nasihat yang akan membuat sang penunggang tertawa. Pelantun kalindaqdaq adalah seeorang laki-laki yang disebut pangkalindaqdaq.

Pada zaman dahulu, tradisi Sayyang Pattudduq diadakan pada bulan Rabiul Awal (bersamaan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad, Rabiul Akhir, dan Jumaidil Awal. Namun saat ini, Sobat Pariwisata juga dapat menyaksikan Sayyang Pattudduq  di bulan-bulan lain.

View this post on Instagram

#SayyangPatuddu#MandarLapeo

A post shared by suriyani (@suriyani1047) on

Pada perkembangannya, Sayyang Pattudduq tidak hanya terbatas untuk mereka yang telah menamatkan bacaan Al-Qur’an. Kini, tari ini dijadikan pertunjukan saat menyambut tamu kehormatan. Para tamu kehormatan termasuk wisatawan diperbolehkan naik di atas kuda ini. Banyak wisatawan domestik maupun internasional, sengaja datang untuk merasakan sensasi menaiki kuda menari.

Sobat Pariwisata, Sayyang Pattudduq juga menjadi salah satu agenda dalam festival budaya yang diadakan di Kabupaten Polewali Mandar, Kabupaten Majene, dan Kabupaten Mamuju. Sejak tahun 2013, Sayyang Pattudduq ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.(Nita/RPI)