Nilai Filosofi dalam Rumah Adat Sumatera Selatan

Rumah Limas
pariwisata indonesia

Saat mengamati lembaran uang sepuluh ribuan, Sobat Pariwisata bisa melihat satu rumah adat dengan desain yang sangat khas. Rumah itu adalah Rumah Limas, rumah adat khas Sumatera Selatan.

Dinamakan Rumah Limas, karena bentuknya yang seperti Limas atau Piramida terpotong. Limas juga bisa berarti Lima Emas yang memiliki mana filosofis sholat lima waktu. Selain itu, Rumah Limas juga disebut Rumah Bari yang berasal dari kata bahari, yang berkaitan erat dengan kerajaan bahari yang ada di Sumatera Selatan pada masa itu.

pariwisata indonesia

Rumah Limas pertama dibangun oleh seorang bangsawan Palembang bernama Pangeran Syarif Abdurrahman Al habsy, pada tahun 1836. Rumah ini dibangun tanpa paku, melainkan menggunakan pasak yang bisa dibongkar pasang.

Rumah Limas selalu dibangun menghadap ke arah timur atau barat. Bagian yang mengarah ke timur disebut Matoari Edop atau matahari terbit yang melambangkan kehidupan baru, sedangkan bagian yang mengarah ke barat di sebut Matoari Mati atau matahari terbenam yang melambangkan akhir dari kehidupan.

Menyesuaikan dengan kondisi alam Sumatera Selatan yang umumnya berdekatan dengan rawa dan sungai, Rumah Limas dibangun dengan bentuk rumah panggung. Hal ini dilakukan untuk mencegah air masuk. Biasanya ketinggian tiang penyangga rumah ini sekitar 1,5 hingga 2 meter dari permukaan tanah.

pariwisata indonesia

Bahan yang digunakan untuk membangun Rumah Limas yaitu kayu-kayu unggulan yang berkualitas. Penggunaan kayu-kayu ini disesuaikan dengan kepercayaan masyarakat, misalnya kayu seru yang tidak boleh diinjak digunakan sebagai kerangka rumah, kayu unglen yang kuat dan tahan air digunakan sebagai pondasi, sementara kayu tembesu yang kuat digunakan untuk dinding, jendela dan pintu.

Rumah Limas merupakan perpaduan kebudayaan Melayu dan Jawa, dengan atap yang mengerucut ke atas. Pada bagian atap, terdapat ornamen simbar berbentuk bunga melati dan tanduk yang memiliki makna tersendiri. Ornamen bunga melati merupakan perlambang keagungan dan kerukunan.

pariwisata indonesia

Ornamen tanduk terdiri dari tiga jenis yang memiliki arti masing-masing. Ornamen tanduk yang berjumlah dua melambangkan Adam dan Hawa, yang berjumlah tiga melambangkan matahari, bulan, dan bintang, yang berjumlah empat menggambarkan sahabat dekat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan yang berjumlah lima melambangkan rukun Islam. Ternyata, selain sebagai ornamen, simbar juga difungsikan sebagai penangkal petir, loh.

Biasanya Rumah Limas memiliki luas 400 hingga 1.000 meter persegi dengan yang umumnya dari kumpulan beberapa tingkat atau disebut bengkalis. Tingkatan yang biasanya berjumlah lima ini memiliki filosofi tersendiri, dan kegunaannya diatur menggunakan filosofi kekijing yang berdasarkan pada usia, jenis kelamin, bakat, pangkat, martabat.

Pada tingkat pertama disebut Pagar Tenggalung, merupakan bagian luas tanpa pembatas, seperti teras atau beranda, yang digunakan untuk menerima tamu serta tempat berlangsungnya hajatan atau upacara adat. Di bagian ini terdapat lawang kipas yang jika dibuka akan membentuk langit-langit ruangan. Lawang kipas memungkinakan orang yang di Pagar Tenggalung bisa melihat suasana di luar, sementara orang di luar tidak bisa melihat aktivitas yang ada di dalam.

Di tingkat dua terdapat jogan yang diperuntukkan bagi anggota keluarga pemilik rumah yang berjenis kelamin laki-laki. Kekijing tiga berada di tingkat tiga, biasanya digunakan untuk menerima tamu hajatan, terutama keluarga atau tamu yang sudah paruh baya. Kekijing empat berada pada posisi yang lebih tinggi lagi, dikhususkan untuk kerabat yang lebih dekat dan dihormati, seperti dapunto dan datuk.

Terakhir adalah gegajah yang berada di lantai paling tinggi. Ruangan ini lebih bersifat privasi karena hanya boleh dimasuki oleh keluarga inti atau orang yang sangt dihormati dan mempunyai kedudukan tinggi. Di dalam gegajah terdapat undakan lantai yang disebut amben, berfungsi sebagai tempat para penghuni gegajah mengadakan musyawarah. Di ruangan ini juga terdapat kamar pengantin yang hanya digunakan jika pemilik rumah mengadakan pesta pernikahan.

Meskipun saat ini sangat sulit menemukan keberadaan Rumah Limas, tapi Sobat Pariwisata bisa melihatnya di Museum Balaputera Dewa, Kota Palembang. Bentuknya sama persis seperti yang ada di lembaran uang 10.000 rupiah loh!(Nita/RPI)