Pacu Jalur

Adu Cepat, Adu Strategi dan Adu Pawang
Pariwisata Indonesia
Foto: riau.go.id

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, untuk mendukung perkembangan pariwisata di Indonesia serta menjaring para wisatawan, setiap tahunnya Kementerian Pariwisata membuat Calender of Event (CeO) Indonesia sebagai program strategis. Setiap tahun itu pula, akan dirilis 100 event nasional yang layak untuk dijadikan destinasi para wisatawan.

Pariwisata Indonesia
Foto: kotajalur.kuansing.go.id

Untuk masuk ke dalam 100 daftar nasional itu, suatu event harus memiliki tiga syarat utama, yaitu cultural values (nilai budaya), commercial values (nilai jual), dan konsistensi. Salah satu gelaran yang beberapa tahun masuk ke dalam CeO Nasional itu adalah Pacu Jalur dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau.

Pacu Jalur berasal dari Bahasa Melayu Rantau, yang terdiri dari kata pacu yang berarti lomba dan jalur yang berarti perahu yang dibuat dari satu gelondongan kayu utuh, tanpa sambungan, potongan, atau belahan. Perlombaan ini diadakan di sepanjang aliran Sungai Batang Kuantan yang memiliki panjang sekitar 1 km.

Beberapa kayu yang umumnya dibuat Jalur adalah Kayu Kure (Kayu Kuras), Kunyuang, Banio, Tonam, Meranti Sogar, dan sebagainya. Sebuah Jalur biasanya memiliki panjang 25 hingga 27 meter dengan diameter 1 hingga 1,25 meter. Setiap Jalur bisa diisi oleh 50 orang. Bahkan di masa lalu, konon sebuah Jalur bisa mengangkut hingga 100 orang.

Jalur sudah dikenal oleh masyarakat Melayu Kuantan sejak awal abad ke-17. Sebelum hadirnya tranportasi darat, masyarakat desa di Rantau Kuantan telah menggunakan jalur sebagai moda transportasi, baik untuk perpindahan orang maupun perpindahan barang. Selain itu, Jalur berhias juga menjadi simbol status sosial bagi para bangsawan, datuk, atau penguasa wilayah.

Seratus tahun setelahnya, peran jalur pun mulai berkembang. Jalur tidak hanya digunakan sebagai alat transportasi, tapi juga untuk lomba adu kecepatan yang dinamakan Pacu Jalur. Di masa lalu, Pacu Jalur diadakan bertepatan dengan perayaan hari besar seperti Idul Fitri, Idul Adha, atau Tahun Baru Islam.

Pada masa penjajahan Hindia Belanda, Pacu Jalur digelar setiap perayaan ulang tahun Ratu Belanda Wihelmina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus. Namun, setelah masa kemerdekaan, lomba ini digelar untuk memperingati kemerdekaan Republik Indonesia.

Pacu Jalur tidak hanya mengandalkan kemampuan fisik peserta dan kekuatan perahu. Hal paling penting adalah kekuatan sang pawang (dukun) jalur. Masyarakat percaya bahwa pemenang Pacu Jalur adalah perahu yang memiliki pawang terbaik.

Sebelum perlombaan, setiap peserta harus membuat Jalur mereka. Pembuatan Jalur juga tak lepas dari peran serta dukun dalam proses pemilihan dan penebangan kayu. Biasanya, setengah pembuatan Jalur dilakukan di hutan agar perahu yang diangkut ke desa lebih ringan. Namun, ada pula yang membawa kayu gelondongan utuh ke desa.

Setelah selesai dibuat, Jalur akan diberi nama khusus yang mengandung makna tersendiri. Pemberian nama ini dilakukan melalui musyawarah antara masyarakat, pengurus Jalur, dan dukun Jalur. Nama yang diberikan bisa berdasarkan nama binatang buas atau berbisa, nama orang atau tokoh masyarakat, berdasarkan tempat atau benda angker, serta berdasarkan sponsor.

Di malam sebelum lomba, para dukun kembali mengambil peran. Mereka melakukan ramalan dengan limau. Limau ini di belah menjadi tiga potong. Potongan pertama menunjukan Jalur lawan, potongan kedua menunjukan Jalur sendiri, dan potongan terakhir hanya sebagai pelengkap. Potongan limau yang diletakan dalam mangkuk akan menunjukan siapa yang akan menang keesokan hari. Jika limau lawan dalam posisi tertelungkup, maka lawan tersebut akan kalah. Demikian sebaliknya.

Setiap tahunnya, festival Pacu Jalur mampu menyedot perhatian, baik masyarakat lokal maupun wisatawan. Festival ini adalah festival rakyat terbesar di Provinsi Riau. Sobat Pariwisata, pada tahun 2015, Pacu Jalur ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak benda Indonesia dari Provinsi Riau.(Nita)