Padi dan Manusia, Hidup dan Kehidupan

Seren Taun, Tradisi Suku Sunda untuk Memuliakan Padi
Seren Taun bisa diartikan sebagai serah terima dari tahun pada masa tanam sebelumnya ke tahun di masa tanam selanjutnya. (Foto : MyCity)

Halo, Gaes!

Padi dan manusia. Bagi masyarakat Suku Sunda, kedua hal ini berkaitan erat, Gaes. Apalagi bagi mereka yang menggantungkan hidup pada bidang agraris, kehadiran padi (Oriza sativa) menjadi hal yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup. Makanya sejak dulu, nenek moyang masyarakat Sunda sudah memuliakan Dewi Padi, Nyi Pohaci Sanghyang Asri, sebagai bentuk penghormatan. Bahkan, mereka punya tradisi khusus yang dinamakan Seren Taun.

Dalam Bahasa Sunda, seren berarti serah, seserahan, atau menyerahkan. Sementara taun berarti tahun. Kalo dari Bahasa, Seren Taun bisa diartikan sebagai serah terima dari tahun pada masa tanam sebelumnya ke tahun di masa tanam selanjutnya.

Seren Taun diyakini sudah dilaksanakan sejak masa Kerajaan Pajajaran atau lebih dari 600 tahun yang lalu, Gaes. Tradisi lalu ini diwariskan turn temurun dan masih terus dilakukan oleh masyarakat Sunda di beberapa Kasepuhan atau kampung adat, salah satunya di destinasi Pariwisata Indonesia yang ada di Banten Kidul.

Tradisi Seren Taun dilakukan setahun sekali yaitu pada akhir masa panen. Fyi, masyarakat di Kasepuhan masih menggunakan cara tradisional dalam bercocok tanam, mulai dari membajak, menyemai, merawat, hingga memanen padi. Mereka juga masih mengandalkan bintang-bintang untuk menentukan masa tanam yang hanya berlangsung sekali dalam setahun.

Uniknya lagi, terdapat hukum adat yang melarang warganya untuk memperjualbelikan hasil panen padi. Menurut hukum adat, hal tersebut bisa diibaratkan seperti menjual kehidupan mereka, Gaes. Jadi, seluruh hasil padi di daerah Kasepuhan akan digunakan untuk menghidupi seluruh masyarakat serta memberi makan tamu yang datang.

inti acara Seren Taun adalah penyerahan atau penyimpanan padi ke dalam lumbung atau leuit (Foto : agendaindonesia)

Selain serah terima masa tanam, penyelenggaraan Seren Taun juga dimaksudkan sebagai acara syukuran dan ungkapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen padi yang melimpah. Selain itu, masyarakat juga memanjatkan doa dan harapan agar di tahun berikutnya proses pertanian tidak mengalami kendala sehingga didapatkan hasil yang dapat mencukupi kebutuhan seluruh masyarakat.

Sebenarnya, inti acara Seren Taun adalah penyerahan atau penyimpanan padi ke dalam lumbung atau leuit. Sebelum diserahkan, padi-padi terpilih ini akan diikat dan dijemur di atas batang bambu selama 3 hari. Kemudian, padi-padi dalam ikatan itu digantung pada sebilah bambu yang disebut rengkong dan diarak keliling kampung.

Prosesi yang disebut ngerengkong ini meriah sekali, loh. Ikatan-ikatan padi yang digantung di kedua sisi bambu akan ikut bergoyang seiring dengan langkah-langkah dan gerakan para pemikulnya. Apalagi ada musik tradisional angklung yang terus mengiringi arak-arakan ini.

Di akhir arak-arakan, ada prosesi yang disebut ngadiukeun, Gaes. Dalam prosesi ini, padi-padi tadi akan disimpan oleh pemimpin adat ke dalam leuit indung atau leuit sijimat (lumbung utama) dan leuit pangiring.

Di leuit indung, padi yang disebut padi ibu akan ditutup dengan kain putih sedangkan padi bapak akan ditutup dengan kain hitam. Sementara itu, padi-padi yang tidak tertampung di leuit indung akan ditaruh di leuit pangiring. Eits! Padi-padi dalam kedua leuit ini bukan untuk persediaan makanan, ya. Tapi digunakan untuk benih atau bibit di musim tanam selanjutnya.

Seperti upacara syukuran lainnya, dalam Seren Taun juga ada acara makan-makan. Kerennya lagi, bukan cuma masyarakat yang boleh menikmati sajian ini secara gratis. Wisatawan yang datang pun boleh mencicipinya. Masyarakat bahkan memotong kerbau untuk dijadikan lauk dalam acara besar tersebut.

Selain makanan, ada juga beragam hiburan yang disajikan, mulai dari pertunjukan wayang golek, tari jaipong, hingga musik dangdut. Enggak salah, deh, kalo Seren Taun disebut-sebut sebagai upacara terbesar di Kasepuhan Sunda.

Oh ya, Gaes. Pada tahun 2016, Seren Taun dari destinasi Pariwisata Indonesia di Banten Kidul sudah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, loh. Yuk, berkunjung ke Provinsi Banten, untuk menikmati tradisi unik ini!

Pewarta:  Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2023