Penyambutan Para Pejuang

Tari Patuddu, Tari Kuno Khas Mandar
Pariwisata Indonesia

Penduduk asli Sulawesi Barat terdiri dari berbagai suku, di antaranya Suku Mandar, Toraja, Bugis, Mamasa, dan sebagainya. Suku-suku ini menyumbangkan beragam budaya dan kesenian yang kemudian menjadi identitas provinsi ini. Salah satunya adalah Tari Patuddu.

Pariwisata Indonesia

Tari Patuddu diyakini telah ada sejak zaman Kerajaan Balanipa. Pada masa itu, Kerajaan Balanipa dan Kerajaan Passokorang sering melakukan peperangan. Tari Patuddu ditampilkan saat menyambut para prajurit yang pulang dari medan perang. Tari ini menjadi hiburan, serta ungkapan rasa syukur dan rasa hormat pada para pejuang. Saat masa peperangan berakhir, Tari Patuddu pun beralih fungsi sebagai tari penyambutan raja dan tamu-tamu kehormatan.

Menurut cerita rakyat, Tari Patuddu berasal dari legenda yang hampir mirip dengan legenda Jaka Tarub. Pada satu hari selepas hujan, ia berkeliling di halaman istana dan mendapati buah dan bunga di kebun istana telah dipetik. Sang pangeran pun mengadakan penyelidikan dan mendapati pelakunya adalah tujuh orang bidadari yang turun saat pelangi menghiasi langit.

Pariwisata Indonesia

Terpesona dengan kecantikan para bidadari, sang pangeran lalu mencuri salah satu selendang bidadari dan membuatnya tidak bisa kembali kekayangan. Singkat cerita, pangeran itupun menikahi bidadari yang bernama Kencana. Setelah berlalu bertahun-tahun, Kencana tiba-tiba menemukan selendangnya. Ia pun kecewa dan meninggalkan sang pangeran beserta anak mereka untuk kembali ke khayangan.

Konon, gerakan dalam Tari Patuddu, seperti gerakan memainkan selendang, terinspirasi dari gerakan para bidadari. Para penari yang terdiri dari lima atau lebih perempuan menari dengan gerakan lembut ditambah ekspresi senyum bahagia yang membuat para penonton hanyut terkesima. Tari Patuddu didominasi oleh gerakan kaki yang melangkah perlahan serta tangan yang bergerak memainkan kipas dan selendang dengan lemah gemulai.

Kostum yang digunakan para penari merupakan perpaduan busana Toraja dan Sulawesi Selatan. Busana tersebut terdiri dari Baju Bodo dengan lingkar lengan atas sempit, yang dipadupadankan dengan kain khas Mandar. Rambut para penari digelung menjadi konde dan diberi hiasan bunga. Selain itu, ada juga yang menggunakan aksesoris berupa tusuk konde berwarna emas. Penampilan para penari dilengkapi dengan gelang, kalung, dan anting khas Mandar.

Salah satu properti utama yang menjadi ciri khas tari tradisional ini adalah kipas lipat. Kipas warna-warni ini akan ditutup dan dikembangkan serta menyatu ke dalam gerakan Tari Patuddu. Tari ini diiringi dengan lantunan dari beberapa alat musik tradisional seperti gendering dan gong. Beberapa pertunjukan juga melengkapi instrumen musik pengiring dengan kecapi dan suling, sehingga pertunjukan yang dihasilkan semakin menarik.

Sobat Pariwisata! Dalam perkembangannya, Tari Patuddu mengalami banyak modifikasi tanpa menghilangkan keasliannya. Meski termasuk tarian kuno, tari ini masih terus dimainkan dan mengisi berbagai acara, seperti pernikahan adat, pertunjukan seni, hinggal festival budaya. Tari Patuddu pun menjadi salah satu daya tarik wisata di Provinsi Sulawesi Barat.(Nita)