Perang Topat Lingsar

Perang Damai antara Umat Hindu dan Islam
Perang Topat diadakan setahun sekali yaitu pada hari ke-15 bulan ketujuh dalam penanggalan Suku Sasak (Foto ; Kemdikbud)

Halo, Gaes!

Perang sebagai simbol perdamaian. Pasti lo bingung dengan kalimat tersebut, kan? But, it’s real! Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, terdapat satu tradisi perang yang malah menjadi perlambang perdamaian dan kerukunan, yaitu Perang Topat.

Dalam setiap perang, senjata emang jadi salah satu peralatan wajib. Demikian juga dalam Perang Topat. Bedanya, dalam perang ini perlengkapan yang digunakan bukanlah senjata tajam, melainkan ketupat. Nah! Dari sinilah nama Perang Topat berasal.

Perang Topat diadakan setahun sekali yaitu pada hari ke-15 bulan ketujuh dalam penanggalan Suku Sasak atau hari ke-15 bulan keenam dalam penanggalan Umat Hindu Bali. Tanggal tersebut biasanya jatuh di bulan November atau Desember dalam kalender Masehi. Karena bertepatan dengan malam bulan purnama, Umat Hindu juga sekaligus melaksanakan ritual Pujawali pada waktu tersebut.

Menurut cerita, Perang Topat sudah berlangsung sejak berabad-abad silam, Gaes. Hal ini bermula sejak Kerajaan Karangasem di Bali mulai melebarkan pengaruhnya dengan membangun Kerajaan Hindu di Lombok pada tahun 1720. Waktu berselang. Masyarakat Bali pun makin banyak yang bermigrasi ke Pulau Lombok. Untuk memfasilitasi peribadatan masyarakat Hindu tersebut, maka pada tahun 1759 direncanakan pembangunan Pura Lingsar.

Suku Sasak yang mayoritas menganut Agama Islam menolak pembangunan ini karena kawasan yang dimaksud memiliki nilai historis bagi mereka. Di kawasan tersebut terdapat kolam mata air bernama Kemaliq yang diambil dari kata maliq (keramat atau suci).

Saling lempar ketupat dalam Perang Topat juga menjadi simbol perlawanan kepada setan yang suka mengganggu manusia dan menjerumuskan kepada kehancuran. (Foto : SuaraNTB)

Alkisah pada abad ke-15, Raden Mas Sumilir yang bergelar Syeikh Abdul Malik datang ke daerah Lombok untuk menyebarkan ajaran Islam. Pada saat itu, kawasan tersebut masih berupa tanah yang tandus dan gersang. Syeikh Abdul Malik pun berdoa. Hingga di satu sore beliau menancapkan tongkat di kaki bukit. Lalu dari tempat penancapan tersebut keluar mata air yang deras, Gaes.

Dalam Bahasa Sasak, mata air itu disebut lingsar, berasal dari kata ling yang berarti suara dan sar yang berarti air. Kemunculan mata air tersebut pun menjadikan kawasan di sekitarnya perlahan mulai berubah menjadi daerah yang subur dan membawa kemakmuran bagi para penduduk.

Perseteruan antara umat Islam dan Hindu perihal pembangunan Pura Lingsar makin mencapai puncaknya, hingga kedua kelompok tersebut memutuskan untuk berperang. Tapi di saat-saat kritis itu datang seorang pemuka agama kharismatik yang mendamaikan keduanya. Maka sebagai ekspresi perdamaian, perang fisik yang sudah direncanakan pun diganti dengan Perang Topat, Gaes.

Meskipun menyematkan nama perang, tradisi ini bukanlah perang sungguhan, ya Gaes ya. Para peserta yang berasal dari Umat Hindu dan Islam hanya saling melempar ketupat berukuran kecil. Alih-alih perasaan dendam ataupun benci, yang ada adalah atmosfer sukacita dan gembira. Meskipun ada yang mengalami luka di wajah atau lebam di tubuh karena terkena lemparan ketupat.

Saling lempar ketupat dalam Perang Topat juga menjadi simbol perlawanan kepada setan yang suka mengganggu manusia dan menjerumuskan kepada kehancuran. Tradisi ini juga menjadi pengingat agar manusia selalu bersyukur, hidup rukun, damai, dan saling mengasihi.

Uniknya lagi, di akhir perang yang biasanya berlangsung setelah sholat ashar ini, masyarakat akan mengumpulkan ketupat-ketupat yang berserakan di tanah untuk disebarkan di lahan pertanian. Mereka meyakini bahwa ketupat-ketupat dalam Perang Topat akan membawa kesuburan dan hasil panen yang melimpah.

Fyi, dalam tradisi ini bukan hanya ketupat yang diperebutkan, loh. Berbagai sesajen berupa makanan, buah, dan hasil bumi lainnya juga diburu. Masyarakat percaya bahwa sesaji-sesaji tersebut memiliki keberkahan.

Oh ya, Gaes. Sejak tahun 2020, Perang Topat sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, loh.

Gimana? Penasaran dengan perang perdamaian ini? Yuk, jadwalkan kunjungan lo ke destinasi Pariwisata Indonesia di Lombok saat tradisi Perang Topat berlangsung, ya.

Pewarta:  Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2023