Perjalanan Tari Klasik Asal Palembang

Tari Tanggai dari Sumatera Selatan
Pariwisata Indonesia

Lima penari wanita memasuki panggung diiringi alunan musik dari akordion, biola, gendang, dan gong. Penari paling depan membawa sekotak kapur sirih yang kemudian diletakkan di depan. Dengan jari-jari lentik yang khas, kelima penari mulai melenggak-lenggok. Di akhir pertunjukan, penari paling depan akan memberikan sekapur sirih pada tamu kehormatan yang dipilih, sebagai simbol bahwa tamu tersebut diterima baik oleh sang tuan rumah.

Pariwisata Indonesia

Tari yang mewujudkan keramahtamahan dan penghormatan pada tamu ini dinamakan dengan Tari Tanggai, tari tradisional dari Sumatera Selatan. Penamaan Tari Tanggai karena seluruh penari mengenakan tanggai (hiasan kuku dari tembaga, perak, atau kuningan yang berbentuk runcing) di kedelapan jari tangan, yang menambah kesan lentik dan membuat gerakan tampak lebih gemulai.

Pada abad ke V, Tari Tanggai merupakan tari sakral dan suci sebagai penghormatan kepada Dewa Siwa, Dewa Brahmana, dan Dewa Wisnu. Penghormatan ini dilakukan dengan mengadakan persembahan gerakan-gerakan Mudra (pendekatan yang Maha Kuasa). Dalam tari yang dibawakan oleh perempuan dengan jumlah ganjil ini, juga diberikan sesajen berupa buah dan bunga yang beraneka rupa.

Tari Tanggai juga memiliki kesamaan dengan tari yang ada China. Hal ini dikarenakan ada keturunan Dinasti Syailendra yang memeluk agama Buddha membangun sebuah kerajaan. Secara tidak langsung, Tari  Tanggai yang digunakan untuk persembahan kepercayaan Buddha pun mengalami akulturasi.

Pariwisata Indonesia

Pada abad ke 17, pemimpin di Kesultanan Palembang Darussalam tidak mengijinkan para perempuan untuk menari. Tari-tarian hanya boleh dilakukan oleh para pria. Tari Tanggai juga sempat tidak dipertunjukan hingga beberapa lama.

Pada tahun 1965, Ibu Elly Rudi mengangkat dan menyusun kembali gerakan Tari Tanggai untuk menyambut para tamu karena pada saat itu, tari penyambutan Gending Sriwijaya dilarang dipertunjukan. Seiring perkembangan zaman, Tari Tanggai akhirnya dipertunjukan sebagai tari penyambutan tamu serta ditampilkan pada acara-acara yang dihadiri banyak orang, seperti pernikahan.

Biasanya, instrumen yang digunakan untuk mengiringi Tari Tanggai yaitu lagu berjudul Enam Bersaudara yang melambangkan kehidupan masyarakat Palembang yang harmonis. Walaupun tidak diketahui siapa pencipta lagu ini, tapi syair Enam Bersaudara sangat popular di kalangan masyarakat Palembang.

Instrumen ini kental dengan nuansa Melayu, tapi tidak meninggalkan rasa musik Palembang sendiri. Instrumen musik pengiring Tari Tanggai bisa berasal dari alat musik tradisional khas Palembang, dan dapat juga berasal dari organ tunggal atau rekaman.

Struktur gerakan pada Tari Tanggai terdiri dari tiga gerakan. Gerakan awal berupa gerak masuk posisi sembah, gerak Borobudur hormat, gerak Sembah berdiri, jalan keset, kecubung berdiri bawah kanan, kecubung bawah kiri, kecubung berdiri bawah kiri, kecubung bawah kanan, dan ukur benang.

Gerakan tari pokok terdiri dari tutur sabda, sembah duduk, tabor bunga duduk kanan dan kiri, memohon duduk kanan, kecubung duduk kanan dan kiri, stupa kanan dan kiri, tutur sabda, Borobudur, serta ulur benang.

Gerakan akhir dari tari ini berupa gerakan tolak bala berdiri kanan dan kiri, nyumping berdiri kanan dan kiri, mendengar berdiri kanan dan kiri, tumpeng tali/ulur benang berdiri kanan dan kiri, sembah berdiri, Borobudur berdiri, serta Borobudur hormat.

Para penari Tari Tanggai biasanya mengenakan busana yang terdiri dari dodot, kain songket, pending, kalung, sanggul malang, kembang ramai, tajuk cempako, kembang goyang, dan tanggai. Nilai historis, kemewahan busana berpadu keindahan gerak tari, serta keramahtamahan para penari membuat Tari Tanggai menjadi salah satu kebanggaan Provinsi Sumatera Selatan. Yuk, terus kita jaga dan lestarikan!(Nita/RPI)