Peti Batu Waruga

Rumah Jenazah Leluhur Suku Minahasa
Pariwisata Indonesia

Saat sedang berlibur di Sulawesi Utara, salah satu destinasi wisata yang sayang untuk dilewatkan adalah Taman Purbakala Waruga yang ada Desa Sawangan, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Dari kota Manado, Sobat Pariwisata hanya membutuhkan waktu perjalanan sekitar 45 menit.

Memasuki kompleks Taman Purbakala Waruga, Sobat Pariwisata akan disuguhi oleh sekitar 114 buah waruga yang berjejer. Waruga ini adalah peti batu yang digunakan untuk mengubur jenazah orang minahasa zaman dulu. Uniknya, peti batu ini tidak dikubur seperti peti yang lain, melainkan didirikan di atas tanah. Taman dengan waruga kuno, dipadu dengan udara sejuk dan pohon-pohon rimbun dari seberang, membuat suasana terasa lebih mistis.

Pariwisata Indonesia

Waruga berasal dari kata wale (rumah) dan maruga (direbus hingga hancur). Jadi, waruga adalah rumah bagi mayat yang nanti akan hancur menjadi tanah. Waruga terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian atas yang berupa segitiga menyerupai atap rumah dan bagian bawah berbentuk segi empat.

Pada bagian atas, Sobat Pariwisata bisa melihat pahatan yang beragam. Pahatan ini menunjukan profesi dari mayat pemilik waruga, seperti gambar orang yang menunjukan pemimpin, gambar sapi untuk menunjukan pemburu handal, hingga gambar wanita melahirkan untuk mayat seorang bidan atau penolong kelahiran. Ada juga beberapa waruga yang tidak memiliki pahatan. Diduga ini adalah waruga di masa-masa awal.

Di Taman Purbakala Waruga ini, Sobat Pariwisata bisa melihat waruga dengan ukuran yang beragam. Karena waruga digunakan untuk mengubur satu keluarga yang berjumlah hingga 12 orang. Hal itu bisa dilihat dari pahatan garis-garis yang ada di atap waruga.

Pariwisata Indonesia

Bagian bawah waruga adalah batu berbentuk persegi yang memiliki lubang di tengahnya. Di lubang inilah, mayat masyarakat Suku Minahasa diletakkan. Uniknya, mayat ini diletakkan dengan posisi jongkok. Dimana tumit akan bersentuhan dengan pantat dan kepala bertumpu pada lutut, seperti posisi bayi dalam rahim. Soalnya, masyarakat Minahasa percaya masyarakat harus kembali pada Sang Pencipta seperti posisi awalnya.

Selain mayat, di dalam waruga ini juga dimasukkan berbagai benda milik sang mayat, seperti piring keramik, gelas, gelang, benda tajam, hingga tas. Waruga-waruga ini diletakkan dengan posisi menghadap utara, sesuai dengan kepercayaan masyarakat Suku Minahasa bahwa nenek moyang mereka berasal dari utara.

Menurut penelitian, waruga digunakan sejak abad ke-9 Masehi. Namun, sekitar tahun 1860, pemerintah kolonial Belanda melarang masyarakat Minahasa menguburkan mayat di dalam waruga. Karena celah kecil di atasnya dipercaya menjadi penyebab berkembangnya penyakit typus dan kolera pada saat itu.

Pariwisata Indonesia

Saat berkunjung ke Taman Purbakala Waruga ini, Sobat Pariwisata tidak akan menemukan mayat ataupun barang-barangnya di dalam waruga, ya. Selain karena tulang-tulangnya sudah hancur dimakan usia, waruga-waruga yang ada di taman purbakala ini sebenarnya berasal dari berbagai tempat. Namun, untuk melestarikan dan menjaga dari perusakan, waruga-waruga ini kemudian dikumpulkan dan di relokasi ke Desa Sawangan. Pemerintah pun telah meresmikannya sebagai salah satu situs sejarah.

Selain waruga, di Taman Purbakala Waruga ini Sobat Pariwisata juga bisa melihat benda-benda bersejarah, seperti guci, piring keramik, senjata, di rumah adat Minahasa yang berfungsi sebagai museum.

Untuk masuk ke Taman Purbakala Waruga ini, Sobat Pariwisata hanya perlu membayar mulai dari 3.000 rupiah. Tempat ini buka dari pukul 08.00-17.00.(Nita)