Pinisi, Kapal Kebanggaan Masyarakat Sulawesi Selatan

Sang Raksasa Lautan pada Masanya

Indonesia dikenal sebagai negara bahari sejak dulu kala. Laut bahkan menjadi salah satu tempat bagi nenek moyang nusantara untuk mencari nafkah. Tak jarang mereka berlayar dan mengarungi lautan Indonesia hingga tiba di tempat-tempat lain. Maka tak heran jika nenek moyang Indonesia mampu menghasilkan maha karya di bidang kelautan. Salah satunya adalah Pinisi.

Pariwisata Indonesia

Pinisi merujuk pada jenis sitem layar (rig), tiang-tiang, layar, dan konfigurasi tali. Menurut cerita, nama Pinisi diberikan oleh I Manyingarang Dg Makkilo (salah satu Raja Tallo) untuk perahunya. Nama itu berasal dari kata picuru yang berarti contoh yang baik dan kata binisi yang merujuk pada jenis ikan kecil yang lincah dan tangguh di permukaan air yang tidak dipengaruhi oleh arus dan ombak.

Adapula pendapat lain yang menyebutkan bahwa Pinisi berasal dari Bahasa Bugis yaitu kata panisi yang berarti sisip (menyisipkan). Hal itu merujuk pada proses mendempul pada bagian perahu.

Menurut legenda, Pinisi telah ada sejak abad ke-14. Namun menurut penelitian, perahu ini baru ada sekitar abad ke-19, dibuat oleh para pelaut Sulawesi yang terinspirasi dari sitem layar schooner-ketch pada kapal-kapal Eropa yang berlayar di lautan Nusantara. Namun, layar Pinisi digulung memanjang ke arah depan, sedangkan layar kapal Eropa digulung ke atas.

Pariwisata Indonesia

Pinisi merupakan jenis perahu layar yang dibuat oleh orang Bira, Ara, Lemo-lemo, dan Tana Beru yang merupakan Suku Konjo, salah satu sub-etnis yang tinggal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Perahu ini memiliki tujuh hingga sepuluh layar dengan tiang berjumlah dua hingga tiga. Seiring perkembangan zaman, Pinisi pun mengalami banyak pengembangan terutama pada mesin kapal yang digunakan.

Pembuatan sebuah kapal Pinisi bisa berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun dan terkadang masih menggunakan ritual-ritual khusus. Proses tersebut dimulai dengan upacara kurban yang menandakan akan dibuatnya sebuah Pinisi. Selanjutnya, di hari kelima atau ketujuh bulan berjalan, para pengrajin lalu mencari pohon sebagai bahan baku pembuatan kapal.

Sebelum menebang pohon, perlu dilakukan ritual khusus yang diyakini untuk mengusir roh penunggu pohon tersebut sekaligus memberikan hewan kurban berupa ayam. Kayu yang telah didapatkan kemudian dipotong, dikeringkan, dan siap untuk dibentuk menjadi sebuah perahu.

Pariwisata Indonesia

Tahap akhir pembuatan Pinisi akan ditutup dengan upacara selamatan yang bertujuan untuk menolak bala. Dalam upacara ini, dipotong seekor kambing atau sapi (sesuai dengan bobot kapal) sebagai hewan kurban. Kaki depan hewan kurban akan digantung di anjungan sedangkan kaki belakang di gantung di buritan sebagai harapan agar kapal tersebut diberi kemudahan meluncur seperti ketika seekor binatang pertama kali berjalan.

Pinisi masih terus diproduksi dan digunakan hingga sekarang, untuk transportasi antar-pulau, kargo, memancing, hingga kapal pesiar. Kapal ini menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Gambar Pinisi pernah digunakan dalam lembaran uang seratus rupiah cetakan tahun 1992. Kapal ini juga pernah digunakan sebagai simbol BNI (Bank Negara Indonesia).

Pinisi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2013. Selain itu, pada tahun 2017 seni pembuatan raksasa lautan ini juga ditetapkan sebagai Karya Agung Warisan Manusia yang Lisan dan Tak Benda oleh UNESCO.(Nita)