Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar

Rumah ‘Bersama’ yang Bertabur Ukiran

Provinsi Riau memiliki beberapa jenis rumah adat. Salah satunya adalah rumah adat Selaso Jatuh Kembar. Sebenarnya, rumah adat Selaso Jatuh kembar bukanlah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal, melainkan sebagai balai atau tempat pertemuan. Di rumah ini, masyarakat melaksanakan berbagai acara, seperti musyawarah, penobatan kepala adat, hingga upacara-upacara adat.

Pariwisata Indonesia

Sesuai dengan fungsinya yang beragam, rumah adat Selaso Jatuh Kembar pun memiliki banyak sebutan seperti balai penobatan, balairung sari, balai karapatan, dan sebagainya. Seiring perkembangan zaman, fungsi rumah adat ini kemudian terganti dengan kehadiran masjid.

Sebagai balai, rumah adat Salaso Jatuh Kembar memiliki ukuran yang cukup besar agar bisa menampung banyak orang. Rumah adat ini dibangun dengan bahan-bahan yang bisa diperoleh dari alam. Bagian atap rumah ini dibuat dari daun rumbia atau daun pinah yang disatukan dengan tali rotan. Selain karena mudah didapat, penggunaan daun-daun ini membuat rumah adat Selaso Jatuh Kembar terasa lebih sejuk.

Bagian tiang rumah adat ini menggunakan kayu-kayu kualitas terbaik, seperti kayu Kulim, Tembesu, Resak, dan Punak. Tiang rumah adat yang berbentuk rumah panggung ini biasanya berjumlah genap dan memiliki tinggi sekitar 1 hingga 2,5 meter. Semakin dekat dengan laut, semakin tinggi pula tiang yang dibuat.

Tiang-tiang itu dibuat dalam beberapa bentuk yang memiliki makna tersendiri. Segi empat menyeleraskan dengan mata angin, agar rejeki dan berkah mendatangi rumah dari segala penjuru. Segi enam sebagai simbol rukun iman. Segi tujuh sebagai penggambaran surge dan neraka yang memiliki tujuh tingkatan. Serta segi Sembilan yang menggambarkan strata ekonomi penghuni.

Pariwisata Indonesia

Bagian lantai, pintu, dan jendela rumah adat ini dibuat dari kayu kualitas terbaik seperti kayu meranti, kayu punak, kayu medang. Meskipun terbuat tanpa sekat, rumah adat Selaso Jatuh Kembar juga memiliki bagian-bagian tertentu seperti ruangan untuk membedakan tetua, warga laki-laki, dan warga perempuan, anjungan, tempat tidur khusus untuk upacara tertentu, dapur, serta kolong untuk menyimpan perlengkapan acara-acara adat.

Ciri khas rumah ini adalah adanya dua buah selasar yang posisinya lebih rendah dari ruang tengah, sehingga tampak jatuh. Ciri khusus ini yang kemudian menjadi dasar penamaan rumah adat ini, yaitu Selaso yang berarti selasar, Jatuh yang maknanya berada di bagian bawah, serta kembar karena terdapat dua buah selasar yang bentuknya sama.

Rumah adat Salaso Jatuh Kembar dihiasi dengan banyak ukiran yang berbeda-beda. Di bagian tangga terdapat ukiran lebah bergantung atau ombak-ombak yang memiliki makna agar semua orang bisa hidup seperti lebah yang bermanfaat bagi orang lain. Di bagian atas pintu dan jendela terdapat ukiran Awan Larat yang berarti bahwa kemudahan rejeki yang bisa datang darimana saja.

Pariwisata Indonesia

Di bagian dinding terdapat ukiran itik sekawan (itik yang berbaris berjalan beriringan) yang bermakna agar manusia bisa hidup selaras, berdampingan, damai, kompak, dan bersama-sama hingga akhir. Di kisi-kisi pintu dan jendela terdapat ukiran semut beriring yang terinpirasi dari cara semut berjalan. Maknanya agar manusia bisa mengikuti sifat semut yang rukun, tolong menolong, rajin, dan teguh pada pendirian.

Selain itu, terdapat bagian yang memanjang dan melengkung dan memiliki ukiran yang dinamakan Pucuk Rebung Kalok Paku sebagai simbol agar warga selalu bergotong royong dan saling membantu. Juga terdapat ukiran di bagian ujung atas dan bawah tiang yang disebut Pucuk Rebung Bertunas karena memiliki bentuk seperti pucuk bambu muda yang baru muncul dari tanah. Pucuk rebung yang bisa menghilangkan haus dan dahaga bermakna bahwa setiap masalah akan memiliki penyelesaiannya.

Di cucuran atap terdapat bagian khusus yang menyerupai sayap dan memiliki ukiran yang disebut dengan sayap layangan atau sayap layang-layang. Bagian langit-langit dan ventilasi rumah adat ini diberi hiasan ukiran menyerupai bunga manggis atau bunga Cina. Dan ukiran di bagian puncak yang dinamakan selembayung atau Sulobuyung.

Sobat Pariwisata, Rumah bertabur ukiran dari Provinsi Riau ini sangat unik, kan? (Nita/RPI)