Rumah Bale

Rumah Khas Suku Sasak
Pariwisata Indonesia

Selain terkenal dengan keindahan alamnya, Pulau Lombok di Nusa Tenggara Barat juga terkenal dengan Suku Sasak, suku asli yang mendiami pulau tersebut. Selain kemahiran menenun kain yang terkenal, kehidupan Suku Sasak juga masih kental dengan adat dan budaya. Salah satunya bisa kita lihat dalam rumah tradisional yang mereka tempati yang di sebut Rumah Bale.

Bagi masyarakat Suku Sasak, rumah adalah bagian penting dalam kehidupan, oleh karena itu pembangunan rumah bale tidak boleh dilakukan di waktu sembarangan. Masyarakat Suku Sasak memiliki perhitungan dengan berpedoman pada papan warige yang berdasar dari Primbon Tapel Adam dan Tajul Muluq. Umumnya, pembangunan rumah dilakukan di bulan ketiga dan bulan kedua belas dalam kalender Suku Sasak atau bulan Dzulhijah dan bulan Rabiul Awal dalam kalender Islam.

Pariwisata Indonesia

Ada juga yang membangun rumah bale berdasarkan tanggal dan hari yang diperoleh dari perhitungan nama pemiliki rumah. Masyarakat Suku Sasak percaya bahwa rumah yang dibangun disembarang hari akan mengundang malapetaka seperti kebakaran, penyakit, rezeki yang sulit, dan sebagainya.

Selain aturan hari, masyarakat Suku Sasak juga memiliki aturan dalam arah pembangunan rumah. Rumah yang baru dibangun tidak boleh membelakangi rumah yang sudah ada. Ukurannya juga tidak boleh lebih besar dari rumah yang telah ada lebih dahulu. Lokasi yang dipilih juga tidak boleh sembarangan, misal tidak boleh berada di atas bekas perapian, bekas pembuangan sampah, bekas sumur, hingga posisi jalan tusuk sate.

Rumah Bale terdiri dari beberapa jenis, yaitu:

Pariwisata Indonesia

1.Bale Lumbung

Sesuai dengan namanya, Bale Lumbung digunakan sebagai lumbung atau tempat penyimpanan hasil panen. Bangunan ini dibangun dengan bentuk rumah panggung dengan tinggi 1,5-2 meter dari atas tanah untuk menghindarkan hasil panen rusak oleh banjir dan hama tikus. Atap yang digunakan berbentuk runcing, lalu sedikit melebar ke bawah dengan bagian bawah yang lebih melebar lagi.

Pariwisata Indonesia

2.Bale Tani

Bale tani merupakan rumah  yang biasanya dibangun oleh masyarakat Suku Sasak. Rumah ini dibangun dengan pintu masuk yang rendah dan sempit. Selain itu, rumah ini dibangun tanpa jendela. Bale tani terdiri dari dua ruangan (rong), yaitu bale dalem dan bale luar. Bale dalem diperuntukkan bagi anggota keluarga wanita dan sekaligus berfungsi sebagai dapur.

Ruangan ini juga berfungsi untuk menyimpan harta benda, ruang persalinan ibu, serta ruang untuk menyemayamkan jenazah. Sedangkan bale luar atau sesangkok (serambi) diperuntukan bagi anggota keluarga lain dan sekaligus untuk menerima tamu.

Bale luar dan bale dalem dipisahkan oleh tiga anak tangga, yang membuat bale dalem berada dalam posisi yang lebih tinggi. Tiga anak tangga yang disebut wetu telu ini bermakna tiga waktu yang harus ditempuh oleh masyarakat Suku Sasak, yaitu lahir, tumbuh, dan mati.

3.Bale Jajar

Bale Jajar adalah rumah masyarakat Suku Sasak dengan tingkat perekonomian yang tinggi. Perbedaan utama Bale Jajar dengan Bale Tani terletak pada jumlah ruang bale dalem. Bale Jajar memiliki dua buah bale dalem. Selain itu, rumah ini juga memiliki bagian-bagian lain seperti berugaq serta ruangan sambi yang digunakan untuk menyimpan bahan makanan dan keperluan rumah tangga.

4.Berugaq

Berugaq merupakan banguan berkonsep panggung yang didirikan secara terpisah dari bangunan utama. Biasanya jarak antara lantai Berugaq dengan tanah, sekitar 40-50 cm. Berugaq dibangun tanpa dinding dengan lantai yang terbuat dai papan atau bilah bambu. Berugaq terbagi menjadi dua jenis, yaitu Berugaq Sekepat dan Berugaq Sekenam.

Berugaq Sekepat dibangun di area depan dan berfungsi untuk menerima tamu atau orang asing, untuk menerima pemuda yang datang melamar, serta sebagai tempat beristirahat setelah pulang dari sawah. Sedangkan Berugaq Sekenam dibangun di area belakang dan berfungsi sebagai tempat kumpul keluarga dan melangsungkan kegiatan belajar mengajar.

Pariwisata Indonesia

Material yang digunakan dalam pembangunan Rumah Bale berasal dari alam. Atapnya menggunakan jerami atau ilalang, tiangnya menggunakan kayu, dindingnya menggunakan anyaman bambu (bedek), sementara lantainya menggunakan bahan percampuran tanah liat, kotoran kerbau yang telah dibakar terlebih dahulu (sebagai pengeras seperti semen), batu bata, getah pohon, dan abu jerami.

Rumah Bale ini masih bisa Sobat Pariwisata temukan di Dusun Ende dan Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Di sana terdapat desa tradisional yang luasnya sekitar satu hektar. Berkeliling di dusun itu dijamin akan menambah pengalaman baru bagi Sobat Pariwisata.(Nita)