Songket Pandai Sikek

Ratu Kain Tenun dari Sumatera Barat
foto: songketpandaisikek,com

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, kain songket merupakan salah satu kerajinan tangan yang menjadi identitas budaya Indonesia. Negeri ini memiliki banyak daerah penghasil songket, di antaranya Palembang, Padang, Bali, Lombok, Sambas, Sumba, dan Makassar.

Baca juga :  Karambit Minang Mematikan, Senjata Tradisional “Urang Awak” [Bacaan 17+]

Kali ini, redaksi akan mengulas salah satu kain songket yang dijuluki sebagai ‘Ratunya Kain Tenun.’ Penasaran? Simak ulasannya berikut, ya.

Songket Pandai Sikek adalah songket yang berasal dari nagari Pandai Sikek. Salah satu nagari yang berada di Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Bahkan, nama Nagari Pandai Sikek berasal dari keterampilan menenun penduduknya. Pandai Sikek berasal dari kata pandai yang berarti mahir dan kata sikek yang berarti sisir, simbol kegiatan menenun.

Baca juga :  Rendang Khas Ranah Minang

Berdasarkan sejarah, tenun merupakan keterampilan yang berasal dari Cina. Keterampilan ini mulai menyebar ke Thailand, Semenanjung Melayu, hingga Sumatera terutama pada masa Kerajaan Sriwijaya. Keterampilan menenun ini juga menyebar ke daerah Pandai Sikek.

Songket Pandai Sikek diperkirakan ada sejak abad ke-16 Masehi. Songket ini menggunakan bahan baku yang berkuliatas seperti benang emas dan benang perak yang ditenun dalam kain sutra. Bahan-bahan tersebut menghasilkan kain tenun yang penuh keindahan dan kemewahan, sehingga membuat Songket Pandai Sikek dijuluki sebagai ‘Ratunya Kain Tenun’.

Warna yang digunakan untuk Songket Pandai Sikek umumnya adalah warna kuning, hitam, dan merah. Ketiga warna ini merupakan warna-warna khas budaya Minang yang mewakili tiga penguasa dalam masyarakat Miangkabau, yaitu merah yang menyimbolkan cendikiawan, kuning yang menyimbolkan para ulama, serta hitam yang menyimbolkan kaum adat.

Keterampilan menenun songket ini diwariskan turun temurun pada setiap anak perempuan Pandai Sikek. Bahkan terdapat istilah, ‘Jika tak pandai menenun, pasti bukan perempuan Pandai Sikek’.

Pewarisan keterampilan Songket Pandai Sikek diutamakan pada penduduk asli dan pendatang yang menikah dengan penduduk asli. Sementara pendatang yang telah menetap lama, boleh menerima warisan keterampilan setelah mendapat pengakuan dari masyarakat. Hal ini dikarenakan bagi masyarakat Pandai Sikek, keterampilan menenun songket adalah harta pusaka yang tidak boleh diwariskan secara sembarangan.

Baca juga :  Rumah Gadang Sumatera Barat

Dalam satu lembaran Songket Pandai Sikek terdapat tiga motif wajib, yaitu batang pinang (pohon pinang), bijo bayam (biji bayam), dan saluak laka (jalinan lidi). Ketiga motif ini menjadi pembeda antara Songket Pandai Sikek dan songket lainnya. Selain itu, songket ini memiliki tidak kurang dari 350 motif yang berbeda, di antaranya Saik Kalamai, Buah Palo, Barantai Putiah, Salapah, dan sebagainya.

Kain tenun Songket Pandai Sikek yang dihasilkan penenun terbagi menjadi dua jenis, yaitu songket balapak dan songket batabua. Songket balapak atau kain tenun sarek adalah kain songket yang menggunakan hiasan motif yang memenuhi seluruh bidang permukaan sehingga dasar kain yang digunakan tidak terlalu tampak. Sedangkan songket batabua (bertaburan) adalah kain songket yang menggunakan motif yang berserakan atau bertaburan, tidak menutupi bidang permukaan.

Baca juga :  Pacu Jawi dari Sumatera Barat

Pembuatan Songket Pandai Sikek masih dilakukan secara manual. Biasanya, satu lembar kain songket ini memerlukan waktu pengerjaan sekitar 3 bulan. Pembuatan yang masih menggunakan tenaga manusia terkadang membuat kesalahan kecil pada motif kain. Namun, hal tersebut justru menjadi pemanis dalam sebuah Songket Pandai Sikek.

Baca juga :  Bermata Dua

Agar tetap awet, Songket Pandai Sikek tidak boleh dilipat, tapi harus digulung untuk menjaga motif tetap bagus dan benang emasnya tidak putus. Biasanya, Songket Pandai Sikek digunakan dalam berbagai upacara adat dan pernikahan, baik sebagai pakaian adat (baju anak daro) maupun tando bagi masyarakat Pandai Sikek. Songket ini juga kerap diperjualbelikan dan dijadikan sebagai cinderamata.

pariwisata indonesia

Selembar Songket Pandai Sikek bisa dihargai jutaan hingga puluhan juta rupiah. Bahan yang berkualitas, motif yang rumit, serta waktu pengerjaan yang cukup lama, membuat sang ratu songket dihargai tinggi. Meskipun harganya cukup tinggi, kain ini tetap diminati baik oleh konsumen domestik hingga manca negara.

Pada tahun 2010, Songket Pandai Sikek ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Sumatera Barat. Keterampilan menenun songket ini juga pernah diabadikan dalam uang pecahan 5.000 rupiah cetakan Bank Indonesia tahun 2001. Jika Sobat Pariwisata berlibur ke Ranah Minang, jangan lupa mampir di Pandai Sikek dan membeli ‘Ratunya Kain Tenun’ ini sebagai kenang-kenangan, ya! (Nita)