Tari Maengket dari Sulawesi Utara

Gambaran Masyarakat Minahasa dalam Seni Pertunjukan

Sebagai salah satu kota tua di Pulau Sulawesi, Minahasa memiliki beragam peninggalan dari berabad-abad silam. Salah satunya adalah Tari Maengket yang disebut-sebut telah ada sejak abad ke-7 Masehi. Tari ini merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Suku Tombulu, Sulawesi Utara.

Pada masa lalu, tari ini tidak disebut sebagai Tari Maengket, tapi Maengket saja. Maengket pada masa lalu merupakan pertunjukan yang menggabungkan tarian, seni musik, serta seni vocal (nyanyian). Nyanyian yang dilakukan oleh para penari didendangkan dengan bahasa yang beragam. Sedangkan alat musik yang digunakan, yaitu tambor, gong, dan tetengkoren. Pada awal abad ke-20, seni pertunjukan ini mulai dikenal dengan nama Tari Maengket.

Pariwisata Indonesia

Tari Maengket berasal dari kata engket yang berarti mengangkat tumit. Penambahan kata ma membuat maengket dapat diartikan sebagai tarian yang dilakukan dengan mengangkat tumit. Dalam pelaksanaannya, para penari memang mengangkat tumit saat membawakan tari ini.

Tari Maengket merupakan tari massal yang dilakukan oleh banyak orang, baik oleh penari perempuan, laki-laki, maupun gabungan keduanya. Salah satu ciri khas Tari Maengket adalah kehadiran seorang wanita yang disebut kapel, yang merupakan pemimpin dalam tarian tersebut.

Pariwisata Indonesia

Para penari Maengket menggunakan baju tradisional khas Minahasa. Penari perempuan menggunakan kebaya yang dipadupadankan dengan kain khas Sulawesi Utara. Rambut para penari perempuan digelung dengan menggunakan sanggul pinkan (dua konde) dan diselipkan bunga ros di bagian sebelah kiri. Sementara itu, para penari laki-laki menggunakan kemeja lengan panjang yang dipadukan dengan celana panjang. Penempilan para pria dilengkapi dengan penutup kepala berbentuk segitiga khas Sulawesi Utara.

Pariwisata Indonesia

Sedangkan pemimpin Tari Maengket menggunakan baju yang hampir sama dengan penari yang lain. Namun, baju yang dikenakan terlihat lebih mencolok baik dari segi warna maupun corak. Hal itu untuk membedakan antara pemimpin dengan penari lain. Selain itu, seluruh penari juga dilengkapi dengan aksesoris berupa lenso atau sapu tangan yang dikaitkan di jari kelingking baik sebelah kiri maupun kanan.

Pada awalnya, Tari Maengket merupakan tari yang dibawakan sebagai ungkapan syukur pada Tuhan dan kebahagiaan atas hasil panen yang didapatkan. Selain itu, tari ini juga menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Minahasa.

Pada zaman dahulu, gerakan-gerakan Tari Maengket masih sangat sederhana. Seiring perkembangan zaman, gerakan tari ini pun mengalami banyak modifikasi, tapi tetap tidak menghilangkan keasliannya. Tari tradisional ini memiliki tiga bagian, yaitu maowey kamberu, marambak, dan lalayan.

Pada bagian pertama, yaitu maowey kambaru, yang ditandai dengan jentikan jari dari kapel. Jentikan jari ini bermaksud untuk mengundang dewi turun ke Bumi. Pada bagian ini, para penari melakukan gerakan-gerakan yang menggambarkan rasa syukur dan kebahagiaan atas hasil panen yang melimpah.

Bagian kedua, yaitu marambak yang berasal dari kata rambak yang berarti menyentakkan kaki ke tanah. para penari membawakan gerakan yang menggambarkan semangat gotong royong pada masyarakat Minahasa, yaitu tradisi mapalus.

Bagian terakhir, yaitu lalayan disebut juga tari pergaulan. Bagian ini menggambarkan hubungan antara pemuda dan pemudi Minahasa pada zaman dahulu dalam mencari jodoh.

Seiring perkembangan zaman, Tari Maengket tidak hanya dipentaskan sebagai ungkapan rasa syukur. Tari ini mulai banyak dibawakan dalam berbagai acara adat, festival budaya, pertunjukan seni, penyambutan tamu, hingga promosi pariwisata. Pada tahun 2012, Tari Maengket ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Sulawesi Utara.(Nita/RPI)