Terancam

Polopalo, Alat Musik Gorontalo yang Mulai ditinggalkan
pariwisata indonesia

Selain Makassar, pare-pare dan Manado, Gorontalo termasuk kota tua yang ada di Pulau Sulawesi. Kota ini terbentuk sekitar 400 tahun yang lalu. Sebagai kota tua, Gorontalo kaya akan peninggalan dari nenek moyang. Peninggalan-peninggalan itu ada yang masih terus dilestarikan dan ada yang telah ditinggalkan. Salah satu peninggalan yang masih ada adalah alat musik tradisional bernama polopalo.

pariwisata indonesia

Polopalo berasal dari kata polopalo yang berarti bergetar. Alat musik ini memiliki bentuk seperti garputala raksasa. Polopalo merupakan alat musik idiofon, yaitu alat musik yang sumber bunyinya berasal dari badannya sendiri. Alat musik ini memiliki ukuran yang besar, sedang, dan kecil. Semakin kecil ukuran polopalo, semakin nyaring suara yang dihasilkan.

Alat musik ini dibuat dari bahan bambu (Bambusa sp) dengan panjang sekitar 31 cm dan diameter sekitar 9-17 cm. Bambu dipotong sesuai dengan ruasnya. Bagian bawah bambu (yang terdapat ruas) merupakan tempat untuk pegangan. Sedangkan bagian atas, dibentuk seperti mulut buaya yang sedang menganga dan nantinya menjadi bagian yang dipukulkan.

pariwisata indonesia

Awalnya, polopalo dimainkan oleh para petani untuk menemani ketika sedang berada di sawah. Alat musik ini juga mulai dimainkan saat waktu sahur dan sebagai tanda berbuka puasa di bulan Ramadhan. Di tahun 1960 hingga 1960, Polopalo kerap dimainkan di hari-hari istimewa masyarakat Gorontalo, seperti saat panen raya atau saat bulan t’rang (bulan purnama). Tanpa menunggu perintah atau komando, masyarakat Gorontalo memainkannya sebagai ungkapan rasa syukur. Biasanya, alat musik ini dimainkan saat malam, sekitar pukul 10 hingga 1 dini hari.

Cara memainkan polopalo yaitu dengan memukul-mukulkannya di bagian lutut. Hal itu akan membuat alat musik ini menghasilkan bunyi yang berasal dari getaran. Dalam perkembangannya, dibuat kayu berlapis karet sebagai tempat untuk memukul polopalo, agar bagian lutut pemainnya tidak merasa sakit. Selain itu, kayu berlapis karet tersebut akan membuat suara yang dihasilkan polopalo lebih nyaring.

Pada masa lalu, nada yang dihasilkan polopalo sangat sederhana dan lebih cocok dimainkan secara solo. Seiring perkembangan zaman, para seniman pun membuat berbagai bentuk polopalo sehingga menghasilkan nada-nada yang berbeda dan harmonis. Sekarang, polopalo telah memiliki tangga nada yang bisa dikomposisikan dan dimainkan secara berkelompok untuk menghasilkan sebuah karya musik indah.

Sayangnya, alat musik ini mulai ditinggalkan oleh generasi masa kini yang lebih tertarik dengan jenis musik modern. Meskipun begitu, ada banyak pula pihak yang terus berupaya menjaga alat musik tradisional ini dari ancaman kepunahan, seperti mengajarkan polopalo di jenjang sekolah, memainkan polopalo di berbagai festival, hingga membuat miniatur polopalo sebagai cinderamata khas Gorontalo.

pariwisata indonesia

Sobat Pariwisata! Dengan upaya-upaya ini diharapkan polopalo tetap menjadi kebanggaan dan terus dilestarikan.(Nita)