Termahal Di Dunia

Rambu Solo’, Upacara Pemakaman Masyarakat Toraja
Pariwisata Indonesia

Salah satu daerah yang terkenal di Sulawesi Selatan adalah Tana Toraja. Daerah yang dijuluki sebagai ‘Negeri orang mati yang hidup’ ini bahkan pernah menjadi ikon pariwisata Indonesia pada tahun 1970-an. Tana Toraja memiliki banyak budaya dan adat istiadat yang unik dan masih terus dipertahankan hingga kini, salah satunya adalah Rambu Solo’.

Rambu Solo’ berasal dari Bahasa Toraja, yaitu rambu yang berarti asap dan solo’ yang berarti bawah. Asap ke bawah merujuk pada persembahan yang dilakukan setelah lewat pukul 12 siang, atau saat matahari tergelincir ke bawah. Rambu solo’ merupakan upacara pemakaman yang diyakini sebagai penyempurnaan bagi orang yang telah meninggal.

Pariwisata Indonesia

Menurut aluk todolo (aturan/ kepercayaan leluhur), mati semata-mata merupakan perubahan status dari manusia fisik di dunia menjadi roh di alam baka (puya). Rambu Solo’ dianggap sebagai proses atau pintu gerbang untuk mengantar roh menuju puya.  Di tempat ini, roh diyakini akan bertransformasi menjadi roh gentayangan (bombo), roh setingkat dewa (to mebali puang), atau roh pelindung (deata).

Rambu Solo’ merupakan acara pemakaman terbesar dari Suku Toraja. Bahkan, upacara pemakaman ini termasuk yang termahal di dunia. Mahalnya biaya pelaksanaan Rambu’ Solo membuat acara pemakaman ini membutuhkan persiapan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Selama masa penantian tersebut, jenazah keluarga yang telah meninggal diawetkan menggunakan ramuan atau formalin dan disemayamkan di rumah. Meskipus secara medis  telah meninggal, jenazah ini dianggap seperti orang yang sedang sakit (to makula) dan dalam kondisi lemah. Setiap harinya, anggota keluarga memberi sajian makanan, minuman, diajak berbicara serta bercanda seperti biasa, hingga tiba saat pelaksanaan Rambu Solo’.

Pada zaman dahulu, Rambu Solo’ hanya dilaksanakan oleh kalangan bangsawan. Para budak bahkan dilarang untuk melaksanakan acara ini. Di zaman sekarang, hampir semua kalangan melaksanakan upacara ini. Sebenarnya, ada keringanan dimana keluarga miskin dibebaskan dari kewajiban melakukan upacara ini.

Namun, masyarakat Tana Toraja umumnya memiliki budaya siri’ atau budaya malu karena tidak ada batasan waktu kapan pelaksanaan Rambu Solo’. Sehingga pihak keluarga akan berupaya keras untuk bisa melaksanakan kewajiban yang juga merupakan penghormatan terakhir.

Pariwisata Indonesia

Besarnya biaya Rambu Solo’ terutama pada biaya babi dan kerbau yang harus dipersiapkan. Bagi golongan menengah, hewan kurban yang dipersiapkan bisa berjumlah 8-10 ekor kerbau ditambah 30-50 ekor babi. Sementara golongan bangsawan menyiapkan hingga ratusan ekor kerbau. Semakin banyak kerbau yang dikurbankan, diyakini akan semakin mempercepat perjalanan sang roh menuju puya.

Kerbau yang digunakan dalam acara ini merupakan kerbau khusus, yaitu kerbau bule (tedong bonga) belang. Kerbau ini memiliki ciri khas pada kulit albinonya dan berwarna belang. Harga satu ekor kerbau sekitar 20-50 juta rupiah, bahkan ada yang mencapai 600 juta. Tidak heran jika Rambu Solo’ memakan biaya ratusan juta bahkan hingga 5 milyar rupiah.

Pariwisata Indonesia

Biaya yang tinggi tersebut didapatkan dari sumbangan wajib seluruh pihak keluarga. Setiap anggota keluarga berlomba-lomba memberikan sumbangan terbaik. Biaya ini pun menjadi salah satu motivasi bagi masyarakat Suku Toraja untuk bekerja keras sehingga dapat mengumpulkan biaya untuk mempersembahkan pemakaman yang layak, terutama bagi orang tua mereka.Upac

Secara garis besar, Rambu Solo dibagi menjadi dua prosesi. Pertama, prosesi pemakaman (rante) yang diadakan di lapangan tengah kompleks rumah adat tongkonan. Rante terdiri dari beberapa acara, yaitu ma’tudan mebalun (pembungkusan jasad), ma’roto (menghias peti menggunakan benang emas dan perak), ma’popengkalo alang (mengarak jenazah menuju lumbung untuk disemayamkan), serta ma’palao atau ma’pasonglo (mengarak jenazah dari rumah tongkonan menuju area pekuburuan yang berupa gua di tebing batu).

Prosesi kedua yaitu pertunjukan kesenian yang bertujuan untuk memeriahkan acara serta bentuk penghormatan dan doa untuk orang yang meninggal. Prosesi ini terdiri dari perarakan kerbau, pertunjukan musik dan tari tradisional, pertunjukan adu kerbau, hingga penyembelihan hewan kurban.

Sobat Pariwisata! Umumnya, Rambu Solo’ diadakan pada bulan Juli hingga Agustus dan menjadi salah satu daya tarik wisatawan baik domestik maupun internasional. Upacara ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Sulawesi Selatan sejak tahun 2018.(Nita)