Terompet Kerang?

Tahuri, Alat Musik Tradisional Maluku

Sebagai salah satu provinsi kepulauan, Maluku terkenal dengan lautannya. Laut bagi masyarakat Maluku merupakan sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan pangan juga menjadi daya tarik pariwisata, seperti Pulau Bair, Pulau Seram, dan Pulau Molana. Selain itu, hasil kekayaan laut Maluku juga dimanfaatkan untuk alat komunikasi dan kesenian. Misalnya, Tahuri.

Pariwisata Indonesia

Tahuri merupakan alat musik tiup (aerophone) yang berasal dari kulit kerang atau oleh penduduk lokal disebut bia. Alat musik ini diyakini lahir di Negeri Hutumuri, Kecamatan Letitimur Selatan, Ambon. Uniknya, suara yang dihasilkan Tahuri bergantung pada besar kulit kerang. Semakin besar kulit kerang, semakin rendah pula nada yang dihasilkan. Sebaliknya, semakin kecil kulit kerang, semakin nyaring pula nada yang dihasilkan.

Pada zaman dahulu, Tahuri digunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengumuman pada masyarakat. Misalnya, ketika ada yang meninggal maka Tahuri akan ditiup sebanyak satu kali. Selain itu, Tahuri juga menjadi alat untuk mengumpulkan rakyat, untuk mengumumkan titah raja, hingga pengumuman keadaan perang.

Pariwisata Indonesia

Tahuri juga digunakan dalam berbagai upacara-upacara adat, misalnya upacara pelantikan raja. Meniupkan Tahuri sebanyak tiga kali selama berurutan, dengan masing-masing tiupan yang panjang, menjadi tanda bahwa upacara tersebut dimulai. Meskipun suara yang dihasilkan tidak memiliki nada, tapi Tahuri yang digunakan pada upacara adat memiliki tingkat kesakralan tertentu. Konon, Tahuri tersebut mampu mengundang arwah-arwah para leluhur.

Seiring perkembangan zaman, Tahuri pun mengalami perkembangan fungsi. Kulit kerang ini kerap dijadikan sebagai cinderamata atau kenang-kenangan dari Provinsi Maluku.

Potensi Tahuri sebagai identitas Provinsi Maluku tidak ingin disia-siakan begitu saja. Dominggus Paulus Horhorouw, seorang pemimpin orkes suling, berniat untuk mengembangkan Tahuri menjadi salah satu alat musik tradisional. Ide brilian tersebut pun disambut dengan baik oleh pemerintah daerah. Segala upaya pun dikerahkan, termasuk mencari kulit kerang hingga ke Saumlaku, Dobo, Kepulauan Aru, dan Banda. Pada tahun 1958, pengembangan Tahuri sebagai alat musik tradisional pun terealisasi.

Pariwisata Indonesia

Tahuri dibuat dari material kulit siput laut yang dikenal sangkakala palsu (Syrinx aruanus) atau Bia Terompet (Cypraecassis rufa). Kulit kerang yang telah dibersihkan kemudian dilubangi dengan menggunakan bor. Besarnya lubang akan mempengaruhi nada yang dihasilkan. Untuk mendapatkan nada yang sesuai, dibutuhkan bantuan alat musik lain seperti suling atau pianika . Sebuah Tahuri hanya mampu menghasilkan satu buah nada. Sehingga untuk membuat tangga nada C mayor lengkap (c, d, e, f, g, a, b, c’) dibutuhkan delapan buah kerang.

Pada masa sekarang, selain digunakan dalam upacara adat, Tahuri juga kerap dimainkan untuk mengiringi berbagai tari tradisional, seperti Tari Cakalele. Tahuri juga dipertunjukan bersama alat musik lain, baik tradisional maupun modern, dalam sebuah orkestra di berbagai pentas seni dan festival budaya.

Sobat Pariwisata! Selain terkenal di Maluku, Tahuri juga terkenal di Kabupaten Biak, Provinsi Papua. Pada tahun 2017, Tahuri ditetapkan sebagai warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Maluku.(Nita)