Tradisi ‘Berdarah’

Mengenal tradisi unik bikin mata kamu 'melongo' berasal dari Maluku Tengah. Pagelaran 'pukul sapu' atau ukuwala mahiate menjadi daya tarik pariwisata di daerah ini. Aktivitas budaya yang membuahkan bekas cambukan bisa bikin berdarah. Uniknya, para peserta tidak merasa kesakitan. Itu semua bukan karena unsur magis. Namun, rasa sakit tersebut diakui pudar karena semangat dari dalam diri para peserta. Mau tahu cerita lengkapnya, baca ulasan di bawah ini.
Pariwisata Indonesia, situs pariwisata indonesia official, pariwisata indonesia official, Atraksi Pukul Sapu Lidi, Budaya Maluku, Morela, Negeri Adat Morela, Pukul Sapu, Tradisi Unik dari Maluku Tengah, wisata budaya, wisata sejarah, Pariwisata, Website Pariwisata Indonesia, Website Pariwisata Indonesia Official, Pariwisata Indonesia Bangkit, Media Pariwisata Indonesia Official, Indonesia Tourism, Media PVK, Umi Kalsum Founder PVK
Tradisi Pukul Sapu foto bytravelingyuk.com

Indonesia merupakan negara yang kaya akan ritual dan adat istiadat. Masyarakat dari Sabang hingga Merauke memiliki tradisi masing-masing yang diwariskan turun temurun oleh nenk moyang mereka. Beberapa ritual tersebut bahkan menjadi daya tarik pariwisata di daerah tersebut. Seperti tradisi pukul sapu atau ukuwala mahiate di Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Pariwisata Indonesia, situs pariwisata indonesia official, pariwisata indonesia official, Atraksi Pukul Sapu Lidi, Budaya Maluku, Morela, Negeri Adat Morela, Pukul Sapu, Tradisi Unik dari Maluku Tengah, wisata budaya, wisata sejarah, Pariwisata, Website Pariwisata Indonesia, Website Pariwisata Indonesia Official, Pariwisata Indonesia Bangkit, Media Pariwisata Indonesia Official, Indonesia Tourism, Media PVK, Umi Kalsum Founder PVK

Ukuwala mahiate berasal dari bahasa negeri Mamala, yaitu kata ukuwala yang berarti sapu lidi dan kata mahiate yang berarti baku pukul atau saling memukul. Ukuwala mahiate dapat diartikan sebagai tradisi saling memukul menggunakan batang-batang lidi. Tradisi ini dilakukan oleh pemuda dari dua desa, yaitu Desa Mamala dan Desa Morela.

Baca Juga :  3 Pantai Terbaik di Ambon, Maluku

Tradisi ukuwala mahiate bagi masyarakat Mamala dan Morela memiliki sejarah masing-masing. Bagi masyarakat Mamala, ukuwala mahiate merupakan ungkapan syukur atas pembangunan Masjid Mamala di Desa Mamala. Masjid yang di bangun pada abad ke-17 ini berhasil dibangun tanpa menggunakan satu paku pun.

Pariwisata Indonesia, situs pariwisata indonesia official, pariwisata indonesia official, Atraksi Pukul Sapu Lidi, Budaya Maluku, Morela, Negeri Adat Morela, Pukul Sapu, Tradisi Unik dari Maluku Tengah, wisata budaya, wisata sejarah, Pariwisata, Website Pariwisata Indonesia, Website Pariwisata Indonesia Official, Pariwisata Indonesia Bangkit, Media Pariwisata Indonesia Official, Indonesia Tourism, Media PVK, Umi Kalsum Founder PVK

Sedangkan tradisi ukuwala mahiate bagi masyarakat Morela merupakan ungkapan kesedihan. Pada abad ke-16, Kapiten Tulukabessy beserta pasukannya tidak mempu menahan gempuran dan serangan dari Portugis dan VOC yang berakibat jatuhnya Benteng Kapapaha ke tangan para penjajah. Kegagalan tersebut membuat para prajurit menghukum diri dengan saling mencambuk hingga berdarah.

Baca Juga :  Mencoba Suami dari Maluku

Meskipun ukuwala mahiate memiliki sejarah yang berbeda di antara dua desa, tapi tradisi ini dilakukan dengan waktu dan cara yang sama. Ukuwala mahiate dilakukan setiap tanggal 7 atau 8 Syawal dalam penanggalan Hijriah. Pada tanggal tersebut, para pemuda berkumpul di satu tempat terbuka untuk melaksanakan ukuwala mahiate.

Ukuwala mahiate dimulai dengan beberapa orang pemuda yang berdiri saling berhadapan. Masing-masing pemuda membawa puluhan batang lidi sepanjang 1 hingga1,5 meter yang berasal dari pohon enau. Lidi-lidi inilah yang nantinya akan digunakan untuk saling memukul lawan yang berdiri di hadapannya.

Baca Juga :  Baileo, Rumah Ruh Nenek Moyang Ambon
Baca Juga :  Manis, Lincah dan Gesit

Kostum yang digunakan para peserta ukuwala mahiate terdiri dari celana pendek dan ikat kepala. Bagian dada dan perut dibiarkan terbuka, tidak menggunakan penutup apapun. Sedangkan bagian kepala diikat dengan kain hingga menutupi telinga agar terlindung dari cambukan lidi.

Dalam ukuwala mahiate berlaku satu aturan. Bagian yang boleh dipukul  hanyalah bagian dada hingga perut, serta bagian punggung. Para peserta akan saling memukul atau mencambuk secara bergantian, sesuai dengan aba-aba yang diberikan.

Tradisi ukuwala mahiate akan membuahkan bekas cambukan yang berdarah. Uniknya, para peserta tidak merasa kesakitan. Itu semua bukan karena unsur magis dalam tradisi ini. Namun, rasa sakit tersebut diakui pudar karena semangat dari dalam diri para peserta.

Setelah acara saling pukul lidi selesai, para peserta akan mengoleskan luka-luka di tubuh mereka dengan getah pohon jarak atau dengan minyak nyualaing matetu (minyak tasala). Pengobatan ini diyakini mampu menyembuhkan luka-luka tersebut, bahkan dalam waktu kurang dari seminggu.

Sobat Pariwisata! Tradisi ukuwala mahiate tidak hanya menarik bagi masyarakat setempat. Banyak para wisatawan yang sengaja berkunjung ke Malala maupun Morela untuk dapat menyaksikan tradisi tahunan ini. Pada tahun 2016, tradisi Ukuwala mahiate atau Pukul Sapu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Provinsi Maluku. (Nita)