Tradisi Mekotek Bali

Semangat Kepahlawanan hingga Penolak Bala

Berbicara tentang kebudayaan dan tradisi Bali memang tidak ada habisnya. Uniknya, kebudayaan dan tradisi ini banyak yang tidak bisa kita temui di belahan bumi yang lain. Salah satunya adalah tradisi Mekotek.

Mekotek merupakan salah satu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Tradisi ini berasal dari suara ‘tek…tek…’ yang merupakan bunyi yang dihasilkan saat tongkat-tongkat kayu saling bertemu. Tradisi ini diadakan setiap 6 bulan sekali atau 210 hari dalam perhitungan penanggalan Hindu, yaitu pada Hari Raya Kuningan dan setelah Hari Raya Galungan.

Tradisi Mekotek merupakan salah satu tradisi penolak bala dan ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diterima oleh masyarakat. Tradisi ini dimulai dengan ribuan pria berusia 12 hingga 60 tahun yang berkumpul di Pura Dalem Munggu. Para pria ini diwajibkan menggunakan pakaian adat madya, yaitu kancut (lelacingan) dan udeng Bali. Mereka juga membawa tongkat dari kayu Pulet sepanjang 2 hingga 3,5 meter yang kulitnya telah dikupas dan menjadi halus.

Pariwisata Indonesia

Setelah sampai di Pura Dalem Munggu, para peserta akan melakukan persembahyangan. Selanjutnya, para pria ini akan dibagi menjadi sekitar 50 orang dan mulai berbondong-bondong menuju mata air di Desa Munggu-Badung. Dalam perjalanan mereka akan menyatukan bilah-bilah tongkat kayu yang dibawa menjadi bentuk piramida.

Salah satu pria yang memiliki nyali akan naik ke atas piramida kayu ini untuk memberikan semangat dan perintah untuk menubrukan piramida dengan piramida yang lain. Iringan gamelan akan menambah kemeriahan di tengah seruan para komandan.

Pariwisata Indonesia

Awalnya, tradisi ini merupakan luapan kegembiraan masyarakat atas kemenangan pasukan Kerajaan Mengwi yang telah ada sejak abad ke-18. Pada saat itu, Kesultanan Kartasura menyerahkan Blambangan, salah satu wilayahnya, kepada pihak VOC. Bagi Kerajaan Mengwi, Blambangan merupakan pulau yang sangat strategis dari segi ekonomi maupun perdagangan. Terlebih lagi, Blambangan yang terletak di ujung timur Pulau Jawa itu hanya dipisahkan oleh selat.

Penyerangan ke Blambangan membawa kemenangan bagi Kerajaan Mengwi. Kemenangan inilah yang kemudian dirayakan oleh rakyat dalam tradisi Mekotek. Rakyat berbondong-bondong menyatukan tongkat besi atau tombak yang merupakan senjata para prajurit. Tongkat besi sepanjang lebih dari dua meter ini pun dibuat membentuk piramida. Salah satu pria lalu naik ke puncak piramida untuk menyerukan kalimat-kalimat semangat.

Pariwisata Indonesia

Sejak itu, tradisi ini pun berlanjut turun-temurun. Hingga saat Bali dikuasai oleh VOC. Di tahun 1915, Pemerintah Kolonial Belanda merasa khawatir jika tradisi Mekotek memantik semangat perjuangan para pemuda Bali. Mereka pun memerintahkan agar tradisi ini dihentikan. Namun, wabah tiba-tiba menyerang daerah Mengwi.

Korban-korban berjatuhan dan banyak di antaranya yang meninggal dunia. Para pemuka adat dan tokoh masyarakat lalu melakukan negosiasi dengan otoritas Pemerintah Belanda di Badung. Negosiasi alot ini pun membuahkan hasil. Tradisi Mekotek mulai diperbolehkan lagi untuk dilaksanakan.

Sejak tahun 1948, penggunaan tongkat besi pada tradisi Mekotek digantikan dengan tongkat kayu. Hal ini untuk menghindari adanya masyarakat yang terluka karena tongkat-tongkat besi tersebut. Sementara tongkat besi yang dulu dipergunakan, saat ini tersimpan rapi di pura setempat.

Hingga saat ini, tradisi Mekotek masih terus dilangsungkan dan sekaligus menjadi atraksi yang memancing para wisatawan. Sobat Pariwisata, jika ingin menyaksikan tradisi ini, jangan lupa jadwalkan liburan, sesuai dengan jadwal pelaksanaan Mekotek dan nikmati keseruan tradisi turun-temurun ini.(Nita)