ULOS, Kehangatan dalam Selembar Kain

Pariwisata Indonesia, Kehangatan dalam Selembar Kain Ulos, Kain Ulos, Ulos Batak, Culture Indonesia, Kebudayaan Nusantara, Pariwisata Indonesia 2022, Pariwisata di Indonesia, Parwisata di Sumatera Utara
Ilustrasi gambar: Kain Ulos Khas Suku Batak

Hai, Gaes! Ke Medan tapi enggak beli ulos, rasanya kurang lengkap, dong. Bisa-bisa, enggak ada yang percaya kalo lo habis liburan di kota ini.

Eits, tapi sebelum beli ulos, enggak ada salahnya lo simak info tentang kain khas Sumatera Utara ini.

FYI, ulos udah ditetapin sebagai warisan budaya Indonesia. Bahkan, tanggal 17 Oktober dijadiin sebagai hari ulos nasional, loh.

Mungkin ada dari lo-lo yang nanya, apa sih istimewanya ulos? Tahu enggak, ternyata ulos sudah berumur 4000 tahun. Konon, kain ini lebih tua ketimbang tekstil di Eropa. Gokil enggak, tuh?

Saat itu, nenek moyang suku Batak terutama yang tinggal di daerah dataran tinggi, memakai ulos buat ngangetin tubuh. Jadi, ulos sebenarnya berarti kain selimut.

Ulos sangat penting buat melawan hawa dingin di masa itu. Kain ini bisa ngegantiin hangat matahari pas udah terbenam dan ngegantiin hangat api kalo lagi mager atau kehabisan kayu bakar.

Makanya, ulos erat banget sama istilah kehangatan. Bukan cuma kehangatan tubuh, tapi juga kehangatan di keluarga. Kehangatan keluarga ini bisa lo lihat dari ritual mangulosi atau memberi ulos di acara-acara adat Batak, seperti pernikahan, kelahiran, sampai kematian.

Oh ya, Gaes! Lo enggak boleh ngasih ulos dengan motif random, loh. Soalnya nih, setiap motif punya arti dan fungsi masing-masing.

Menyoroti cara pembuatannya, enggak berbeda jauh dengan kain tenun pada umumnnya, yakni pembuatan ulos memakai alat tenun bukan dengan mesin.

Wajar aja bila pembuatan ulos itu butuh waktu yang enggak sebentar. Untuk ulos kualitas tinggi, biasanya bisa sampai empat bulan. Lama juga, ya?

So, jangan heran kalo harga untuk ulos jenis ini bisa sampai jutaan rupiah. Biarpun harganya tinggi, ulos tetap diminati wisatawan dalam dan luar negeri, loh.

Ngeliat proses penenunan ulos bisa juga jadi agenda liburan Lo di Sumatera Utara. Di mana Lo bisa lihat proses itu di desa-desa pengrajin ulos, seperti Desa Papande di Pulau Sibalang, Desa Meat di Toba Samosir, atau Desa Lumban Suhi Suhi Toruan.

Ada yang menarik nih, tatkala Lo perhatiin aneka warna pada kain ulos ini, biasanya ulos berwarna biru, merah, kuning, dan hitam.

Awalnya, warna-warna itu pakai bahan alami. Warna biru dari tanaman indigo, warna merah dari kayu secang dan mengkudu, warna kuning dari kunyit. Sementara untuk warna hitam merupakan percampuran tanaman indigo dan mengkudu.

Kini, pengrajin ulos lebih milih pewarna sintetik. Alasannya, tentu biar lebih gampang didapatin dan murah.

Di masa lalu ulos biasanya berupa selendang dan sarung. Nah, di zaman sekarang lo bisa temuin ulos dalam berbagai bentuk. Ada pouch buat naro alat tulis sekolah, kipas buat emak ke kondangan, tempat tisu buat di rumah, atau baju modern yang bisa lo pakai di fashion week.

Untuk souvenir-souvenir yang ukurannya kecil, harganya sudah pasti lebih murah. Dengan begitu, lo bisa borong sebanyak-banyaknya, lalu bagi-bagiin deh ke teman atau kerabatnya. Siapa tahu, bisa makin menghangatkan hubungan kalian. Ya, enggak? (Anita)

Pewarta: Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2022

× Hubungi kami