Upacara Tiwah

Wujud Bakti pada Orang Tua
Pariwisata Indonesia

Tidak hanya orang tua yang dapat menunjukan kasih sayangnya untuk anak, anak pun bisa melakukan hal sebaliknya. Bagi masyarakat Suku Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah, pengabdian seorang anak pada orang tua belum tuntas sebelum dilaksanakannya upacara Tiwah. Upacara ini dilakukan terutama oleh masyarakat yang menganut agama Kaharingan (agama kepercayaan penduduk lokal).

Pariwisata Indonesia

Tiwah merupakan upacara kematian yang digelar bagi seseorang yang telah meninggal lama dan dikubur lama. Upacara terbesar dalam Suku Dayak ini dilakukan untuk mengantarkan roh manusia menuju Lewu Liau atau alam tertinggi. Jenazah yang belum menjalani upacara Tiwah diyakini belum rohnya belum pergi ke Lewu Liau dan masih berada di sekitar lingkungan manusia yang masih hidup. Keberadaan roh-roh ini diyakini akan membawa gangguan seperti gagal panen dan penyakit.

Selain itu, upacara Tiwah juga bertujuan untuk melepas status janda atau duda bagi pasangan yang ditinggalkan. Setelah pelaksanaan Tiwah, pasangan yang masih hidup bisa menentukan apakah ingin tetap sendiri atau mencari pasangan baru.

Oleh karena itu, upacara ini menjadi salah satu kewajiban bagi keluarga, terutama anak keturunan yang ditinggalkan. Upacara ini telah dilakukan sejak lama dan terus dipertahankan secara turun temurun. Meskipun ada beberapa modifikasi sesuai dengan perkembangan zaman dan kebijakan pemerintah.

Pada saat pelaksanaan Tiwah, jenazah yang telah dikubur akan digali dan dikumpulkan tulang belulangnya. Bagi jenazah yang tubuhnya masih utuh, maka tulang harus dipisahkan terlebih dahulu dari dagingnya.

Besarnya biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan Tiwah menjadi salah satu kendala bagi penduduk yang tingkat ekonominya rendah. Sehingga Tiwah baru dilakukan bertahun-tahun kemudian. Untuk memperingan biaya, Tiwah juga bisa dilakukan secara gotong royong oleh beberapa keluarga bahkan hingga satu desa.

Waktu pelaksanaan Tiwah harus dibicarakan terlebih dengan pemimpin upacara atau bakas Tiwah. Umumnya Tiwah dilakukan setelah musim panen dan saat libur sekolah agar persediaan pangan terjaga serta pihak keluarga tidak disibukkan dengan hal lain.

Tidak ada ketentuan pasti berapa jangka waktu pelaksanaan Tiwah, tapi upacara ini biasanya dilakukan selama 7-40 hari. Lamanya hari pelaksanaan Tiwah serta kemeriahannya menjadi salah satu penanda kemampuan ekonomi keluarga.

Tiwah memiliki beberapa tahapan. Di antaranya, pertama keluarga harus mendirikan balai nyahu yang pembangunanya harus selesai dalam satu hari. Balai nyahu ini  menjadi tempat sementara tulang-tulang yang telah dibersihkan. Selanjutnya, keluarga harus membuat anjung-anjung (bendera kain) sejumlah jenazah yang di-Tiwahkan.

Pariwisata Indonesia

Setelah itu, tulang belulang jenazah akan dimasukan ke balai nyahu. Proses ini diyakini sebagai awal mula roh diantarkan ke Lewu Liau. Pada saat proses ini berlangsung, tabuh-tabuhan alat musik akan didendangkan secara terus-menerus.

Selanjutnya, keluarga melakukan tarian sakral Manganjan sambil mengelilingi sangkai raya (tempat anjung-anjung dan persembahan) dan sapundu (patung yang dipahat berbentuk manusia dan digunakan sebagai tempat mengikat kurban). Keluarga akan menari dengan riang gembira karena roh keluarga mereka akhirnya bisa diantarkan ke Lewu Liau.

Setelah Manganjan selesai, dimulailah acara menombak hewan kurban, seperti kerbau, dapi, dan babi, yang dilakukan oleh keluarga. Masyarakat percaya, cucuran darah dari hewan kurban akan mensucikan roh. Setelah hewan kurban mati, kepalanya lalu dipenggal dan dikubur di bawah sapundu yang diletakkan di samping sandung, sementara dagingnya dimasak dan dimakan bersama-sam.

Pariwisata Indonesia

Pada zaman dahulu, Suku Dayak kerap melakukan mangayau yaitu tradisi perburuan kepala manusia yang nantinya menjadi kurban dalam pelaksanaan Tiwah. Tradisi ini dilakukan terutama jika yang meninggal adalah seorang bangsawan. Masyarakat percaya, korban yang dikubur akan menjadi teman bagi roh. Namun, sejak pemerintah kolonial Belanda hadir di Kalimantan, kepala manusia pun digantikan dengan kepala hewan.

Puncak upacara Tiwah adalah saat tulang belulang yang telah disucikan dibungkus dengan kain merah dan dimasukkan ke dalam sandung. Sandung biasanya dibuat dengan material kayu ulin (kayu besi) yang bisa bertahan hingga ratusan tahun. Di bagian luar sandung diberi ukiran dengan motif tertentu. Seiring perkembangan zaman, sandung pun mulai dibuat dengan material pasir dan semen, karena semakin sulitnya menemukan kayu ulin.

Pariwisata Indonesia

Keunikan Tiwah menjadikan upacara ini menarik minat wisatawan baik dalam maupun luar negeri, loh, Sobat Pariwisata! Namun, ada beberapa hal yang harus dipatuhi oleh para wisatawan, terutama pantangan untuk membawa benda-benda yang tidak boleh ada di sekitar lokasi upacara. Pada tahun 2014, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia menetapkan Tiwah menjadi salah satu Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.(Nita/RPI)