Ada Pesan Moral Wisata ke Batu Malin Kundang

Ada Pesan Moral Wisata ke Batu Malin Kundang

'Gaaes, Ketika Sukses dan Jadi Orang, Jangan Lupakan Orang Tua!

‘Gaaes, yuk wisata ke Batu Malin Kundang. Sebelum berlibur, cari tahu dulu legenda cerita Batu Malin Kundang. Dongeng dari Sumatera Barat mengundang wisatawan lokal untuk majukan Pariwisata Indonesia. Dongeng hikayat Batu Malin Kundang sering dibacakan menjelang tidur. Cerita masyarakat Sumatera Barat. Berkisah, kasih sayang Ibu kepada anak tercintanya. Anak nggak tahu diri, malah durhaka kepada ibu. ‘Jahat!’

Cerita ringkas kurang lebih begini. Malin Kundang awalnya anak baik. Dan menjadi harapan orang tua. Hidup sukses di negri perantauan. Rindu kampung halaman, pulanglah dan membawa istrinya. Tiba-tiba, Malin dipeluk wanita tua renta, kumuh lusuh dan sakit-sakitan. Malin tau, untuk akui malu. Dalam hati sadar, wanita tua renta berpakaian compang-camping, benar ibunya. 

Komen lucu-lucu, Jahil bin usil. Instagram@rinamelatimel di fotonya menuliskan caption, “Iyoooo, sudah amak maafkan, Nak😢,” tulis Netizen.

Ibu tua renta dan sakit-sakitan meyakini. Ciri-ciri yang dilihat, itu Malin anaknya. Luapan bahagia, rasa senang. Kerinduan ibu berbaju compang camping, terbayar. Sakitnya hilang, semua tidak dirasa. Puluhan tahun menantikan momen bahagia ini. Tiap malam sebelum tidur berdoa buat anaknya. Ibu tua renta bepakaian kumuh di dorong kuat. Pelukan ke laki-laki muda gagah, ganteng terlepas. Bersama para ajudan, ada wanita cantik di sisi anak muda. Tampilan keduanya mewah, harum. Nampak jelas mereka bak saudagar muda kaya raya. Malin bicara, “Kamu bukan ibu saya!” Ucapan keras dan lantang sambil mendorong kuat. Para ajudan dan semua orang di pantai melihatnya, nggak berani mendekat. Ibu ini terluka hatinya. Sedih. Dipermalukan.

Mengangkat dua tangan dan berdoa. Penuh linangan air mata. Dalam doanya mengutuk anak nggak tahu diri dan kurang ajar jadi batu. Malin Kundang seperti kita lihat sekarang, jadi batu. ‘Gaaes, ceritanya penting dan wajib dibaca-baca ulang. Pesan moral dalam dongeng ketika sukses dan jadi orang hebat jangan lupakan orang tua.

Beginilah dongeng dan ceritanya. Konon, zaman dulu banget, hiduplah janda tua ditemani anak laki-lakinya. Dikisahkan dalam dongeng, mereka tinggal di perkampungan Pantai Air Manis, Padang Sumatera Barat. ‘Gaaes, siapa nama janda tua, itu? Bernama Mande Rubayah dan anak laki-lakinya Malin Kundang. Semasa kecil, Malin Kundang sudah ditinggal mati ayah. Hidup bersama di tempat kumuh jauh dari sebutan kaya. Gubuk reot, miskin. Diumumkan dan kabar berita sampai ke telinga Malin Kundang, ada kapal berlabuh di Pantai Air Manis. 

Memahami semua serba payah. Kedatangan Kapal besar membuka harapan. Malin mantap dan bertekad harus merantau. Malin mau merubah nasib keluarga. Pesan moral dan ini positif. Datang dari instagram@tourismholic dalam fotonya menuliskan caption, “Sungguh mengagumkan cerita legenda yang memberikan pelajaran bagi kita semua untuk selalu menyayangi Orang Tua kita.,” tutup Netizen.

View this post on Instagram

Sejak Kecil Selalu Mendengarkan Dongeng Kisah Si Malin Kundang Anak Durhaka. Malin yang mendapat restu dari Ibunya untuk merantau dan akhirnya menikah dengan anak Saudagar Kaya Raya. Namun sekembalinya Malin ke kampung halamannya dengan kapal dia disambut gembira oleh Ibu Kandungnya. Tapi apa yang terjadi Malin durhaka dan tidak mengakui Ibunya yang miskin itu karena malu kepada Istrinya yang cantik dan kaya itu. Karena sakit hati Ibunya mengeluarkan sumpah kepada malin beserta kapalnya terombang ambing dan akhirnya menjadi batu. Hari ini saya berkesempatan mengunjungi Batu yang berbentuk manusia dimana dipercaya itu adalah Batu Malin Kundang. Bentuk batunya seperti sedang bersujud memohon ampunan. Sungguh mengagumkan cerita legenda yang memberikan pelajaran bagi kita semua untuk selalu menyayangi Orang Tua kita. Loc . Pantai Wisata Air Manis, Kota Padang 📷 : @teo_teten #pantaiairmanis #pantaiaiemanih #padang #sumaterbarat #malinkundang #batumalinkundang #tourismholic

A post shared by Haris Atid (@tourismholic) on

“Aku harus berubah, mau sukses seperti orang lain!” Begitu dalam hati berkecamuk. Ia berpikir perantauan menjanjikan tidak dikehidupannya sekarang.

“Ibuku, Malin mau cari kerja minta doa Ibu,” begitu kata Malin.

“Bu, Malin harus merantau ke negri orang,” kata Malin penuh harapan.

“Anakku sayang, dengarlah ibu ‘nak,” jawabnya ke Malin.

“Wahai Malin, belum tentu cuma setahun atau tiga tahun merantau. Buat sukses menjadi orang kaya butuhkan waktu dan anak ibu harus bekerja keras. Temani saja ibu. Ibu sudah tua dan sakit-sakitan. Malin disini, ya. Ibu kebantu. Malin selama ini yang mencuci piring dan cuci baju. Bebenah rumah. Siapa melakukan kalau Malin merantau,” minta Ibunya memohon.

“Bu, ada kapal besar merapat ke pantai. Malin harus cari kerja. Kelak semua berhasil, nasib kita berubah,” Malin meyakinkan.

“Malin malu disini, mau seperti hidup orang-orang. Tidak miskin seperti sekarang,” Ibunya terdiam. Malin terus menekan. Takut ditinggal Kapal.

Komen bahagia dalam instagram@very_bounce di foto Batu Malin Kundang menuliskan caption, “Terima kasih kpda teman2 di padang yg sudah membawa saya sampai ke tmpat bersejarah ini…next time saya akan berkunjung ke bukit tinggi…insya Allah tahun depan,” tulisnya happy.

Meski berat hati, Mande Rubayah relakan dan beri izin merantau. Malin bergegas dan lari ke Kapal.

“Toooot, tot, tooooottttt,” suara terompet keras memekak, tanda Kapal berlabuh.

Hari berganti, bulan berjalan, tahun berbilang-bilang. Tak juga ada kabar beritanya Malin.

Suatu ketika, sebuah kapal besar berlabuh di pantai Air Manis. Melihat hal itu, Mande Rubayah ikut berdesakan dekati kapal. Ia yakin benar, sosok lelaki muda tersebut adalah anaknya Malin Kundang. Dipeluk, erat sekali. Ada rasa bangga. Malin yang ditunggu-tunggu kembali. 

Ibu tua jalan terbata-bata, suaranya serak suara nenek-nenek. Nggak bisa menahan diri. Bahagia. Rindu. Meledak dan air mata bahagia tumpah, “Malin, anakku, mengapa begitu lamanya meninggalkan ibu?” Malin terperanjat, sontak kaget. Gelagap. Bingung. Wajah Malin berubah. Paham wanita tua yang memeluk benar ibunya. Malin Kundang berbohong.

Sebelum sempat berpikir, istrinya yang cantik berkata,”Cuih! Wanita buruk inikah ibumu? Mengapa kamu bohongi aku?” Lalu berkata lagi. “Bukankah dulu kamu mengatakan ibumu bangsawan sederajat seperti kami?”

Mendengar kata-kata istrinya, Malin Kundang dorong wanita tua itu hingga terjungkal. Pelukan nenek-nenek renta terlepas, terguling ke pasir.

Mande Rubayah mengingatkan laki-laki gagah dan berkata lagi, “Malin, Malin, anakku. Aku ibumu, Nak!” Malin Kundang tidak hirau. 

“Hai, Nenek peot! Ibuku tidak seperti kamu, engkau tampak miskin dan kotor!” Teriak Malin melotot. Disepaknya dan wanita tua tetap berusaha bangun sambil kepayahan. Malin mendorongnya lagi. Terjatuh dan dorongan tadi bikin terkapar, pingsan.

Pesan orang tua buat Milenial, yuk baca komen instagram@erlyneyetty64, ditulis di foto Batu Malin Kundang.  Menuliskan caption, “Batu Malinkundang Sumbar… hikayat anak durhaka yg dikutuk jadi batu. Wisata alam di @pantaiairmanis Sumbar, ada ATV bisa menyusuri pantai. Asyiiik juga untyk keluarga…,” tulis Netizen.

Mande Rubayah sadar, Pantai Air Manis sudah sepi. Tatapan Mande Rubayah kosong. Pasrah. 

Dilihatnya kapal Malin menjauh, terus sampai hilang dalam pandangan mata. Hatinya perih seperti ditusuk-tusuk. Tangannya ditengadahkan ke langit. Ia berseru, “Ya Allah, Yang Maha Kuasa, kalau dia bukan anakku, aku maafkan perbuatan tadi. Tapi kalau memang benar dia anakku, Malin Kundang, aku mohon keadilan-Mu.”

Nggak lama, cuaca di tengah laut tadinya cerah, mendadak berubah gelap.

Nggak tahu gimana awalnya, tiba-tiba datang badai besar hantam kapal Malin Kundang.

Hmm, ngaco nih. Ampuuun… Baca yuk, caption instagram@edithedot di fotonya menuliskan caption, “Nengokin Malin Kundang.,” tulis Netizen. Menurut kamu?

Seketika kapal hancur berkeping-keping. Terempas ombak hingga ke pantai. Keesokan hari, di kaki bukit terlihat kepingan kapal telah jadi batu, itulah kapal Malin Kundang. Tak jauh dari bangkai kapal, nampak sebongkah batu menyerupai manusia. Konon, itulah tubuh Malin Kundang si anak durhaka. Terkena kutukan ibunya. Di sela-sela batu, berenang-renang ikan teri, ikan belanak, dan ikan tenggiri. Keyakinan masyarakat disana, ikan ikan itu dari serpihan tubuh sang istri. Terus mencari Malin Kundang.

Pesan moral dari Legenda Cerita Malin Kundang kisah seorang anak durhaka kepada ibu kandung. Ia dibutakan harta benda, tahta, jabatan. Bergelimang harta, kehidupan mewah malu ingat masa lalu. Ketika sukses dan jadi orang, jangan lupakan orang tua. Batu Malin Kundang merupakan sebuah batu yang terkenal di kalangan masyarakat Indonesia. Berdasarkan legenda yang beredar di masyarakat Sumatera Barat. Berlibur ke Batu Malin Kundang banyak dikunjungi wisatawan buat pembelajaran kepada anak-anak mereka.

Jangan pernah sekali-kali melawan orang tua. Karena perkataan orang tua bisa saja langsung dikabulkan oleh Tuhan. Seperti perkataan Mande Rubayah kepada Malin Kundang mengutuk jadi batu. Lokasi wisata Batu Malin Kundang terletak di pesisir Pantai Airmanis, dekat pelabuhan Teluk Bayur. Kalau sudah sampai, bisa menyelami kisah legenda batu. Jangan lupa menikmati Pantai Airmannis, bermain air laut. Bagus buat ceklekceklek. Penyuka foto-foto, dijamin gemes dan malas mau pulang cepat-cepat. Kulinernya, cicipi hidangan seafood pantai. Saksikan video konten kreatif Broo Khairul Huda dalam channel Youtubenya. Jangan lupa untuk subscribe.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )