Berakit-rakit ke Hulu, Berdendam-dendam Jadi Danau

Kalo Liburan ke Bengkulu, Jangan Lupa Mampir di Sini, Yau!
Pariwisata Indonesia, Danau Dendam Tak Sudah, Mengenal Mitos Danau Dendam Tak Sudah sebagai Objek Wisata Alam Tersembunyi di Bengkulu yang berkembang di masyarakat sejak dulu sampai sekarang
Ilustrasi gambar: Keindahan Danau Dendam Tak Sudah menjadi satu-satunya cagar alam di Indonesia yang jaraknya hanya 5 km dari pusat kota Bengkulu, atau terletak di Kelurahan Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. (Foto: Media PI/Sumber: Sekilas Bengkulu)

Halo, Gaes!

‘Dendam Tak Sudah’, mendengar nama tersebut, mungkin lo berpikir kalo itu adalah judul film. Bukan, Gaes! Ini adalah nama sebuah danau yang ada di Provinsi Bengkulu, tepatnya di Kelurahan Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati.

Berkenaan dengan beragam kepercayaan yang disematkan pada Danau Dendam Tak Sudah itu, gue menyoroti sejumlah mitos yang sudah melegenda sebagai cerita rakyat dari daerah Bengkulu terhadap danau ini, dan lo kudu pahami, nih, Gaes!

Empat mitos ini, juga tak ubahnya dengan hikayat danau-danau di Tanah Air yang sudah dipercaya oleh masyarakat sejak dulu sampai sekarang.

Mengawali berbagai mitos Danau Dendam Tak Sudah ini, alkisah, buaya dari Bengkulu bertarung dengan buaya dari Lampung.

Pertarungan yang berlangsung di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan itu dimenangkan oleh buaya Bengkulu. Tapi, sang pemenang terpaksa harus kehilangan ekor dan menjadi buaya buntung.

Lantaran ketidaksempurnaan fisiknya buntut dari jotos-jotosan itu, si buaya buntung mengucapkan kutukan untuk buaya Lampung di danau yang menjadi tempat tinggalnya, “kalau lo main ke sini, tidak akan dikasih makan!”

Sejak sumpahnya itu, danau ini dinamakan pula dengan Danau Dendam Tak Sudah.

Warga sekitar juga memercayai kalo buaya buntung ini akan muncul di waktu-waktu tertentu, seperti menjelang Idul Fitri, misalnya.

Alhasil, tak sedikit warga terpaksa menghentikan aktivitasnya pada waktu-waktu tersebut dengan tidak memancing dan berjualan di sekitar Danau Dendam Tak Sudah.

Konon, buaya buntung juga akan muncul ke permukaan sebelum terjadi bencana alam. Tapi diyakini, hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya.

Selain mitos tentang dua buaya itu, ada juga legenda lainnya, yaitu tentang lintah.

Bila diawal tadi menceritakan soal ‘duel’ dua buaya yang berlangsung sengit, maka ‘folklor kedua’ Danau Dendam Tak Sudah mengisahkan tentang sepasang kekasih tengah dimabuk asmara tapi tak mendapat restu orang tua dan nekat melompat ke danau.

Setelah itu, keduanya menjelma menjadi lintah raksasa dan terus hidup di danau dengan menyimpan dendam karena hubungan cinta mereka yang kandas, Gaes!

Masih tentang asmara yang ambyar, juga menjadi legenda ketiga Danau Dendam Tak Sudah, yang mengisahkan percintaan muda-mudi bernama Esi Marliani yang cantik jelita dan Buyung yang gagah perkasa.

Menariknya, nih, kemesraan sepasang kekasih ini, juga membuat seluruh mahluk yang melihatnya iri, tak terkecuali para hewan penghuni hutan.

Sayangnya, hubungan mereka setali tiga uang dengan kisah sebelumnya, di mana asmara keduanya sama-sama tidak direstui orang tua dan berujung sad ending alias bikin mewek dan baper.

Singkatnya, Buyung dijodohkan oleh Upik Leha, yakni anak kepala suku kampung tetangga yang juga terkenal cantik.

Dalam legenda ini, Buyung berpaling dan jatuh hati dengan kecantikan si Upik Leha.

Di hari pernikahan Buyung dan Upik Leha, Esi yang hatinya terluka, menangis sejadi-jadinya hingga air matanya menjadi air bah membanjiri desa mereka. Desa dan penghuninya pun tenggelam.

Walhasil, genangan air mata Esi itulah konon menjadi Danau Dendam Tak Sudah.

Di antara ketiga mitos tersebut, menurut gue, legenda yang satu ini, sepertinya yang lebih masuk akal (Tentunya, masih terkait dengan legenda yang berkembang di masyarakat tentang Danau Dendam Tak Sudah ini, red).

Dikisahkan bahwa danau ini pada mulanya berupa bendungan atau dam yang dibangun di zaman Pemerintahan Kolonial Belanda difungsikan untuk menampung air agar area di sekitar tidak banjir.

Namun hingga masa penjajahan berakhir, dam ini tidak pernah terwujud. Makanya, danau ini dinamakan juga dengan Danau Dendam Tak Sudah yang berasal dari kata dam tak sudah atau bendungan tak selesai.

Padahal, nih, kalo berdasarkan pendapat yang dikemukakan para ahli, danau ini terbentuk bukan karena empat legenda itu, Gaes, melainkan hadirnya Danau Dendam Tak Sudah diperkirakan akibat aktivitas gunung berapi di sekitarnya.

Untuk selanjutnya, tempat ini diubah menjadi cagar alam oleh Pemerintah Kolonial Belanda dan akhirnya diperluas oleh Pemerintah Indonesia.

Oh ya Gaes, danau seluas 67 hektar ini merupakan bagian dari cagar alam yang total luasnya sekitar 557 hektar.

Keistimewaan Danau Dendam Tak Sudah adalah satu-satunya cagar alam di Indonesia yang jaraknya hanya 5 km dari pusat kota Bengkulu, dan berada di pinggir jalan. Keren, enggak tuh?

Wajar aja, bila menuju danau ini begitu mudahnya untuk dijangkau. Enggak cuma itu doang, moda transportasi ke sini pun juga terbilang cukup banyak, Gaes!

Ketika lo sudah berada di cagar alam ini akan mendapati beraneka flora, seperti anggrek pensil yang dijuluki ‘Ratu Anggrek’, anggrek matahari, kantong semar, plawi, bakung, gelam, dan ambacang rawa.

Ada juga beragam fauna, seperti kera ekor panjang, lutung, burung kutilang, babi hutan, ular piton, serta ikan kebakung dan ikan palau yang merupakan jenis-jenis ikan langka.

Di sini, lo pun bisa memancing, menyusuri danau dengan perahu, bertualang di area cagar alam, atau sekedar menikmati sunrise dan sunset ditemani secangkir kopi atau kelapa muda yang disiapkan oleh para pedagang di sekitar danau.

Terlepas dari banyaknya mitos atau legenda dari Danau Dendam Tak Sudah, gue merekomended jadi salah satu lokasi tujuan untuk wisata alam yang sayang jika dilewatkan ketika lo berlibur ke Bengkulu di weekend ini.

Siapa tahu, lo benar-benar menyaksikan penampakan buaya buntung atau lintah raksasa…

Oups! Jangan lupa, dari tangkapan momen yang tak biasa dan luar biazaaaaa lo itu, pls dong diabadikan dengan ‘jepret-jepret’ menggunakan kamera handphone.

Berikutnya, posting ke akun Instagram lo dengan nge-tag dan mention ke IG @pariwisataindonesiaofficial. Yuk, mampir ke danau ini, Gaes! (Anita)

Pewarta: Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2022

× Hubungi kami