Cagar Budaya di Kampung Wisata Tenun Samarinda (Seri-1)

Nikmati liburan ke Samarinda dalam suasana sedikit berbeda. Berwisata sambil turut melestarikan budaya guna mendorong kearifan lokal khas Kalimantan Timur untuk terus semakin naik kelas meski katanya, tenun tradisional ini sudah terkenal hingga mancanegara.
umi kalsum founder dan ceo pvk group, CAGAR BUDAYA DI KAMPUNG WISATA TENUN SAMARINDA,INDONESIA OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIA'S OFFICIAL TOURISM WEBSITE,MEDIA ONLINE PARIWISATA INDONESIA TERFAVORIT 2020,MEDIA PARIWISATA INDONESIA OFFICIAL,MEDIA PVK GROUP,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,PARIWISATA BERKONSEP PELESTARIAN BUDAYA,PARIWISATA INDONESIA,RUMAH CAGAR BUDAYA KAMPUNG TENUN SAMARINDA,SARUNG SAMARINDA,WEBSITE RESMI PARIWISATA INDONESIA
Rumah Cagar Budaya Kampung Tenun Samarinda / Dok.PPID Kota Samarinda

PariwisataIndonesia.id – Nikmati liburan ke Samarinda dalam suasana sedikit berbeda. Berwisata sambil turut melestarikan budaya mendorong kearifan lokal khas Kalimantan Timur untuk terus semakin naik kelas meski katanya, tenun tradisional ini sudah terkenal hingga mancanegara.

Menelisik sejarahnya, kampung ini sudah ada sejak ratusan tahun silam. Bermula dari kekalahan yang diderita pada peperangan Kerajaan Wajo dan Kerajaan Bone; dan memutuskan hijrah ke Kerajaan Kutai karena tidak mau tunduk kepada pemerintah Hindia Belanda; perjanjian Bungaja antara Kerajaan Gowa dan Belanda sekitar abad ke-16.

Sejarah juga mencatat, tujuan utama para bangsawan Bugis yang hijrah tersebut untuk meminta suaka ke Kerajaan Kutai Kartanegara. Sayangnya, kenyataan berkata lain, perbekalan mereka tidak cukup. Akhirnya, menetap di pesisir Sungai Mahakam.

Seiring waktu, sampailah berita tersebut ke sang raja. Singkatnya, oleh raja Kutai, La Mohang Daeng Mangkona bersama pasukannya yang tengah mengungsi mendapatkan mandat untuk tinggal di wilayah pesisir tersebut.

Itulah, sejarah singkat berdirinya kota Samarinda Seberang yang sekarang sedang kita ulas sebagai “Kampung Wisata Tenun Samarinda”.

Sobat Pariwisata Indonesia, ternyata yang pertama kali mempopulerkan Sarung Samarinda atau produk kriya Samarinda lahir dari tangan penenun Bugis, Sulawesi. Mereka sukses menjadikannya sebagai produk berkualitas tinggi perpaduan motif Bugis, Dayak dan Kutai. Sudah tahu, Sob?

Saat kita berada di kampung wisata ini, pengunjung menemukan Sarung Samarinda atau Tajong Samarinda adalah jenis kain tenunan tradisional yang dibuat bukan memakai mesin tapi menggunakan: Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) atau disebut Gedokan.

Untuk menghasilkan kerajinan tersebut, harus mendatangkan bahan baku sutera asal negeri “Tirai Bambu”, dan selanjutnya masih harus menjalani sejumlah proses agar kuat saat dipintal.

Memperhatikan ciri khas Sarung Samarinda, sarung asli tidak pernah disambung dengan menggunakan mesin jahit.

Inilah istimewanya dan tips membedakan kain yang asli dari yang palsu. Meski begitu, bukan berarti sarung yang terbuat dari mesin atau pabrik walaupun banyak kemiripan lalu dipandang buruk, “No!”

Tema yang kita ulas sekarang, upaya redaksi Pariwisa Indonesia guna mendorong dan mengajak agar pariwisata pun jika dioptimalkan selain untuk pelestarian budaya turut memberikan dampak positif bagi peningkatan status sosial dan ekonomi masyarakat yang ada di kawasan wisata tersebut.

Jangan kaget, tips berikutnya adalah sehelai sarung yang dihasilkan oleh pengrajin, umumnya, berdiameter lebar 80 cm dan panjang 2 meter. Dengan ukuran sarung sebesar itu, pastinya terdapat jahitan sambungan di bagian tengah yang dibuat secara manual menggunakan tangan.

Istimewanya lagi selagi berwisata di sini dan lebih tepatnya, disebut pariwisata dipadukan dengan pelestarian budaya. Bahkan, pengunjung mendapatkan bonus paket edukasi, karena tidak sekedar melihat proses pembuatannya tapi juga diperbolehkan mengasah kemahiran menenun, dan ini wisata yang sungguh menarik.

Wisatawan tak perlu merasa khawatir, karena pengrajin siap membantu kita belajar. Mereka memberikan pendampingan secara telaten dan penuh ramah.

Datanglah pada jam jam kerja. Kita mendapati sejumlah ibu-ibu yang menjadi pengrajin tenun dan membentang sepanjang jalan di kawasan yang mirip permukiman padat.

Sebagian lagi, malah berdiri di atas bangunan semi permanen berbentuk rumah panggung terbuat dari kayu. Sentra industri tenun ini berada tidak jauh dari pusat kota Samarinda.

Selain itu, tak usah heran ketika berwisata mendengar bunyian mendecit yang berasal dari tarikan alat tenun. Riuh suara jahitan menyatu dengan kawasan tersebut.

Diprediksi, hampir semua rumah di perkampungan tersebut memiliki mesin tenun tradisional. Tentunya, menambah kesan seru nih Sob!

Para pengrajin didominasi oleh ibu-ibu usia paruh baya. Mereka memulai lapaknya, sejak pukul 09.00 hingga 15.00 wita.

Ada cerita menarik terkait sentra produsen Sarung Samarinda, karena terdapat salah satu produknya bernama “Sarung Hatta” dan kisahnya bermula ketika Bapak Koperasi Indonesia masih menjabat sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia yang tengah melakukan kunjungan ke kota Samarinda dan menyempatkan datang ke kawasan tersebut.

Kala itu, salah satu pengrajin menyodorkan karyanya berbentuk sarung hitam bermotifkan suku Dayak dan Bung Hatta berminat membeli sebagai buah tangan dari kunjungannya selama di Samarinda.

Si penjual belum terpikirkan untuk memberi nama dari sarung yang diminati oleh Bung Hatta, berkat kedatangan Bung Hatta timbul ide untuk menyematkan nama Bung Hatta. Itulah cerita di balik kisah nama “Sarung Hatta”. (Ims/Eh)

Selanjutnya >>> Cagar Budaya di Kampung Wisata Tenun Samarinda (Seri-2)