Dibalik Megahnya Jempatan Ampera, Ada Nilai Historis

Mega proyek Presiden Soekarno sukses membangun Jembatan Ampera, dan menjadi jembatan termegah dengan tehnologi canggih yang menyertainya itu, juga merupakan jembatan pertama di Indonesia. Jembatan ini tampak perkasa menjulang di atas sungai musi dan sempat menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Kala malam hari, pemandangan Jembatan Ampera semakin indah dan sedap dipandang mata. Menyuguhkan kilau gemerlap dari lampu-lampu yang menghiasi dan memberikan kesan cantik, eksotik dan elegan. Ulasan lengkap Jembatan Ampera, baca dengan klik beritanya ini.
Berita Kemenparekraf, Berita Pariwisata Indonesia, Pariwisata, Histori Jembatan Ampera, Indonesia Tourism, jembatan ampere, Indonesia Jembatan Termegah Pertama di Indonesia, jembatan pertama di Indonesia, Pariwisata Kota Palembang, Situs Pariwisata Indonesia, Website Pariwisata Indonesia, Umi Kalsum Founder PVK dan Media PVK, Ikon Kota Palembang
Dokumen Jembatan Ampera

Jembatan Ampera adalah ikon kota Palembang, ibukota dari provinsi Sumatera Selatan. Kota ini juga dikenal dengan sebutan Bumi Sriwijaya. Nama Bumi Sriwijaya tak bisa dilepaskan dari sejarah masa lalu. Salah satu, kerajaan yang memiliki kekuatan armada laut yang diperhitungkan di jagat Nusantara bernama kerajaan Sriwijaya.

Kemahsyuran kerajaan beragama Budha berasal dari abad ke-7 masehi terletak di tepian sungai musi, Palembang. Dan masa keemasaan Sriwijaya memiliki wilayah kekuasaan meliputi Sumatera Selatan, Pulau Bangka, Lampung, dan Jambi. Sepak terjang kekuatan maritim kerajaan sampai ke wilayah Semenanjung Malaya dan India Timur.

Nama ‘Ampera’ kepanjangan dari Amanat Penderitaan Rakyat. Kehadiran jembatan untuk menghubungkan dua kawasan seberang ilir dan seberang ulu. Keduanya dipisahkan oleh sungai musi. Jembatan ini diresmikan Presiden Soekarno pada 12 November 1965, bertepatan dengan serangkaian peringatan Hari Pahlawan ke 20.

Jembatan yang tampak perkasa menjulang di atas sungai musi dan sempat menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Bentangan Jembatan Ampera memiliki panjang 1117 meter, lebar 22 meter dengan tinggi 63 meter.

Mega proyek Presiden Soekarno sukses membangun Jembatan Ampera, dan menjadi jembatan termegah dengan tehnologi canggih yang menyertainya itu, juga merupakan jembatan pertama di Indonesia. Pembangunan memakai sistem persinyalan yang diatur dari sebuah pos berjarak cukup jauh. Proses pembangunan Jembatan Ampera tergolong cepat.

Pemasangan tiang pancang Jembatan Ampera dilakukan pada 10 April 1962 oleh Presiden Soekarno menargetkan pembangunan akan selesai pada tahun 1964. Namun, baru diresmikan pada 30 September 1965.

Pemerintah dalam membangun jembatan menunjuk Fuji Mobil Manufacturing Co., Ltd sebagai pembuat desain dan konstruksi. Rancang bangun pada bagian tengah bisa terangkat untuk memudahkan kapal besar berukuran 60 meter, tinggi maksimum 44,50 meter lewat hilir mudik mengarungi. Kontruksi jembatan menerapkan sistem hidrolik.

Pengoperasian jembatan dibantu petugas jaga dan dua pemberat yang terletak di bagian sisi kiri dan kanan. Bobot bandul ini, beratnya masing-masing 500 ton. Pergerakan turun naik bentangan jembatan terbuka secara penuh, membutuhkan kecepatan 10 meter per menit (atau butuh 30 menit).

Sementara dalam keadaan normal jika jembatan membentang, tinggi kapal maksimum yang bisa melewati Jembatan Ampera cuma 9 meter dari permukaan air sungai. Namun, tahun 1970 bagian tengah Jembatan Ampera tak bisa seperti dulu lagi. Butuh waktu lama jembatan terbuka dan dianggap mengganggu arus lalu lintas di atasnya.

Faktor lain, sudah tidak ada kapal-kapal berbobot besar lewat hilir mudik di bawah jembatan. Tahun 1990, kedua bandul yang terletak di menara Jembatan Ampera diturunkan dengan alasan faktor keamanan.

Terungkap fakta jembatan kebanggaan masyarakat Palembang, berkat peran dari ayah presiden wanita pertama di Indonesia, atau biasa disapa dengan panggilan “Mbak Mega”, namun ide pembangunan jembatan sudah ada sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda di tahun 1906. Dikatakan Dedi Irwanto Muhammad Santun dalam bukunya di halaman 223, yang bersumber dari kumpulan berita harian nasional kala itu.

Pesan dalam buku itu memberikan makna Bung Karno membangun Palembang adalah membangun Indonesia. Kehadiran Jembatan Ampera tak cuma kebutuhan masyarakat Palembang melainkan seluruh Indonesia.

Peresmian berlangsung pada 12 November 1965, bertepatan dengan serangkaian peringatan Hari Pahlawan ke 20 Indonesia. Ditulis dalam buku, jembatan ini pembawa semangat kepahlawanan bangsa yang diharapkan menjadi simbol pemersatu bangsa.

Melengkapi paripurna sejarah pembangunan Jembatan Ampera dibenarkan sejarawan Palembang, Kemas A.R Panji sebagai tokoh Palembang mengamini dan kerap mengisi tulisan di laman kompasiana.com.

Ayah Presiden Indonesia kelima meresmikan Jembatan Ampera pada bulan November bertepatan hari Pahlawan dan menyempatkan berlayar di sungai musi sekaligus meninjau proyek pembangunan jembatan. Lawatan ini tahun 1960, dan Presiden Soekarno kembali lagi tahun 1962 untuk meresmikan pemancangan tiang pertama Jembatan Ampera.

Fakta lain tentang Jembatan Ampera, jembatan nan cantik ini pernah diremajakan. Tahun 1981, pernah direnovasi untuk memperkokoh bentangan jembatan. Lalu penyebutan jembatan ikon kota Palembang sudah tiga kali berganti nama: Jembatan Musi, Jembatan Soekarno dan Jembatan Ampera.

Berikutnya warna jembatan pun mengalami tiga kali perubahan. Semula warna abu-abu, tahun 1992 warna kuning dan tahun 2002 hingga hari ini berwarna merah.

Kementerian PUPR turut menambah kemolekan Jembatan Ampera dengan melekatkan jam analog seberat 200 kg dan berdiameter 5,5 meter. Jam raksasa ini ditempatkan pada menara jembatan, di wilayah sisi ilir dan ulu.

Kala malam hari, pemandangan Jembatan Ampera semakin indah dan sedap dipandang mata. Menyuguhkan kilau gemerlap dari lampu-lampu yang menghiasi Jembatan Ampera, sungguh eksotik. Tentunya memberikan kesan cantik dan elegan pada jembatan ini.

Banyak wisatawan mengisahkan setelah cekrekcekrek untuk mengabadikan momen bahagia berlatar Jembatan Ampera visual jepretan malam seperti eksotika Venesia di Italia.

Dari atas jembatan, tampak jelas Benteng Kuto Besak masih kokoh berdiri. Jangan heran, jika tiap orang berpendapat, ke Palembang belum lengkap jika belum menyaksikan keindahan Jembatan Ampera.

Follow: @pariwisataindonesiaofficial, #pariwisataindonesiaofficial

Sobat Pariwisata Indonesia ingin komen tentang kemegahan Jembatan Ampera? Tulis saran dan pendapat di kolom komentar yang ada di bawah ini. Mari berbagi cerita, sungguh indah dan cantiknya Indonesia.