Kumpulan Dongeng, Sungai Kawat (Seri 1)

Kumpulan Dongeng, Sungai Kawat (Seri 1)

Keserakahan Sering Membuat Orang Buta Mata dan Hati!

Konon hidup pada zaman dahulu kala di Sintang, Kalimantan Barat, sebuah keluarga miskin. Mereka tinggal di bantaran sungai Kapuas. Kesehariannya berprofesi sebagai nelayan.

Rumahnya beralaskan tanah. Jelas tidak layak.

Zaman itu, belum sebanyak sekarang. Kehidupan yang tinggal di bantaran sungai benar-benar dibawah kemiskinan. Terpencil dan jauh dari perkampungan. Pedalamam sungainya masuk lagi ke pelosok. 

Kasihan nasib sang nelayan ini, sedih!

Perahu untuk mencari ikan bukan kapal modern cuma perahu yang dikayuh. Itupun perahu bekas ayahnya.

Tiap hari cari ikan di sungai, setiap harinya kadang dapat kadang nggak. Nggak selalu bawa hasil.

Ya, begitulah. Jawabannya, kadang-kadang! Kehidupan sang nelayan, begitulah diceritakannya, sedih!

Baca Juga:  Ada Pesan Moral Wisata ke Batu Malin Kundang

Tapi dalam cerita ini, sang nelayan sering pulang nggak bawa hasil.

Sekalipun kehidupan nelayan nggak pernak membaik, tetap aja pergi cari ikan.

Tak ada pekerjaan lain, cuma itu.

Modal yang diwariskan ayahnya saat meninggal, cuma perahu dan gubuk reot yang ditinggalkan. Perahu itulah buat hidupi sehari-hari. Sedih!

Pagi ini, setelah membawa bekal. Berpamitan dengan istri dan anak, barulah nelayan berangkat, seperti biasa cari ikan. Nelayan mulai mendayung perahu menyusuri sungai. Terus begitu sampai jauh. Begitu menemukan tempat yang dirasa cocok, nelayan berhenti mendayung dan mulai memancing.

Pancingnya apa dimakan umpan? Nggak! Karena terbiasa gitu. Sabar terus dan sabar lagi. Namanya nelayan. Sabar!

Nggak terasa masuk siang hari, dilihat pancingan. Dimakan? Nggak! Jangan dimakan, gerak-gerak aja nggak.

Lama sang nelayan menunggu. Nelayan coba geser. Bertepatan jam makan siang, lapar.

Sang nelayan akhirnya memutuskan pindah cari tempat pancing sekaligus makan siang.

Di tempat kedua inipun, pancing sang nelayan diam aja. Lama kali, tak dapat-dapat juga. Sedih nian hidup sang nelayan ini.

Nelayan yang Serakah, Pariwisata Indonesia

Ilustrasi Foto: piqsels

Makan siang bekal sederhana yang dibawanya, selesai.

Ikan belum juga dapat, nggak ada tanda-tanda.

Sampai matahari tergelencir lewati kepala, maksudnya petang. Masih, nggak dapat hasil pancingan.

Dicoba lagi. Sang nelayan mencoba geser. Pindah tempat. Sampai tiga kali geser, hasilnya tetap nihil.

Bayangan akan wajah anak istri kecewa jika dirinya pulang, tangan hampa.

Tiga hari ini pergi cari ikan nggak juga dapat-dapat. Ada rasa bersalah sebagai pemimpin rumah tangga.

Membuat sang nelayan memutuskan terus aja memancing.

Pindah tempat, geser lagi. Dan sekarang, lokasi keempat kalinya.

Bergumam dalam hati sang nelayan, “Mengapa nasibku begini terus ?”, pikir sang nelayan yang mulai melempar lagi pancingnya ke sungai.

Wajahnya yang hitam terlihat sangat berkerut dibawah topi lebarnya. Walaupun usianya belum lanjut, kerasnya hidup membuat sang nelayan terlihat tua. Tetap bersabar menunggu.

Sang nelayan tetap meneguhkan hati untuk menunggu dan menunggu.

Apapun yang terjadi, harus pulang bawa ikan. Tekadnya kuat dan semangatnya membara, tetap bertahan.

“Kapan aku bisa merasa sejahtera sedikit saja dalam hidupku ini ?”, ujarnya dalam hati.

Rupanya sang nelayan bosan dengan kemiskinan yang terus menderanya.

Ketika sang nelayan asyik dengan lamunannya, tiba tiba merasa pancingnya bergerak.

Sang nelayan terkejut, buru buru menarik pancingan.

Namun nggak sadar, kailnya bukan dapat ikan tapi mengait yang lain.

Diangkat, ternyata kail dapat satu gulungan kawat. “Apa, ini?,” Ketika diperhatikan lebih dekat, gulungan kawat mirip-mirip emas.

Warna kawat kuning keemasan menarik perhatian.

Penasaran, ditariknya lagi kuat-kuat. Sampai ke ujung, dipegang, diraba.

Pelan-pelan menerka dan diperhatikan seksama.

Wow, Sang nelayan makin percaya dan yakin kawat ini pasti emas.

Diulangnya sampai tiga kali, dilihat, diraba, dirasakan. diterawang-terawang, “emas!”

Pelan-pelan, “Benar adalah emas.” Sekali lagi sang nelayan mengamati ujung kawat, tangan gemetaran.

Tak bisa berkata-kata, saking gembiranya. Tak mampu menahan gejolak perasaan sangat senang.

Air mata bahagia meledak. Tangis bahagia nelayan miskin karena paham, apa yang dipegang terdampak kehidupan keluarganya pasti berubah. Terbayang kembali wajah anaknya. Senyum bahagia istrinya di rumah.

“Mungkin Tuhan mendengar doaku”, pikir sang nelayan sambil mulai menarik ujung kawat yang dipegang.

Pelan pelan, hati-hati sekali karena tahu itu adalah emas.

Ditarik kawat yang masih dalam sungai. Gulungan pertama sudah diletakkan di atas perahu.

Langit mulai gelap. Setelah menarik hampir semeter, ada suara aneh bergema dari dalam air.

| Klik:  Bersambung Seri-2 |

Saksikan konten kreatif Broo Bagas Malindo dalam video channel Youtubenya, jangan lupa subscribe!

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )