Mengenal Lebih Dekat Suku Dayak

Tarian Suku Dayak, Pariwisata Indonesia, foto gadis dayah, pesona gadis dayak, perempuan dayak, kecantikan gadis dayak, media pvk, umi kalsum

Kali ini redaksi mengajak wisata budaya. Mengenal lebih dekat suku Dayak yang berada di Samarinda, Kalimantan Timur. Yuk, jalan-jalan menelusuri indahnya pesona Indonesia, menjelajah budaya nusantara khususnya Suku Dayak. Let’s go. Cekidot!

Ilustrasi foto postingan netizen di instagram aoihara_, tampak cantik dalam balutan busana adat khas suku Dayak di Desa Pampang. Cantik ya!

Yang paling menarik saat berkunjung ke desa ini, sobat akan ditemui penampakan Rumah Lamin. Dan Rumah Lamin berbentuk panggung, salah satu rumah adat khas suku Dayak. Berikutnya sobat disambut keramahan warga suku Dayak. Jika beruntung, dan rasa bahagianya, makin tiada tara. Sobat bisa berswafoto bersama Kepala Suku. Ditemani berkeliling, mengenal budaya tradisional asli suku dayak. Langsung dari sosok berpengaruh.

Ilustrasi foto postingan netizen di instagram dchy_echy18, tampak cantik dalam balutan busana adat khas suku Dayak. Beruntung dapat berswafoto bersama Kepala Suku di Desa Pampang. Oalah, beruntung sekali.

Terletak di Sungai Siring, Samarinda, di Desa Budaya Pampang. Di desa ini Sobat pariwisata bisa mengenal suku Dayak lebih mendalam. Desa budaya Pampang merupakan pemukiman dayak yang melestarikan budaya asli Borneo, Kalimantan Timur.

Di mana masyarakat Apokayan dan Kenyah sebagai sub suku Dayak yang tinggal di sekitar rumah Lamin. Sobat, pemukiman ini identitas masyarakat suku Dayak, tinggal keseharian dan hidup berdampingan disini. Masyarakatnya berbaur, ramah-ramah. Dan kita merasakan kenyamanan berwisata disini. Silahkan untuk yang mau foto-foto.

Mau gunakan baju adat khas Suku Dayak? Boleh! Tersedia jasa sewa baju tradisional khasnya mereka. Mulai dari sarung, kalung, tombak, baju sapai, topi tampung hingga kalung. Cukup merogoh dengan kocek 50-75ribu per orang. Setelah membayar jasanya. Silahkan berganti kostum. Dan berkeliling. Cari spot-spot foto sesuai selera.

Tralala, sobat sudah mirip keseharian mereka. Jepretan foto menggunakan pakaian suku Dayak tadi, buruan posting ke media sosial dan tunggu komen teman-teman kamu sobat, pasti seru! Hal unik lain bisa sobat temui, penduduk desanya masih setia mempertahankan aturan adat. Terlihat dari cara berpakaian dan aksesoris di badan. Nggak cuma penduduk pria, penduduk perempuan pun begitu.

Jangan terkaget bila melihat perempuan usia mendekati uzur, telinganya panjang-panjang. Disini kita masih bisa melihat tradisi warisan telinga panjang asli suku dayak dan Puy (Nenek) Lam salah satunya. Istimewa, budaya yang unik, tradisi memanjangkan telinga. Mereka meyakini, memanjangkan telinga adalah makin cantik. Masyarakatnya masih kuat, memegang tradisi Mucuk Penikng, telinga yang memanjang.

Ilustrasi foto dari postingan instagram@kaltimbungas, tampak cantik dalam balutan busana adat khas suku Dayak. Tampil dalam jepretan foto bersama tokoh masyarakat yang masih menjunjung tinggi tradisi telinga panjang. Tralala, ini keseharian di Desa Pampang. Dua generasi dalam satu jepretan foto.

https://www.instagram.com/p/B5h5RmDg0g6/

Dan itu dilakukan sejak lahir. Memanjangkan telinga, caranya menggunakan gelang logam, atau gasing berukuran kecil. Pemberat logam menggantung, sentimeter demi sentimeter telinga bisa bertambah panjang.

Sobat, telinga panjang cerminan identitas. Makin panjang telinga, umur pemilik telinga makin sepuh. Bobot manik-manik yang dilekatkan terjadi sejak bayi, setelah kelahiran sudah melaksanakan tradisi ini. Tentunya manik-manik yang menempel di telinga, jumlahnya terus bertambah sesuai umur.

Ilustrasi foto, dua generasi dalam satu jepretan. Tampak dalam unggahan di instagram@henhenhenhens.

Selain memanjangkan telinga, kaum pria suku Dayak mengikat kaki mereka di bawah lutut dengan tali. Dan para pria disini kebanyakan membuat tato di badan. Bentuk tato bermotif tanaman dan sebagaian lagi bercorak mirip hewan. Tato yang makin beragam menunjukan ia punya pengaruh dan status sosial makin tinggi.

Untuk bisa menikmati interaksi bersama masyarakat desa Pampang, sobat merogoh kocek Rp. 15.000, dibayarkan pertama kali membeli tiket masuk. Jika sobat mengabadikan momen wisata budaya disini, sobat harus membayar lagi, kamera dikenakan restribusi Rp. 50.000,- per kamera, tambahan kamera kedua dan seterusnya cuma Rp. 25.000,- (restribusi kamera tambahan). Sobat pariwisata mau berfoto bersama penduduk setempat, jangan lupa siapkan tips ya!

Foto-foto berikutnya, dari postingan netizen di instagram@myririz, @dchy_echy18, @asparranca, @citra_makkia, dan @sintaelyy8. Yuk bangga sebagai anak bangsa mari mengenal budaya suku Dayak.

Berlibur berkonsep wisata budaya ke Desa Pampang, sobat nggak usah kecewa dengan biaya-biaya tadi. Mari bangga dengan budaya sendiri. Kita harus mendukung pariwisata lokal berkonsep kebudayaan dan adat istiadat. Lagi pun, sobat nggak perlu adventure jauh ke pedalaman Kalimantan untuk menemukan budaya suku Dayak yang masih otentik. Disini visual dan keseharian mereka lengkap mewakili. Wajarlah, sekaligus membantu biaya pemeliharaan dan ikut mendukung kemajuan pariwisata disini.

Satu lagi sobat, jika berkunjung di hari Minggu, dan hari-hari libur nasional. Sobat akan menemukan pentas seni tradisional yang diadakan disini. Menampilkan pertunjukan tarian dan semua terasa lengkap, apalagi pas ada kunjungan tamu kehormatan. Bonus sobat, makin-makin.

Sebelum pulang, jangan lupa membeli oleh-oleh khas suku Dayak, seperti gelang, kalung dan manik-manik maupun aksesoris lain sebagai souvenir untuk dibagikan pada keluarga, teman-teman dan kerabat. Wisatawan biasanya membeli pernak pernik khasnya suku Dayak, seperti gelang, kalung, tas hingga topi dan pakaian tradisional untuk cendera mata.

Para pengerajin pernak-pernik yang dijajakan, mereka adalah warga dari Desa Pampang. Merakit manik-manik secara manual, mirip jahitan payet. Warnanya warna-warni, ngejreng khasnya suku Dayak. Setelah wisata budaya, bagus juga buru wisata kulinernya. Jangan lupa cicipi kuliner khas Kota Samarinda. Nggak lengkap rasanya jika belum ke Kota Samarinda, belum mencoba kuliner disini.

Sobat cobain amplang atau kuku macan. Amplang terbuat dari ikan tengiri, daging, bumbu-bumbu, bawang putih, dan telur. Kuliner lainnya yang wajib untuk sobat makan adalah ikan aruan, abon ikan, kemiting, dan juga ilat sapi. Cobain ya!

Sobat kunjungi Desa Pampang, mobil nggak bisa masuk, cuma bisa motor. Untuk bus dan mobil travel berukuran sedang silahkan parkir di depan gapura. Tidak bayar, nggak dipungut biaya parkir. Semua termasuk dalam biaya tiket masuk. Setelah selesai berwisata, sobat akan mengenal lebih dalam budaya Suku Dayak. Tarian, budaya-budaya khasnya, rumah adat, dan ritual suku Dayak. Mereka bertahan dalam pemukiman dan hidup berkelompok membentuk komunitas masyarakat suku Dayak. Semua disuguhkan dalam satu tempat kunjungan.

Mari berwisata ke Desa Budaya Pampang, mengenal lebih dekat suku Dayak. Sobat dijamin punya kesan kagum. Wisatawan yang berkunjung pasti puas dan kebanyakan bahagia. Rasa bangga dan tentu wisata budaya ini semakin menumbuhkan rasa cinta tanah air. Indonesia sangat kaya dengan budaya, adat istiadat dan alamnya cantik nan memesona. Negara kita adalah terdiri dari banyak kepulauan. Dan tiap pulaunya, wow, sungguh luar biasa.

Banyaknya pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke melahirkan kebudayaan yang kaya dan beragam. Inilah Kebhinnekaan dan manifestasi dari kebudayaan warisan leluhur kita dulu. Juga termasuk tarian daerah, lagu daerah, rumah adatnya hingga pakaian adat. Salah satunya mengenal Suku Dayak di Desa Pampang.

Mengenalkan budaya lokal sejak dini, di era globalisasi, cara efektif tangkal perilaku yang kurang pantas ditiru anak cucu kita kelak. Indonesia negri yang punya norma-norma ketimuran dan budaya adat melekat sebagai jati diri bangsa. Siapa yang bisa menyaring berbagai budaya luar? Tokoh hero dan kebudayaan bangsa ini, apakah tergerus dimakan zaman?

Kalau bukan generasi mudanya mencintai kebudayaan, kesenian dan tarian negerinya sendiri, lalu siapa lagi yang mewarisi semua ini kelak? Kita harus melestarikan secara bersama agar tetap ada dan tidak hilang dimakan zaman. Indonesia masih perlu perbaikan khususnya mengembangkan potensi pariwisata di sektor budaya. Bangsa yang besar, bangsa yang harus bisa menghargai warisan nenek moyangnya sendiri.

(Bahrul/Kusmanto)