Gunung Tambora Indah Memesona dan Pernah Murka!

Gunung Tambora Indah Memesona dan Pernah Murka!

Sejarah mencatat meletus hebat, sangat super mega star

Redaksi Pariwisata Indonesia mengulas dalam dua seri bersambung. Pesona Gunung Tambora (atau Tomboro) terletak di pulau Sumbawa di Indonesia, cantik menawan dan memesona tapi dia pernah murka. Lokasinya berada di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Posisinya, Gunung ini terletak di dua kabupaten. Saking gede alaihim. Ada di Kabupaten Dompu wilayahnya lereng bagian barat dan Selatan. Dan Kabupaten Bima mencakup wilayah lereng bagian timur dan utara. Gunung Tambora ada di Kabupaten Bima dan dan Kabupaten Dompu, gede banget!

Netizen satu ini, kehabisan kata-kata sampai di puncak. Kepoin aja langsung instgaram@backpackerbulat, yuk!

Adalah sebuah gunung api strato aktif. Pernah meletus dan menggoncang dunia. Letusan terjadi super mega heboh pada 10 April 1815. Letusan diikuti kepulan tinggi mengangkasa. Daya letusnya terus begitu, dalam letusan-letusan freatik kecil diprediksi lamanya enam bulan sampai tiga tahun. Akibat letusan Gunung Tambora iklim Global terdampak. Memicu perubahan iklim secara berkepanjangan. Tsunami pun disebutkan terjadi. Terjadi pendinginan global dan kegagalan panen pada tahun berikutnya di seluruh dunia. Iklim Global jadi tidak menentu. Gunung Tambora terbentuk akibat zona subduksi aktif di bawahnya. Dulu, ketinggian Gunung Tambora mencapai sekitar 4.300 m. Ketinggian ini menjelaskan Gunung Tambora adalah Gunung paling tertinggi dan terbesar saat itu diantara puncak gunung tertinggi di Indonesia yang lain.

PsariwisataIndonesia-Citra-warna-semu-Gunung-Tambora-diambil-dari-Pesawat-ulang-alik-Endeavour-13-Mei-1992-

Foto: Citra warna semu Gunung Tambora diambil dari Pesawat ulang alik Endeavour pada 13 Mei 1992

Letusan Tambora 1815 adalah salah satu letusan gunung berapi yang paling kuat. Sejarah menuliskan peristiwa daya letusan sangat super mega star. Ilmuan menyebutkan peristiwa murka diberi kode VEI-7. Daya ledak letusnya hampir mendakati skala letusan Gunung Toba, tapi Gunung Toba tidak sedahsyat ini. Dampaknya Gunung Tambora akibatkan samudera jadi sangat dingin. Area ledakan mematikan kehidupan. Miliaran juta ton asam belerang terhempas ke udara, dunia jadi gelap total. Dilansir dari iflscience.com, karakteristik gunung api super ini miliki kawah yang besar, sumber magma luas, dan ledakannya dihitung dalam skala Volcanic Explosivity Index (VEI) bukan skala Richter. Skala VEI terdiri dari skala 1 sampai 8. Skala 1 kecil, skala 4 besar, sampai skala 8 tak terbayangkan betapa besar ledakannya.

View this post on Instagram

Sepanjang apapun jalanan waktu, Kau ialah jauh yg rela kutempuh.Tidak ada yg sia-sia dari sebuah doa. Dan tidak ada juga sebuah usaha yg sia-sia selama masih berusaha. Kita tidak tahu doa yg mana menembus langit, maka dari itu teruslah berdoa. Tambora salah satu gunung yg sangat Istimewa bagiku dengan pesona kalderanya. Dengan jalur & tracknya aduhai barbar. Terima kasih telapak sejauh ini.🙌 Lembo Ade~ 171119 ° ° ° ° ° ° ° °➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖ 🌋 Gn.Tambora 2851 mdpl 📌 Jalur pancasila 📍 NTB, Indonesia #exploregunung #pesonagunung #gunungindonesia #gunungtambora #likeforlikes #instagunung #pendakicantik #pendaki_id #pendakikusam_ #nafas_pendaki #lfl💛 #katapendaki #pendakiphotograper #pendakikeren #explorependaki #ceritapendaki #pendakicupu #wajahpendaki #wanitapendaki #sahabatgunung #pendakikece #lfl

A post shared by BUTET👋 (@noveraritonang__) on

Suara letusan terdengar hingga pulau Sumatra, jaraknya lebih dari 2.000 km ke barat. Hujan abu vulkanis terjadi di Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Maluku. Letusan tersebut menelan korban jiwa sedikitnya 71.000 orang dengan 11.000—12.000 di antaranya merupakan korban langsung dari letusan.Kelompok peniliti arkeolog, pada sebuah ekskavasi tahun 2004 menemukan di wilayah Gunung Tambora, ada kebudayaan dan terkubur 3 meter di bawah endapan piroklastik, (dampak dari letusan Gunung Tambora di tahun 1815). Hasil temuan ini oleh mereka diberi nama sebagai Pompeii dari Timur, karena kemiripan dengan Kota Pompeii di Italia yang terkubur material letusan vulkanik.

Pariwisata Indonesia, Kaldera Gunung Tambora

Foto Instagram montside

Geografis

Gunung Tambora terletak di Pulau Sumbawa. Dan bagian dari kepulauan Nusa Tenggara. Gunung ini adalah bagian dari busur Sunda, tali dari kepulauan vulkanik yang membentuk rantai selatan kepulauan Indonesia. Tambora membentuk semenanjungnya sendiri di pulau Sumbawa yang disebut semenanjung Sanggar. Di sisi utara semenanjung tersebut, terdapat laut Flores, dan di sebelah selatan terdapat teluk Saleh dengan panjang 86 km dan lebar 36 km. Pada mulut teluk Saleh, terdapat pulau kecil yang disebut Mojo.

Selain seismologis dan vulkanologis yang mengamati aktivitas gunung tersebut, gunung Tambora adalah daerah riset ilmiah arkeolog dan biologi. Gunung ini menarik wisatawan untuk mendaki gunung dan aktivitas margasatwa. Dompu dan Bima adalah kota yang letaknya paling dekat dengan gunung ini. Di lereng gunung Tambora, terdapat beberapa desa. Di sebelah timur terdapat desa Sanggar. Di sebelah barat laut, terdapat desa Doro Peti dan desa Pesanggrahan. Di sebelah barat, terdapat desa Calabai.

Buat pecinta gunung, foto ini biar obati kerinduannya. Kepoin aja instagram@andri_irawan439, yuk!

Kapan penduduk tinggal dan kehadiran masyarakat di gunung Tambora pasca meletus? Tahun 1907. Ditandai dari banyaknya pekerja tani lakukan penanaman kopi disini. Sampai tahun 1930-an di lereng bagian barat laut gunung Tambora, di desa Pekat dipenuhi tanaman kopi. Hutan hujan atau yang disebut Duabangga moluccana telah tumbuh subur dengan ketinggian 1.000-2.800 m. Area penanaman mencakupi daerah seluas 80.000 hektare (800 km²). Jawaban ini berdasar data yang diungkap tim Belanda, dipimpin oleh Koster dan De Voogd tahun 1933. Ia menyebutkan ada hutan hujan di Gunung Tambora.

(Tim memulai misi dengan melakukan perjalanan kaki sampai ke puncak. Perjalanan dimulai dari lokasi yang terdampak akibat letusan menyebatkan daerahnya jadi tandus, kering dan panas. Saat itu, terus dilakukan sampai ke puncak, dalam misi ini tim terpaksa memasuki hutan lebat dan raksasa. Hutan yang besar dan megah), hasil temuan menyebutkan:

  1. Pada ketinggian 1.100 m, ditemukan hutan montane.
  2. Pada ketinggian 1.800 m, ditemukan Dodonaea viscosa, tumbuhan yang hidup disini didominasi oleh pohon Casuarina.
  3. Dan di puncak Gunung Tambora, tersebut dalam laporan yang ditulis, ditemukan baru tumbuh, sedang semerbak subur Anaphalis viscida dan Wahlenbergia.

Gelombang penelitian berikutnya hadir ke Gunung Tambora (tahun 1896), tim kedua mengungkapkan ada 56 spesies burung, termasuk Crested White-eye. Dan 12 spesies lainnya ditemukan pada tahun 1981. Beberapa penelitian ahli ilmu hewan menemukan spesies burung lain yang hidup di gunung. Peneliti mencatat sudah ditemukan lebih dari 90 spesies burung. Kakatua-kecil Jambul-kuning, Murai Asia, Tiong Emas, Ayam hutan Hijau dan Perkici Pelangi. Tetapi sayangnya, hewan-hewan ini diburu untuk dijual dan dipelihara oleh penduduk setempat. Gosong berkaki-jingga diburu untuk dimakan. Eksploitasi burung menyebabkan berkurangnya populasi burung. Yellow-crested Cockatoo juga hampir punah, disebut dalam laporannya.

Badan resmi kelola Taman Nasional Gunung Tambora dalam instagram@tamboranationpark.

Pada tahun 1972, perusahaan penebangan komersial beroperasi. Tentu saja menyebabkan ancaman terhadap hutan hujan. Perusahaan penebang kantongi izin hak lakukan penebangan kayu. Area tebas pohon seluas 20.000 hektare (200 km²), atau 25% dari jumlah luas daerah Gunung Tambora. Pada sisi lain, di bagian hutan hujan lainnya digunakan buat berburu. Pada tahun 1972, disebutkan oleh tim, dalam temuan juga memberikan informasi bahwa di antara tanah berburu dan tanah penebangan, terdapat cagar alam. Jadi diantara kedua lahan tadi, ditengahnya adalah cagar alam. Disini hiduplah rusa, kerbau, babi hutan, kelelawar, rubah terbang, dan berbagai spesies reptil  maupun lebih dari 90 spesies burung berkembang hidup.

Bersambung, Lanjutkan ke | ( Klik! )

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )