Itak Pohul-pohul

Kue Kepalan Tangan dari Tapanuli
foto: Instagram @r.rosanna_siregar

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, Sumatera Utara tidak hanya kaya akan budaya dan kesenian. Provinsi yang terkenal akan Danau Toba-nya ini juga memiliki beragam hidangan yang layak dicoba. Salah satunya adalah Itak Pohul-pohul, kuliner yang berasal dari beberapa daerah di Sumatera Utara, seperti Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, dan Padang Sidempuan.

Pariwisata Indonesia
foto: idntimes, com

Itak Pohul-pohul berasal dari Bahasa Mandailing. Itak berarti kue dan pohul artinya genggaman atau kepalan tangan. Dari penampilannya, kue ini memang terlihat bekas kepalan tangan dari pembuatnya. Konon, pada zaman dahulu, Itak Pohul-pohul adalah makanan para raja.

Itak Pohul-pohul biasanya dijadikan salah satu buah tangan dalam acara Marhusip. Acara tersebut merupakan pertemuan paranak (calon keluarga mempelai laki-laki) dan parboru (calon keluarga mempelai perempuan) untuk melakukan musyawarah adat persiapan penikahan.

Menyajikan Itak Pohul-pohul dalam marhusip memiliki makna filosofis tersendiri. Kuliner yang dibuat dengan cara digenggam hingga menghasilkan kue yang keras dan tidak mudah hancur, menjadi perlambang bahwa segala perdebatan dalam marhusip semata-mata dilakukan untuk menghasilkan keputusan yang sangat kuat.

Menurut TM. Sihombing (1977), keadaan marhusip ini disebut seperti “purpe pande dorpi jumadihon tu rapotna” yang artinya seperti tukang kayu yang sedang mengerjakan dinding menimbulkan suara gaduh dan ribut untuk menghasilkan dinding papan yang kokoh, rapat, dan kuat.

Selain itu, lima kepalan tangan yang tercetak dalam Itak Pohul-pohul juga menyimbolkan hatihasilima (lima waktu penting dalam budaya Batak), yaitu poltak mata niari (saat matahari terbit), pangului (pagi hari), hos ari (tengah hari), giling ari (jelang sore), dan bot ari (matahari terbenam).

Calon mempelai laki-laki maupun perempuan diharapkan terus mengingat kesepakatan yang telah diambil dalam marhusip dan saling bahu-membahu dalam persiapan pernikahan. Selain itu, cetakan kepalan tangan dalam Itak Pohul-pohul juga menyimbolkan genggaman tangan yang berarti keputusan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak keluarga.

Itak Pohul-pohul terbuat dari tepung beras, kelapa parut, gula aren yang disisir, dan garam. Selain menghasilkan cita rasa manis dan gurih, keempat bahan tersebut memiliki makna tersendiri. Tepung beras yang berwarna putih melambangkan bahwa pembuat dan pengantarnya memiliki hati dan niat yang bersih. Parutan kelapa menyimbolkan kebermanfaat yang diharapkan dapat diberikan oleh setiap manusia.

Rasa manis dari gula aren melambangkan keharmonisan hubungan kekerabatan dan persaudaraan. Serta garam menyimbolkan berbagai hal yang harus siap dihadapi saat menjalani kehidupan.

Keempat bahan tersebut lalu dicampur dengan sedikit air matang, kemudian dikepal-kepal hingga padat. Kuliner ini dapat disajikan dalam dua cara. Pertama, disajikan mentah dengan menambahkan butiran beras merah dan santan kental. Kedua, disajikan matang dengan dikukus terlebih dahulu.

Di masa sekarang, Itak Pohul-pohul tidak hanya disajikan terbatas dalam acara marhusip. Kuliner ini bisa didapatkan dalam berbagai kesempatan, seperti saat seorang anak lahir, saat ritual memasuki rumah baru, hingga menjadi jajanan di pasar tradisional dan kedai kopi.

Pada tahun 2018, Itak Pohul-pohul ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Sumatera Utara.(Nita)